oleh

Resensi Buku – Darah Penebus Tahta

PortalMadura.Com – Seiring berkembangnya politik di negeri kita, seakan mempunyai keunikan sendiri yang merujuk pada praktik-praktik negatif di dalamnya.

Politik pada era ini yang dikenal dengan politik halus tapi modus hanya bergantung pada suatu benda yang bernama “Money”. Kekuasaan, tahta, dan masa depan hanya bergantung pada benda berwujud kertas yang terkadang membuat seseorang tidak berprikemanusiaan.

Semaraknya perebutan kekuasaan dan tahta pada masa ini ternyata telah berakar dari masa sejarah. Namun tampak berbeda diantara keduanya, jika sekarang kekuasaan bisa direbut dengan uang, maka pada zaman dahulu perebutan kekuasaan dan tahta hanya bisa direbut dengan darah dan nyawa.

LEMBU PETTENG merupakan judul buku karya A. Sulaiman Sadik yang menyajikan selintas tentang orang-orang besar keturunan bondan kejawan yang ada di Madura. Buku ini memperlihatkan tentang keturunan-keturunan bondan kejawan serta perebutan tahta dan kekuasaan pada zaman kerajaan.

Ada tiga tokoh penting, meliputi Lembu Petteng, Raden Praseno, Raden Trunajaya menjadi pokok bahasan dalam buku ini. Buku seri dari sejarah tradisional Madura ini dimaksudkan menutupi kebutuhan generasi muda dalam mengenal leluhurnya.

Lembu Petteng merupakan nama lain dari bondan kejawan yang diangkat sebagai kamitua/raja muda majapahit di Madura yang berkedudukan di Pamadekan (Sampang).

Lembu Petteng menurut berbagai sumber yang terdapat dalam buku ini merupakan keturunan darah Cina yang dinikahkan oleh Ki Ageng Tarub dengan cucunya Dyah Nawangsih. Konon, Lembu Petteng merasa sangat kesal kepada Sunan Ampel karena kemunduran Majapahit diduga meluasnya Penyebaran Agama Islam.

Akhirnya, beliau meninggalkan Madura untuk pura-pura menjadi santri Sunan Ampel dengan motif membunuhnya. Namun takdir berkata lain, akhirnya rasa bencinya hilang seiring berjalannya waktu. Ia justru tulus memeluk agama Islam dan rela mengabdi menjadi murid Sunan Ampel hingga akhir hayatnya. Sekarang kita bisa melihat kuburan Lembu Petteng di belakang kubur Sunan Ampel.

Tokoh kedua yaitu Raden Praseno yang tercatat dalam sejarah bahwa Ia adalah satu-satunya bangsawan Madura yang tersisa setelah penaklukan Madura oleh mataram pada tahun 1624 M. Dalam kisah Raden Praseno ini banyak terdapat pertumpahan darah dalam perebutan kekuasaan hingga Raden Praseno yang dikenal dengan Pangeran Sampang 1 ini gugur dalam peristiwa Pangeran Alit  pada tahun 1647 M.

Loading...

Tokoh terakhir ialah Raden Trunajaya yang diakui sebagai pahlawan baik di Madura maupun di Jawa timur. Kisah Raden Trunajaya merupakan kisah paling panjang yang dibahas dalam buku ini.

Dijelaskan pula dalam buku ini bahwa perjuangan Raden Trunajaya setidaknya akan tersorot dari kacamata atau bingkai kronologi sejarah mataram oleh sejarawan Indonesia. Perjuang tokoh ini merupakan penegakan keadilan dan penyerangan penguasa dzolim dari kekuasaan asing yang tidak pernah lepas dari sifat kolonialnya yang angkara murka.

Raden yang mempunyai nama kecil Nilprawata ini merupak cucu dari Raden Praseno. Ia juga merupakan keturunan Raja Majapahit ke-7 yaitu Raja Wikramawardhana melalui putranya yang bernama Lembu Petteng. Perebutan kekuasaan yang berwujud pembunuhan ayahnya secara misteri merupakan mata rantai dari pertumpahan darah yang terjadi pada peristiwa-peristiwa pada masa Raden Trunajaya.

Pengungkapan tokoh keturunan Bondan Kejawan secara singkat yang terangkum dalam 36 halamn menjadi keunikan tersendiri dalam buku ini. Mengingat banyaknya peristiwa dan percabangan keturunan dalam asal usul para tokoh, seakan tak mungkin terangkum hanya dalam 36 lembar.

Namun keterampilan penulis mampu menyajikan buku tipis ini kepada pembaca dengan referensi yang cukup banyak dan jelas. Kelebihan yang lain tersajikan dengan adanya motivasi dan inspirasi penulis yang disisipkan dalam beberapa kisah yang ditulisnya.

Hal itu mewujudkan bahwa penulis mempunyai pengharapan yang sangat positif terhadap generasi muda. Namun dibalik semua kelebihan yang ada, takkan pernah bisa dipungkiri bahwa buku ini juga memiliki kekurangan. Pengungkapan yang secara singkat ini justru mengundang rasa penasaran pembaca untuk mengetahui kisah detail yang sepertinya belum sempurna dijelaskan dan dituturkan oleh penulis, mengingat terdapat banyaknya kutipan–kutipan yang ditulis singkat dalam buku ini.

Dari sedikit kelemahan yang ada, buku ini akan tetap dirasakan besar manfaatnya untuk menanamkan jati diri Madura kepada generasi muda seperti yang telah dituturkan penulis dalam kata pengantarnya. Mengingat tentang kebutuhan generasi muda untuk mengenal leluhurnya, terasa bermanfaat dengan adanya buku ini meskipun hanya mengungkapkan sejarah tradisional Madura secara selintas.(har)

Judul Buku : Lembu Petteng
Penulis : A.Sulaiman Sadik
Penerbit : Karunia
Halaman : 36

Madura, 21 Juni 2015
Peresensi : Mini Hesti Triana (YOUR B)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar