oleh

Pengukuhan Paskibraka, Bupati Sumenep Ingatkan Jiwa Nasionalisme dan Patriotisme

PortalMadura.Com, Sumenep – Pengukuhan anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tahun 2019 berlangsung penuh khidmat di Pendopo Keraton Sumenep, Jl. dr. Soetomo, Kamis (15/8/2019) malam.

Proses pengukuhan dilakukan langsung oleh Bupati Sumenep, A Busyro Karim dan disaksikan oleh pimpinan Forpimda, Sekda Sumenep dan para asisten pemerintahan serta pejabat lain di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Anggota paskibraka mencium merah putih di prosesi pengukuhan bertempat di pendopo Keraton Sumneep (Foto. Nanik Dwi Jayanti)
Anggota paskibraka mencium merah putih pada prosesi pengukuhan bertempat di pendopo Keraton Sumenep (Foto. Nanik Dwi Jayanti)

Bupati Sumenep, A Busyro Karim, dalam sambutannya mengingatkan kepada para pasukan Paskibraka untuk selalu memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme.

“Bangsa ini bukan hanya membutuhkan generasi muda yang cerdas dan pintar tetapi juga memiliki spirit nasionalisme dan patriotisme. Generasi muda Indonesia harus bisa mengembalikan jiwa nasionalisme seperti yang telah dilakukan para pahlawan saat merebut kemerdekaan,” katanya.

Loading...

Menurutnya, hal itu penting karena seiring kemajuan teknologi informasi yang identitas kebangsaan kini ikut tereduksi oleh berbagai macam paham yang negatif termasuk radikalisme dan terorisme.

Ia meminta generasi muda masa kini melihat kembali para pemuda Indonesia dulu, di mana dengan berani mengagungkan persatuan Indonesia melalui sumpah pemuda pada tahun 28 Oktober 1928. Sebuah tekat yang sangat luar biasa karena diagungkan 17 tahun sebelum Indonesia merdeka.

“Nasionalisme yang seperti itulah yang harus dibangkitkan kembali untuk generasi muda khususnya untuk membantengi Indonesia dari berbagai macam radikal dan terorisme yang mengancam keutuhan NKRI,” jelasnya.

Dijelaskan para pahlawan kita telah berjuang dalam jiwa dan raga untuk membentuk NKRI yang secara simbolis dikibarkan sang saka merah putih di bumi pertiwi dan dilanjutkan dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Semua itu tentu tidak lain untuk membuat yang terbaik bagi bangsa, secara simbolik mencari keutuhan sang saka merah putih.

“Karena itu jangan ada warna selain merah putih, jangan ada ideologi selain pancasila itulah makna simbolik pengibaran sang merah putih 17 Agustus,” tegasnya.

Di tempat sakral ini, pihaknya berpesan agar mereka terus belajar untuk menjadi manusia-manusia yang menguasai pengetahuan, teknologi, berkarya dan berprestasi setinggi mungkin. Tetapi, harus tetap dengan balutan nilai-nilai kearifan lokal dan nasionalisme.

“Pesan saya, selagi muda belajarlah sejarah. Saat dewasa buatlah sejarah dan setelah mati, maka giliran nama kita yang akan dicatat oleh sejarah,” pungkasnya.(*)


Penulis : Nanik Dwi Jayanti
Editor : Nurul Hijriyah
whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar