PortalMadura.com– Dunia fesyen tanah air kembali menoleh pada keindahan busana tradisional. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Kebaya Janggan Kraton. Busana yang identik dengan potongan leher tinggi menutupi leher dan kancing di sisi samping ini tidak hanya menawarkan estetika, tetapi juga menyimpan nilai sejarah yang mendalam.
Secara historis, Kebaya Janggan awalnya merupakan pakaian yang dikenakan oleh kaum perempuan di lingkungan keraton, terutama di wilayah Yogyakarta. Berdasarkan catatan sejarah dari Museum Kraton Yogyakarta, busana ini sering dikaitkan dengan sosok Ratna Ningsih, istri dari Pangeran Diponegoro. Potongannya yang tertutup mencerminkan karakter perempuan yang tangguh, sopan, dan bersahaja.
Desain Kebaya Janggan memiliki ciri khas yang membedakannya dari kebaya kutubaru atau kebaya encim. Potongan kerahnya yang menyerupai jas pria (surjan) namun dengan sentuhan feminin, memberikan kesan formal sekaligus elegan. Saat ini, banyak desainer lokal mulai memodifikasi bahan tanpa menghilangkan pakem aslinya agar tetap nyaman digunakan untuk acara modern seperti pesta pernikahan atau acara kenegaraan.
Kepopuleran kembali busana ini membuktikan bahwa warisan budaya tidak pernah lekang oleh waktu. Dengan memadukan Kebaya Janggan Kraton bersama kain batik motif klasik seperti Parang atau Sogan, pemakainya akan memancarkan aura wibawa yang khas. Bagi Anda yang ingin tampil beda namun tetap memegang teguh akar budaya, busana ini adalah pilihan yang sempurna.







