oleh

Muhammad Subhan : “Sibuk, Alasan Klasik Guru Enggan Menulis!”

PortalMadura.Com, Batusangkar – “Sibuk” menjadi alasan dominan para guru enggan menulis. Jadwal mengajar yang padat, ditambah tugas ini-itu di sekolah, belum lagi urusan rumah tangga, semakin “menjauhkan” guru menulis kreatif.

Dalam rilisnya yang diterima Redaksi PortalMadura.Com, Senin (9/2/2015), “Alasan klasik lain banyak dikeluhkan guru adalah sulitnya mendapatkan ide,” ungkap Muhammad Subhan, Motivator Kepenulisan dari Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia di hadapan seratusan guru, mahasiswa dan pelajar dalam Workshop Menulis Kreatif bertajuk “Menjadi Penulis Sukses dengan Menulis” yang digelar LKP D’Best Sikaladi, Ahad (8/2/2015), di aula SLB Lima Kaum, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Padahal, papar Muhammad Subhan, sekolah adalah sumber ide yang sangat kaya. Setiap hari, guru bukan saja menyampaikan mata pelajaran di depan kelas, tetapi juga menghadapi berbagai perilaku siswa yang berlawanan karakter dan watak antara satu dan lainnya. Belum lagi bermacam masalah yang dihadapi siswa yang secara langsung membutuhkan solusi dari guru sebagai orangtua kedua di sekolah.

“Jadi, persoalannya bukan pada kekurangan ide, tetapi pada kemauan menulis dan meluangkan sedikit waktu menggarap ide ke bentuk tulisan kreatif,” kata Muhammad Subhan yang juga penulis dan Ketua FAM Indonesia, sebuah wadah kepenulisan nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur.

Loading...

Seorang Pengawas Sekolah di Lima Kaum Batusangkar, Raulis, membenarkan bahwa banyak ditemui guru yang belum memaksimalkan potensinya untuk menulis. Jangankan menulis kreatif seperti puisi, cerpen dan novel, menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan keharusan seorang guru untuk menunjang kenaikan pangkat, masih minim.

“Ini fakta yang harus kita sikapi bersama. Maka, lewat pelatihan menulis kreatif seperti ini memberikan motivasi kepada para guru untuk menulis,” ujar Raulis.

Refdinal Castera, salah seorang guru yang telah melahirkan karya tulis berbentuk buku dan ikut hadir sebagai peserta di acara itu mengatakan, dengan menulis kreatif dirinya merasa menjadi guru yang menginspirasi para siswanya berkarya.

“Saya merasakan pengaruhnya dengan menulis buku, dan pergaulan sesama guru dan penulis pun semakin luas. Ini mendatangkan kebahagiaan buat saya,” ujar penulis novel “Meniti Buih Menerobos Tantangan” (2014) dan “Satu Huruf di Mesin Tik” (2015) itu.

Panitia dan Owner Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) D’Best Sikaladi Tanah Datar, Innang Sahitama, S.Pd., mengatakan, workshop menulis kreatif ini tahapan pertama dari kegiatan berikutnya yang melibatkan para guru. Sebagai kegiatan pembuka yang berisi motivasi, pihak penyelenggara ingin mengetahui minat kepenulisan guru di bidang apa.

“Workshop berikutnya akan digagas lebih teknis terkait kiat menulis Penelitian Tindakan Kelas (PTK),” ujar Innang Sahitama.(rls/htn)




Berita PortalMadura Aplikasi Android PortalMadura
Loading...
Tirto.ID
Loading...

Komentar