oleh

Kebijakan Impor Jagung Dipastikan Tak Pengaruhi Petani di Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Pemerintah Republik Indonesia memutuskan untuk melakukan impor jagung pada akhir tahun 2018 ini guna menjaga stabilitas kebutuhan pakan ternak nasional. Namun, hal itu dipastikan tidak akan berpengaruh pada petani jagung di kabupaten ujung timur Pulau Garam ini.

“Petani jagung di Sumenep ini tidak akan terpengaruh oleh kebijakan pemerintah terkait impor jagung. Karena, petani di Sumenep ini sudah mandiri,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Sumenep, Bambang Heriyanto, Rabu (21/11/2018).

Keputusan Pemerintah mengimpor jagung pakan ternak sebanyak 50 ribu hingga 100 ribu ton akhir tahun 2018 untuk menjaga kebutuhan para peternak mandiri. Kendati demikian, 60 persen petani di Bumi Sumekar ini mengunggulkan jagung lokal dengan varietas tersendiri yang tersebar di Kecamatan Manding, Talango, dan Guluk-Guluk.

“Dengan kualitas jagung lokal ini, para petani di Sumenep akan tetap kuat dan bertahan,” ucapnya.

Di sisi lain, lanjutnya, lahan area jagung di Sumenep terluas di Indonesia mencapai 117.125 hektare tersebar di 27 kecamatan baik daratan maupun kepulauan dengan tingkat produktivitas mencapai 2 hingga 3 ton per hektare.

“Dari lahan produktif yang ada di Sumenep, hasil produksi jagung mencapai 234.250 ton hingga 351.375 ton per hektare,” paparnya.

Petani dihimbau agar tidak resah dengan kebijakan impor jagung yang dilakukan pemerintah, sebab keputusan tersebut tidak akan berdampak buruk terhadap petani lokal, apalagi impor jagung untuk jenis hibrida.

“Kami terus berupaya menambah luas lahan untuk tanam padi, jagung, dan kedelai dengan memanfaatkan lahan kering demi meningkatkan produksi,” tukasnya. (Arifin/Putri)