oleh

Pedagang Selongsong Ketupat Ternyata Lintas Kabupaten

PortalMadura.Com, Pamekasan – Tradisi lebaran ketupat menjadi berkah tersendiri bagi warga Madura, Jawa Timur. Selain menjadi ajang silaturahmi juga bisa mengangkat perekonomian masyarakat.

Seperti yang dialami pedagang selongsong ketupat (orong topak, Madura, red), Misyati (40) di pasar tradisional Kolpajung Pamekasan, Kamis (21/6/2018). Sebab, dirinya rutin menjajakan selongsong ketupat setelah lebaran Idul Fitri.

Pedagang asal Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep itu mengaku, setiap tahun menjelang lebaran ketupat dirinya memang pergi ke Kabupaten Pamekasan hanya untuk berjualan janur, daun siwalan muda dan selongsong ketupat, karena keuntungannya lebih besar daripada dijual di Sumenep.

“Saya sudah setiap tahun berjualan seperti ini, karena di Pamekasan lebih mahal. Saya sudah kemarin datang ke sini, nanti malam akan pulang ke Sumenep karena besok lebarannya,” katanya kepada PortalMadura.Com.

Loading...

Dia menuturkan, janur, daun siwalan muda dan selongsong ketupat itu ia bawa dari rumahnya, hasil membeli kepada warga yang punya pepohonannya. Tetapi sebagiannya memang milik dirinya sendiri.

“Saya rombongan dari rumah yang berjualan di sini, ada tiga orang yang kemarin berangkat bersama. Alhamdulillah laku, meskipun masih ada sisanya, tapi sedikit,” jelasnya.

Dikatakan Misyati, tahun 2018 harga selongsong ketupat yang terbuat dari daun silawan muda Rp 500 per biji, sementara yang terbuat dari janur Rp 300 per biji yang berukuran kecil dan Rp 500 untuk yang berukuran besar.

“Kalau janur yang belum dibuat selongsong Rp 6 ribu setiap 50 lembar. Sementara untuk daun siwalan muda Rp 10 ribu, jauh lebih mahal. Tapi, kalau selongsong yang bermodel lebih mahal lagi, misalnya model kuda, ikan dan lain-lain,” pungkasnya. (Marzukiy/Putri)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar