oleh

Keajaiban Yang Tak Disadari Pengunjung Asta Gurang Garing Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Asta Gurang Garing adalah nama pesarean (makam) yang sudah tidak asing bagi masyarakat Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Lokasinya dekat dengan wisata Pantai Lombang atau ke arah timur. Mudah dijangkau dan masih berada di wilayah Desa Lombang, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep.

Santri dan masyarakat umum banyak mendatangi pesarean tersebut. Di pesarean ini terdapat makam ulama besar penyebar agama Islam dimasa adipati pertama Sumenep, Arya Wiraraja yang dilantik tanggal 31 Oktober 1269, sekaligus dijadikan hari jadi Sumenep.

Penyebutan Gurang Garing tidak lepas dari nama benda yang ada di Keraton Sumenep masa itu. Yakni, gentong raksasa (gentong besar/ tempat air) dalam kondisi kering (besar dan kering/ gurang garing).

Konon, Syekh Mahfudz mendapat titah untuk menjabat sebagai hakim kerajaan ketika menyebarkan Islam di wilayah Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Sumenep.

Namun, Syekh Mahfudz tetap memilih ingin bersama santri-santrinya untuk berdakwa, maka penawaran menjadi hakim kerajaan pun ditolak dengan cara halus.

Sang raja marah dan meminta Syekh Mahfudz untuk mengisi air gentong raksasa yang kering (gurang garing). Dengan izin Allah, hujan terjadi dan hanya mengisi gentong raksasa tersebut hingga meluap.

Atas kejadian ini pihak kerajaan merasa aneh dan sang raja menyebutkan kalimat ‘lambi cabih’ (bibir pedas). Artinya, doa-doa Syekh Mahfudz mustajab atau cepat terkabul.

Penyebutan Lambi Cabi tersebut juga dijadikan nama tempat penyebaran agama Islam pertama Syekh Mahfudz. Nama Lambi Cabi di wilayah Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Sumenep juga dikenal sampai saat ini oleh warga Sumenep.

Pindah Tempat

Syekh Mahfudz bersama santri dan pengikutnya memutuskan pindah tempat. Ia memilih menyebarkan Islam di wilayah Desa Lombang, Kecamatan Batang-batang, Sumenep yang saat ini menjadi pemakaman dengan sebutan Gurang Garing.

Dalam catatan mahasiswa UTM, Eva Susanti dalam blognya disebutkan, penyebaran agama Islam di wilayah Desa Lombang mendapat tantangan besar. Warga banyak yang menentang hingga menguras tenaga Syekh Mahfudz dan terus berdoa.

Penyakit muntaber mewabah di daerah itu. Banyak warga yang meninggal dunia. Bahkan, santri dan pengikutnya juga diserang penyakit muntaber. Lahan seluas 1.000 m2 habis hanya untuk pemakaman. Syekh Mahfudz juga dimakamkan di lokasi ini.

Tumbuh Pohon Bidara Tak Berduri

Bagi para ahli ruqyah, tentu sangat mengenal dengan pohon bidara. Warga Sumenep menyebut ‘Bukkol‘. Bangsa Arab menyebut dengan ‘Sidr’. Ini merujuk pada Alquran surat Assaba ayat 16 dan surat Alwaqiah ayat 28.

Tak jauh dari pesarean Syekh Mahfudz tumbuh sebuah pohon bidara tak berduri. Pohonnya cukup besar dan tidak semua pengunjung menyadari jika pohon bidara itu tidak berduri.

Tepat diselatannya makam Syekh Mahfudz tumbuh pohon bidara. Sejumlah pengunjung ada yang mengambil daunnya untuk pengobatan. Ada pula yang mengambil buahnya dan dimakan. Tidak ada larangan untuk mengambil daun maupun buahnya.

Pada musim penghujan, banyak tumbuh pohon bidara yang dapat dijadikan bibit. Namun, tidak ada jaminan menjadi pohon bidara yang tidak berduri seperti induknya.(berbagai sumber)

Penulis : Hartono
Editor : Putri Kuzaifah
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE