oleh

Kenali 10 Tipe Anak yang Perlu Jalani Play Therapy

PortalMadura.Com – Bermain menjadi suatu hal yang sangat disukai oleh anak-anak. Di samping karena memang membuat mereka senang dan memuaskan, dengan bermain ia juga bisa belajar banyak hal.

Tidak hanya itu, bermain juga memiliki manfaat baik bagi tumbuh kembang anak. Itulah kenapa bermain juga bisa dijadikan sebagai perawatan untuk anak berkebutuhan khusus. Metode ini dikenal dengan terapi bermain (play therapy).

Tapi, anak-anak dengan kondisi apa saja yang disarankan mengikuti terapi ini?. Berikut penjelasannya:

Manfaat Terapi Bermain untuk Anak
Anak berkebutuhan khusus umumnya mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas yang bisa dilakukan anak lain dengan mudah. Namun, kondisi ini tidak jadi penghalang bagi anak untuk bisa beraktivtas dan berinteraksi dengan teman-teman seusianya.

Untuk mengatasinya, biasanya dokter anak, dokter spesialis kejiwaan anak, atau psikolog akan merekomendasikan terapi bermain atau play therapy. Ada banyak manfaat play therapy untuk anak, antara lain:

a. Mengembangkan rasa percaya diri anak pada kemampuannya
b. Menumbuhkan empati, rasa hormat, dan menghargai orang lain
c. Meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan diri dan keterampilan sosial
d. Belajar untuk mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat
e. Mengasah kemampuan untuk memecahkan masalah lebih baik
f. Melatih anak untuk bertanggung jawab atas perilakunya

Baca Juga : Bunda, Ini 5 Manfaat Bermain Bagi Anak

Seperti namanya, terapi dilakukan dengan berbagai permainan anak, mulai dari bermain boneka, menyusun balok, menggambar, mewarnai, bermain alat musik, dan permainan lainnya.

Anak-anak yang Direkomendasikan untuk Ikut Terapi Ini
Play therapy sering digunakan sebagai perawatan anak-anak yang merasa tertekan, hidupnya penuh stres, atau memiliki kondisi medis tertentu. Anak-anak yang membutuhkan terapi ini, meliputi:

1. Anak-anak yang ditelantarkan orang tua
2. Anak yang orang tuanya bercerai dan hidup terpisah.
3. Memiliki penyakit kronis, gangguan kecemasan, penyakit ADHD, stres, atau depresi.
4. Anak yang cacat akibat luka bakar, penyintas kecelakaan, dan/atau memiliki cacat bawaan lahir, seperti tuli, buta, atau bisu.
5. Mengalami gangguan belajar seperti disleksia.
6. Anak yang prestasi akademisnya buruk karena satu dan lain hal.
7. Anak yang mengalami trauma akibat kecelakaan, kekerasan dalam rumah tangga, korban bencana alam, atau korban kekerasan seksual.
8. Mengalami kesedihan atau kecenderungan depresi setelah ditinggal orang yang disayanginya.
9. Anak yang memiliki fobia dan menarik diri dari dunia luar.
10. Anak yang cenderung bersikap agresif, susah diatur, dan sulit mengendalikan emosi.


Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : hellosehat.com

Komentar