PortalMadura.com–Pelatih kepala tim nasional U23 Irak, Emad Mohammed, secara resmi mengundurkan diri hanya beberapa hari sebelum kick-off Kejuaraan AFC U23 2026, yang akan dimulai pada Kamis, 8 Januari 2026. Pengunduran dirinya mengejutkan banyak pihak, mengingat tim sedang memasuki tahap akhir persiapan untuk laga pembuka melawan Tiongkok.
Dalam pernyataannya, Mohammed menyebut bahwa keputusannya lahir dari “campur tangan berlebihan” dalam urusan profesional yang dinilainya menghambat kinerja teknisnya. Ia menegaskan bahwa meski menerima jabatan ini atas dasar rasa tanggung jawab dan kebanggaan terhadap negara, kondisi terkini membuatnya tak mungkin lagi menjalankan tugas sesuai standar profesional.
“Tim nasional lebih penting dari apa pun. Saya telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi intervensi yang terus-menerus membuat saya tidak bisa bekerja dengan layak,” ujar Mohammed, seperti dikutip dari pernyataan resminya, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga:
Menurut laporan media regional, ketegangan antara Mohammed dan pihak internal Asosiasi Sepak Bola Irak (IFA) telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Puncak konflik terjadi ketika sejumlah pemain inti gagal bergabung tepat waktu dalam pemusatan latihan, sehingga mengganggu ritme persiapan strategis menuju turnamen.
Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, Mohammed sempat menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan meski mendapat tekanan usai kekalahan Irak di Piala Teluk. Namun, perkembangan terbaru—termasuk dinamika internal yang memburuk selama pemusatan latihan di Arab Saudi—akhirnya mendorongnya mengambil langkah drastis ini.
Kepergian sang pelatih berdampak signifikan terhadap stabilitas psikologis skuad muda Irak. Mereka tergabung di Grup D bersama Australia, Tiongkok, dan Thailand. Jadwal pertandingan sudah ditetapkan: melawan Tiongkok pada 8 Januari, Thailand pada 11 Januari, dan Australia pada 14 Januari.
Menanggapi situasi ini, IFA menyatakan bahwa fokus utama partisipasi Irak dalam turnamen kali ini adalah pengujian dan pembentukan skuad jangka panjang, bukan mengejar hasil maksimal. Meski demikian, kekosongan di posisi pelatih kepala hanya hitungan jam sebelum pertandingan pertama menimbulkan kekhawatiran di kalangan suporter dan pengamat sepak bola nasional.





