PortalMadura.com

Penting! Ini Akibat Jika Anda Bawa Pekerjaan Kantor ke Rumah

  • Sabtu, 16 Desember 2017 | 13:00
Penting! Ini Akibat Jika Anda Bawa Pekerjaan Kantor ke Rumah
Ilustrasi

PortalMadura.Com – Seiring dengan semakin padat dan ketatnya pekerjaan dalam sebuah perusahaan atau organisasi, terkadang membuat para karyawan merasa terhimpit. Bahkan, jam kerja di kantor tidak cukup untuk menyelesaikan semua tanggung jawabnya.

Tidak heran, untuk mengurangi pekerjaan di kantor sebagian orang membawa tugasnya ke rumah. Mau tidak mau keadaan ini memaksa karyawan mengerjakan tanggung jawabnya di luar jam kerja.

Walaupun demi terselesainya pekerjaan, tapi keputusan itu juga tidak baik dilakukan. Karena akan membuat Anda merasa tersiksa dan sulit untuk membagi waktu. Jadi, cobalah untuk membuat beberapa batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi di rumah.

Sebab, menurut sebuah studi dari University of Zurich di Swiss dan University of South Florida—orang-orang yang mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berisiko mengalami kelelahan.

Mereka yang melakukan itu tidak bisa melakukan aktivitas yang mengurangi tekanan.

“Karyawan yang menggabungkan pekerjaan ke dalam kehidupan pribadi dilaporkan lebih kelelahan karena mereka kurang pemulihan,” ujar penulis utama dalam studi itu, Ariane Wepfer.

“Kurangnya kegiatan pemulihan ini juga menjelaskan mengapa orang-orang yang menggabungkan pekerjaan mereka ke dalam kehidupan pribadi, merasa kurang sejahtera”.

Studi online itu dilakukan terhadap 1.916 pekerja dari negara-negara berbahasa Jerman, dengan rata-rata berusia 42,3 tahun.

Peneliti menanyakan tentang kemampuan mereka untuk membuat batas-batas kehidupan kerja dan frekuensi memikirkan pekerjaan di luar jam kerja. Juga soal membawa pulang kerja dan bekerja di akhir pekan.

Para peneliti juga bertanya kepada para responden bagaimana mereka memastikan pekerjaan tidak masuk ke dalam kehidupan pribadi.

Ditambah, apakah mereka melakukan hobi, olahraga atau kehidupan sosial setelah bekerja. Hasilnya tidak mengejutkan, karena para pekerja yang gagal membuat batas kerja-kehidupan pribadi mengaku lebih sedikit melakukan pemulihan, dan pada gilirannya lebih lelah.

Selain itu, mereka menjadi pribadi yang kurang berpengalaman dalam keseimbangan kerja-kehidupan pribadi. Temuan ini memiliki implikasi bagi kebijakan perusahaan.

“Kebijakan dan budaya organisasi harus disesuaikan untuk membantu karyawan mengatur batas pekerjaan dan bukan pekerjaan dengan cara tidak mengganggu kesejahteraan mereka,” kata Wepfer.

“Bagaimana pun, gangguan kesejahteraan berdampak pada berkurangnya produktivitas dan kreativitas”.

Pihak perusahaan pun harus cepat bergerak, sebab, sepertiga karyawan mengatakan pekerjaan dan kehidupan tumbuh lebih keras selama lima tahun terakhir.

Setidaknya kesimpulan itu muncul dalam laporan Ernst and Young 2015. Lalu, hampir satu dari enam milenial di Amerika Serikat mengatakan, mereka mengalami hal yang negatif karena jadwal pekerjaan yang fleksibel. (kompas.com/Putri)

Loading...
Advertisement
banner300x250

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional