PortalMadura.com

Kontroversi Full Day School: Kecemburuan Politik Vs Pengukuhan Pendidikan Karakter

  • Minggu, 13 Agustus 2017 | 21:50
Kontroversi Full Day School: Kecemburuan Politik Vs Pengukuhan Pendidikan Karakter
Ist. Abd Gafur
Loading...

PortalMadura.Com – Melihat sosial media beberapa hari ini, saya tergelitik dengan status FB sebagian orang. Mulai dari mereka yang menjadi guru, politisi, aktivis organisasi dan kepemudaan ormas, mahasiswa, hingga pemerhati pendidikan, ada yang setuju dengan akan diterapkannya Full Day School (FDS). Namun, tidak sedikit juga yang tidak setuju.

Sebagai pelajar, saya tidak menyalahkan mereka. Baik yang setuju ataupun yang tidak. Karena , penulis yakin, mereka memilki paradigma sesuai referensi -analisis fakta maupun analisis literasi- atau cara pandang tersendiri.

Agar tidak mudah menyalahkan atau membenarkan, mari kita sejenak tengok tujuan dari “akan dilaksanakannya FDS ini“. Dimana, secara sederhana, sebagaimana disampaikan oleh Bapak Muhadjir Efendi bebebrapa waktu lalu, bahwa tujuan wacana FDS ini adalah untuk mengisi pendidikan satu hari penuh kepada anak didik (SD dan SMP). Dengan diterapkannya FDS, maka anak didik akan berada di lingkungan sekolah selama satu hari atau sampai pukul 17;00. Selain itu, dengan FDS, maka anak didik bisa terhindar dari pengaruh tawuran dan narkoba. Namun, bagi sebagian orang FDS bukanlah solusi bagi pencegahan anak didik agar tidak terpengaruh dari dua hal di atas.

Benarkah FDS melahirkan Kecemburuan politik?

Awal munculnya wacana FDS memang menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Baik politisi hingga praktisi pendidikan. Bahkan, dari kontroversi tersebut secara perlahan menjadi opini publik. Dari yang tidak setuju, sebagian beralasan bahwa dengan diterapkannya FDS, maka Madrasah Diniyah (Madin ) akan terabaikan. Tapi ada juga yang berargument, dengan adanya FDS, maka waktu kebersamaan anak dan orang tua berkurang.

Baca Juga:  Ke Padang, Madura United Berkekuatan 16 Pemain

Kalau mengingat tujuan FDS, sejatinya tidak ada bahasa untuk mengabaikan Madin atau bahkan mengurangi waktu kebersamaan anak dan keluarga. Akan tetapi, jika kita tarik sedikit dan berpikir tentang orang tua yang bekerja baik di kantor maupun persawahan, rata-rata mereka pulang sore hari, bahkan malam hari. Jadi, FDS tidak sama sekali mengganggu bahkan mengurangi kebersamaan anak dan orang tua. Karena orang tua mereka pada jam ia sekolah, mereka juga bekerja.

Soal Madin, memang dengan FDS Madin akan sepi dari anak sekolah. Pada umumnya, anak SD dan SMP notabene masih -sebagian-sekolah di Madin pada sore hari. Lalu, apakah hanya itu yang harus kita lihat? Tidak. Tapi coba kita lihat sisi lain dari FDS. Dengan FDS, tentu anak sekolah tidak akan di tahan di sekolah sampai jam 5 sore begitu saja. Namun, sekolah harus menyiapkan kegiatan yang berkaitan dengan program KBM. Baik berupa ekstra kurikuler maupun kegiatan lainnya. Yang jelas, program tersebut bermuara pada pengukuhan pendidikan karakter.

Sedikit cerita, sebelum ada wacana FDS di tanah air, saya justru sudah menjadi penerapan program FDS ini. Namun, pada waktu itu diistilahkan dengan binjar. Karena pada waktu itu, saya di MtsN model sumber bungur Pakong. Di sana, ada program kelas unggulan, akselerasi dan juga reguler. Kebetulan, dulu saya di kelas unggulan dari kelas 7 hingga kelas 9.

Baca Juga:  6 Siswa Di Pamekasan Pasti Tidak Lulus UN

Kembali ke kontroversi FDS, ternyata tidak salah jika kita melihat gejolak politik pada saat ini. Semua kebijakan tentu tidak terlepas dari strategi politik para pelakunya. Sehingga, gerakan di jalan dengan melakukan demonstrasi itu tak salah juga kalau kita lihat dari berbagai sisi. Termasuk dari sisi politik. Baik partai maupun ormas. Pertanyaan sekarang, benarkah ketidaksetujuan mereka -hingga melakukan gerakan dengan nama ini, itu- adalah bagian dari kecemburuan politik? Ah, tapi saya positif saja. Karena pikiran negatif hanya buang waktu berpikir saja. Hasilnya, tidak akan berbuah manis juga.

Kalau melihat gerakan aksi tolak FDS yang sudah tersebar di media sosial, sepertinya tak terlepas dari komentar dan pernyataan figur politisi. Bahkan figur ormas tertentu. Ironisnya lagi, salah satu menteri yang notabene punya tugas lain juga ikut berkomentar soal FDS ini.

Kebijakan akan diterapkannya FDS tidak boleh kita pandang sebelah mata, agar sempurna penglihatan dan pemahaman kita. Dan untuk para pemangku kebijakan di negeri ini tak perlu resah dengan keluhan FDS dari bawah. Namun yang jelas, keluhan tersebut dijadikan cambuk untuk melakukan kajian lebih mendalam. Kalau sudah dirasa pas untuk diterapkan, maka terapkan. Begitupun sebaliknya. Tentu hal itu sesuai pertimbangan yang cukup matang. Bukan timbangan beras. Semoga FDS membawa dampak positif bagi pendidikan Indonesia. Tanah air tercinta. WallahuA’lam.

Penulis : Abd Gafur
Mahasiswa STAIN Pamekasan prodi MPI (2014).
KPM STAIN PAMEKASAN Desa Tamberu
13 Agustus 2017

Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional