oleh

Pemilu 2019, Pesta Demokrasi Kaum Milenial

Oleh : Rafiqi, S.HI*

Pemilu 2019 ini adalah pertama kali digelar serentak sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Yaitu antara pemilu legislatif (pileg) dengan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres), digelar dalam waktu yang bersamaan. Pada pemilu-pemilu sebelumnya, yakni pemilu 2004, 2009, dan 2014, kedua pemilu itu dipisah.

Pemilihan legislatif untuk memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota digelar lebih dulu pada bulan April. Kemudian hasil pemillu itu yang digunakan calon presiden dan wakil presiden pada pilpres, yang biasanya digelar bulan Juli.

Dalam Pemilu serentak ini, yang menjadi perhatian partai politik dan pasangan capres-cawapres adalah pemilih milineal. Karena jumlah kaum milineal atau anak muda dibawah usia 40 tahun cukup signifikan, dan mereka diyakini akan juga manjadi penentu arah demokrasi bangsa Indonesia.

Selain potensi yang dimiliki anak muda cukup mumpuni, mereka juga bergerak dinamis dan kritis. Kemudian yang sangat penting, kaum milineal selalu mampu beradaptasi dengan semua kondisi terutama dengan media sosial.

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Keberadaan kaum milineal saat ini sangat diperhitungkan dalam mensukseskan pesta demokrasi lima tahunan ini. Baik disamping sebagai pemilih yang punya hak politik karena sudah bisa menyalurkan suaranya, maupun mereka yang menjadi penyelenggara, baik dibawah naungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun dibawah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Loading...

Sesuai data yang dirilis Direktur Ekskutif Perkumpulan untuk Pemilu, pada pilkada 2018 di 171 daerah dengan jumlah pemilih 160 juta lebih, ada sekitar 40 persen pemilihnya dibawah 40 tahun. Dari data ini menjelaskan bahwa pemilih milineal cukup signifikan dalam Pemilu serentak tahun ini yang akan digelar di 514 kabupaten/kota dalam 34 Provinsi se-Indonesia. Dengan jumlah pemilih secara keseluruhan, baik di dalam serta luar negeri, adalah 192.828.520 pemilih.

Komisioner KPU Viryan Aziz menjelaskan, pemilih dengan usia 20 tahun saat ini sebanyak 17.501.278 orang, dan usia 21-30 tahun sebanyak 42.843.792 orang, kemudian usia 31-40 tahun mencapai 43.407.156 orang. Dengan demikian pemilih milineal dibawah 40 tahun yang akan ikut serta dalam pemilu seretak 17 April mendatang mencapai 103.752.226 orang.

Kaum milineal adalah mereka yang juga selalu disebut generasi internet karena selalu dekat dan bersentuhan dengan teknologi daring. Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.

Tren tersebut sudah terbukti disepanjang 2016 melalui beberapa peristiwa penting, seperti aksi teror bom. Masyarakat benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi terkini dari sebuah peristiwa. Kemudian dalam pelaksanaan pemilu saat ini, paling banyak juga ditemukan sosialisasi informasi melalui media sosial.

Pemilu saat ini benar-benar manjadi pesta demokrasi kaum milineal apabila peran serta mereka maksimal atau dimaksimalkan, dari sisi sosialisasi dan menjaga keberlangsungan pemilu yang bersifat luber dan jurdil. Kemudian melakukan pengawasan dan memberian laporan yang cepat dan efektif melalui sistem daring jika ditemukan pelanggaran.

Walhasil, ayo datang ke TPS dan mencoblos sesuai hati nurani pada tanggal 17 April 2019. Agar tahu sensasinya jari kelingking kecebur tinta. Golpu? No Way!.

*Rafiqi, S.HI, Jurnalis Radio Karimata FMadura


Editor : Putri Kuzaifah
.
whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar