oleh

Novel Stasiun, Kesunyian dan Keterasingan Seorang Tua

Novel ini menceritakan tentang ketersaingan manusia yang merasa disisihkan oleh masyarakat. Seorang Tua yang sedang asyik melihat pemandangan di pagi hari, ia merasa harus berangkat.

Seorang Tua itu naik bemo dan selalu berkhayal bahwa dirinya sedang mengatri untuk membeli tiket kereta.

Akan tetapi, masyarakat yang melihat tangan seorang Tua itu mengepal membuat seorang Tua itu dituduh mencuri, sehingga polisi yang berada tidak jauh dari seorang Tua itu membuatnya menembak tangan seorang Tua itu.

Karena polisi mengira bahwa seorang Tua itu benar-benar mencuri. Padahal sesungguhnya seorang Tua sudah jujur mengatakan bahwa ia tidak mencuri.

Kini lelaki tua itu sudah sampai di stasiun yang ia tuju. Kejadian tentang mengantri untuk membeli tiket kereta, yang dimana seorang Tua ini dituduh mencuri dan ditembak oleh polisi hanyalah lamunan atau khayalan saja.

Di dalam stasiun, seorang Tua ini bertemu dengan seorang wanita bule. Seorang Tua berbincang-bincang dengan sangat akrab, yang seolah-olah sudah sangat lama kenal.

Siang sudah berganti malam, kereta sudah mulai memasuki sebuah stasiun. Disana ada seorang wanita gila yang masuk ke bawah kereta.

Untuk menyelamatkan wanita itu, seorang pegawai kereta menariknya keluar. Akan tetapi akhirya si pegawai sendiri yang harus dikeluarkan karena ia dianggap ilang ingatan.

Banyak sekali peristiwa unik yang dialami oleh seorang Tua tersebut. Banyak sekali pemikiran dan khayalan yang bercampuraduk di dalam dirinya.

Seorang Tua juga sempat pingsan yang diakibatkan oleh udara sesak di dalam kereta. Para penumpang semua ribut dan ricuh di dalam kereta karena tidak bisa menghirup udara dengan leluasa.

Maka semua orang yang berada di dalam kereta memecahkan jendela kaca kereta. Pada waktu itulah seorang Tua yang pingsan itu siuman.

Suasana kereta yang sangat ribut dan ricuh. Seorang Tua merasa mual dan ingin muntah. Seorang Tua ingin buang hajat, maka ia berusaha menuju ke gerbong pererusan.

Tetapi sebelum sampai di gerbong, seorang Tua terberak di celana. Kemudian seorang Tua pergi ke salah satu gang pintu kereta. Di gang itulah seorang Tua bertemu dengan seorang lelaki muda yang bernama Joni. Dan di gang itulah Joni berhasil memperkosa seorang Tua itu.

Kereta api akhirnya sampai di stasiun. Semua penumpang mulai turun, akan tetapi pikiran seorang Tua kemana-mana. Akhirnya ia sering berada di warung kopi dekat kereta api.

Kebiasaan seorang Tua membuatnya lupa dengan anak dan istrinya. Orang tua asyik dengan pikiran dan khayalannya. Sementara seorang Tua tidak pernah menghiraukan dan memikirkan keluarganya lagi.

Suatu ketika Seorang Tua sempat bertengkar hebat dengan istrinya, dan pada akhirnya ia nekad bunuh diri di kamarnya.

Dengan keadaan terluka seorang Tua melihat gelandangan mati di stasiun. Istri dari gelandangan tidak mau suaminya dibawa ke fakultas kedokteran.

Loading...

Ia sangat ingin menguburkan suaminya dengan cara wajar. Tetapi ternyata ia berubah pikiran. Mayat suaminya mau dijualnya. Namum akhirnya ia menyerahkan mayat suaminya tanpa menerima uang sedikitpun.

Setelah menyaksikan peristiwa itu, seorang Tua pulang. Di rumah, seorang Tua justru menyaksikan mayatnya sendiri yang tak mau diakuinya. Seorang Tua kembali lagi ke stasiun.

Di kantor stasiun, ia diinterogasi. Ia dituduh mencuri koper dan setelah ia bersumpah bahwa ia tidak mencuri, ia langsung dibebaskan.

Kemudia membeli tiket dan siap menuju kereta untuk melakukan perjalanannya.

Dalam novel ini ada beberapa unsur yang dipakai, salah satunya unsur intrinsik, yaitu dengan tema tentang ketersaingan manusia yang merasa disisihkan oleh masyarakat, alur yang digunakan adalah alur campuran, tokoh yang ada di dalam novel Stasiun karya Putu Wijaya ada tiga tokoh yaitu seorang seorang Tua, wanita bule, dan polisi.

Watak tokoh dari seorang Tua ialah ramah terhadap seseorang maupun masyarakat dan sering berpikir dan juga terlalu banyak mengkhayal. Sedangkan watak dari wanita bule ialah berparas cantik, akan tetapi wanita bule tidak terlalu memperdulikan orang-orang disekitarnya.

Dan watak dari polisi ialah tegas, bertindak adil dan jika ada seseorang melakukan kejahatan, baik mencuri maupun membunuh ia akan sangat sigap dalam menangani hal-hal tersebut.

Gaya bahasa dari novel stasiun yaitu cukup sulit dipahami karena ada beberapa kata yang digunakan terlalu tinggi.

Sudut pandang yaitu memakai autor observer dan latar waktu yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari. Sedangkan latar tempatnya yaitu stasiun, di dalam kereta, warung kopi, kantor stasiun, dan kamar kecil dan latar suasananya adalah kekacauan, kebingungan, kekejaman, kegelisahan, emosi, dan kemarahan.

Amanat yang cocok pada novel stasiun ini adalah jangan menilai seseorang dari segi tingkah lakunya ataupun mencoba untuk membeda-bedakannya.

Dalam hal ini pendekatan yang digunakan untuk novel Stasiun karya Putu Wijaya adalah pendekatan analitis. Mengenai ketersaingan seorang Tua yang merasa disisihkan oleh masyarakat dan sebuah kenyataan indrawi dan kenyataan khayali yang senantiasa terembab saat mencoba membedakannya.

Seorang Tua yang ramah dan selalu perpikir atau mengkhayal, saat ia sampai distasiun, dimana saat itu ia dituduh mencuri dan tangannya yang sempat di tembak oleh polisi itu hanyalah khayalannya saja.

Seorang Tua sering sekali duduk di warung kopi yang dekat dengan kereta api, itu membuatnya lupa dengan istri dan anaknya. Seorang Tua sudah terlalu asyik dengan pikiran dan khayalannya saja.

Sementara keluarganya tidak pernah dihiraukannya. Dan pada suatu ketika saat seorang Tua bertengkar hebat dengan istrinya dan akhirnya ia nekad untuk bunuh diri di kamarnya.(*)

Penulis : Ni Made Emi Noviyani
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang
(Kesunyian dan Keterasingan Seorang Tua yang Merasa Disisihkan oleh Masyarakat pada Novel Stasiun Karya Putu Wijaya)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar