oleh

Kepala Madrasah, Remas Bagian Sensitif Guru Wanita Cantik

PortalMadura.Com, Sumenep – SM (20), salah seorang guru wanita Madrasah swasta di Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menjadi korban pencabulan oleh kepala sekolahnya (Kepsek) atau Kepala Madrasah (Kamad) sendiri saat mengikuti pelatihan kader Pos pelayanan terpadu (Posyandu) di Malang.

Guru wanita berparas cantik dan masih tercatat sebagai mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Sumenep itu, terperangah begitu tangan kepala sekolah yang dikenalnya alim, menjamah bagian sensitif tubuhnya.

Spontan wanita yang masih single ini, berteriak dan berusaha melepaskan tangan kepala sekolahnya yang berusaha meremas bagian tubuh sensetifnya. Bu guru cantik berusaha lari dan masuk kamar hotel yang berjarak 20 meter dari tempat ia bersama orang yang selama ini dihormati.

“Saya tidak menduga jika kepala sekolahku akan berbuat tidak sopan, karena orangnya baik dan dikenal sangat menghormati para guru,” kata SM (20).

Awalnya, kepala sekolah Madrasah yang dikenal alim ini, meminta Bu guru cantik keluar dari kamarnya dan menemuinya disebuah tempat tamu hotel yang kala itu sepi dan hanya terdengar bunyi air terjun buatan dari kolam hotel, dengan alasan ada yang mau di bicarakan.

Rupanya pesan yang dikirim kepala sekolah melalui Blackberry Messenger (BBM) pada bu guru, langsung dibaca dan korban langsung mendatangi tempat yang ditentukan Kepseknya.

Belum sempat korban duduk didekat kepala sekolahnya, tiba-tiba tangan kepsek meraba pinggulnya. Spontan korban bangkit dan hendak berlari ke kamarnya, namun tangan kepala sekolah sudah terlebih dulu meremas payudaranya.

Peristiwa tersebut dialami SM pada hari kedua pelatihan yakni tanggal 27 Agustus 2014 sebelum acara dimulai. “Saya masih trauma dengan kejadian itu, mas,” katanya pada PortalMadura sambil mengelus dada.

Meski ia tidak berniat untuk melaporkan pencabulan yang dialami pada penegak hukum, namun ia berharap peristiwa tersebut tidak terjadi lagi.

“Siapa lagi yang harus menjaga moral, jika bukan guru. Kalau sudah kepala sekolahnya tidak bermoral, bagaimana siswanya,” katanya sambil meminta mengakhiri wawncara.(dien/htn)



Komentar