oleh

Pelestarian Bahasa Madura Butuh Anggaran

PortalMadura.Com, Pamekasan – Salah seorang pemerhati bahasa Madura di Pamekasan, Jawa Timur, Hafidz Efendy menilai, eksistensi bahasa Madura mulai terkikis. Muda-mudi saat ini justru banyak yang tidak tahu tentang seluk beluk bahasa daerah.

“Perkembangan teknologi saat ini justru disebut-sebut membuat anak-anak Madura milenial jadi antipati terhadap bahasa Madura, seperti perbedaan makna Nyornok dan Nyornek,” terangnya, Senin (19/8/2019).

Pria yang juga akademisi IAIN Madura ini menuturkan, salah satu bentuk pelestarian bahasa Madura bisa melalui kegiatan khusus, semisal komunitas bahasa Madura seperti Dhu’ Remmek dan Malate Pote.

Namun tanpa adanya campur tangan atau regulasi dari pemerintah kabupaten tentu akan terasa hambar. “Sejauh ini payung hukumnya masih menggunakan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 19 Tahun 2014, belum ada regulasi tingkat kabupaten,” jelasnya.

Loading...

Sesuai isi kongres bahasa Madura di Kabupaten Sampang pada tahun 2008, setiap kabupaten diimbau bisa melaksanakan kongres bahasa Madura setiap empat tahun sekali. Namun hingga saat ini, kegiatan kongres tersebut justru tidak terlaksana.

“Mestinya bupati di empat kabupaten di Madura bisa bersinergi untuk melestarikan bahasa Madura,” paparnya.

Baca Juga : Warga Desa Lesong Laok Pamekasan Keluhkan Jalan Rusak

Selain itu, pemerintah di empat kabupaten di pulau Madura setidaknya bisa memberikan anggaran khusus untuk kegiatan-kegiatan pelestarian bahasa Madura.

Kegiatan pelestarian tersebut bisa berupa kongres setiap dua tahun atau empat tahun sekali, atau bisa disalurkan melalui komunitas pegiat bahasa Madura.

“Butuh sinergitas dari semua lapisan, termasuk bagaimana mengakomodir komunitas yang benar-benar serius punya misi melestarikan bahasa Madura,” pungkasnya.(*)


Penulis : Hasibuddin
Editor : Putri Kuzaifah
whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar