oleh

PBB Sebutkan 10 Negara Rawan Pangan

PortalMadura.Com, Ankara – Dalam sebuah laporan terbaru, PBB mengidentifikasi 10 Negara di dunia yang berisiko tinggi dalam hal ketahanan pangan, di mana lebih dari setengahnya berada di Afrika.

Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Negara-negara yang berisiko adalah Yaman, Sudan Selatan, Venezuela, Sudan, Zimbabwe, Kamerun, Burkina Faso, Haiti, Afghanistan dan Nigeria.

Dalam laporan untuk periode April hingga Juni, Negara-negara berisiko tinggi didefinisikan sebagai negara-negara yang mengalami keadaan darurat atau kemunduran yang signifikan, dengan potensi dampak yang parah pada pertanian dan ketahanan pangan.

FAO berupaya untuk memitigasi dan mencegah bencana secara proaktif sebelum berdampak pada ketahanan pangan.

Laporan itu mengatakan bahwa dampak serius pada keamanan pangan dan pertanian umumnya terlihat di Negara-negara yang menghadapi konflik yang berkepanjangan atau krisis ekonomi. dilaporkan Anadolu Agency, Kamis (18/4/2019).

Yaman

Sebagai Negara yang menghadapi konflik berkepanjangan, Yaman menghadapi krisis kemanusiaan yang parah, di mana sekitar 24 juta orang diperkirakan membutuhkan bantuan kemanusiaan.

“Karena konflik yang berkepanjangan, situasi ekonomi Yaman kemungkinan akan terus memburuk, ini dapat mengakibatkan guncangan harga bahan makanan pokok dan non-pangan, dan karena itu dapat lebih jauh membahayakan akses ke makanan,” kata laporan FAO.

Sudan Selatan

Lebih dari lima tahun konflik di Sudan Selatan telah membuat Negara itu berada dalam situasi kemanusiaan dan makroekonomi yang mengerikan.

Laporan tersebut menyoroti sekitar 4,14 juta orang mengungsi dan 6,87 juta orang diperkirakan mengalami kerawanan pangan.

Venezuela

Venezuela menghadapi hiperinflasi sejak November 2016 dan dilanda kekurangan makanan, obat-obatan, layanan kesehatan serta persediaan bahan pokok.

Menurut survei tentang kondisi kehidupan oleh tiga universitas pada 2018, 80 persen rumah tangga Venezuela tidak aman pangan dan 90 persen berpenghasilan yang tidak mencukupi untuk membeli makanan.

“Dalam beberapa bulan mendatang, situasi keamanan pangan di Venezuela diperkirakan tidak akan membaik dan emigrasi kemungkinan akan berlanjut,” kata FAO.

Sudan

Krisis ekonomi yang sedang berlangsung di Sudan mengganggu layanan publik, berdampak pada kegiatan pertanian dan menaikkan harga makanan pokok.

“Kenaikan harga akan terus membatasi akses makanan, yang secara musiman meningkatkan ketergantungan warga terhadap pasar selama musim buruk,” ungkap FAO.

Zimbabwe

Loading...

Krisis mata uang Zimbabwe memburuk sejak 2018, dengan lonjakan yang signifikan dalam harga bahan bakar, makanan dan barang-barang lainnya.

“Diperkirakan 31 persen dari populasi pedesaan Zimbabwe, yaitu 2,9 juta orang, akan membutuhkan tindakan segera untuk melindungi dan menyelamatkan mata pencaharian, mengurangi kesenjangan konsumsi makanan dan meminimalisasi kekurangan gizi akut, antara Februari dan Mei 2019,” kata FAO.

Kamerun

Hampir 1,1 juta orang di Kamerun menghadapi kerawanan pangan karena kedatangan pengungsi, krisis di wilayah barat laut dan barat daya serta pengungsi yang datang dari Republik Afrika Tengah.

“Kerap terkurung dan menjadi kota hantu mempengaruhi kegiatan ekonomi, berfungsinya pasar dan awal musim pertanian,” kata laporan itu.

Burkina Faso

Karena kehadiran kelompok-kelompok bersenjata, situasi keamanan di Burkina Faso memburuk sejak 2018, dengan lebih dari 687.000 orang menghadapi kerawanan pangan.

“Kekerasan mungkin akan memicu pengungsi tambahan dengan total perkiraan 190.000 orang, dalam konteks di mana akses untuk mencapai mereka yang membutuhkan sangat sulit,” kata FAO.

Haiti

“Di Haiti, musim tanam yang tidak menguntungkan ditambah dengan inflasi yang tinggi menyebabkan peningkatan kerawanan pangan,” tulis laporan itu.

Situasi politik di negara itu telah menyebabkan 2,6 juta orang menjadi sangat tidak aman.

Afghanistan

Kekeringan hebat di sebagian besar negara itu pada 2018 mengakibatkan kerawanan pangan.

Pada Maret, hujan lebat dan banjir diperkirakan akan berdampak pada sekitar 250.000 orang.

Nigeria

Menurut FAO, bentrokan komunal antara pastoralis dan petani sering terjadi, khususnya di Adamawa, yang secara langsung memengaruhi aset mata pencaharian dan ketahanan pangan penduduk setempat.

Masalah keamanan pangan di Nigeria telah berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tetapi sekitar 4,9 juta orang diperkirakan akan mengalami kerawanan pangan pada musim panas ini.

Agustus lalu, wabah demam babi Afrika (ASF) – menyebabkan kematian babi dan beruang liar hingga 100 persen – mengancam untuk menyebar ke Asia.

Sementara itu, serangga Fall Armyworm (FAW) yang berasal dari daerah tropis dan subtropis di Amerika tersebar di Afrika Tengah dan Barat dan beberapa bagian Asia.

“Virus ASF bertahan dalam cuaca dingin atau panas ketika dikeringkan atau disembuhkan dalam produk babi dan tahan terhadap beberapa disinfektan,” kata laporan FAO.

“FAW kemungkinan akan menyebar ke bagian lain di Asia, di mana Asia Tenggara dan China bagian selatan paling berisiko,” tambahnya.


Anadolu Agency
Sumber : Anadolu Agency


Berita PortalMadura
Loading...

Komentar