oleh

Resensi Buku-Membangun Pendidikan Karakter Berbasis Sufistik

Oleh: Fitrotutus Saniyah, S.Th.I*

Judul Buku: Pendidikan Karakter ala Syekh Abdul Qodir Al-Jailani
Penulis: Holikin, S.Pd.I
Penerbit: Ahsyara Media Indonesia
Cetakan: Pertama, Maret 2019
Tebal: 128 Halaman, 13 x 19 cm
ISBN: 978-623-7106-21-0

Dewasa ini, keberhasilan sebuah pendidikan tidak dapat dilepaskan dari sebuah cara, tak terkecuali proses pendidikan sufistik. Keberhasilan pendidikan sufistik yang paling esensi adalah ia mampu mengantarkan manusia ke jalan yang lebih baik, terkhusus dalam hal pola perilaku (moralitas). Tentu, ada ragam cara untuk menuju ke titik tersebut.

Syekh Zainuddin Al-Malibari menuturkan, “Inna al-tashawwufa lahuwa al-adab.” (sesungguhnya tasawuf adalah budi pekerti). Jelas sekali, tasawuf memiliki cara bagaimana ia mampu membangun karakter. Tasawuf sebagai ilmu ruhaniyah menekankan bangunan dari dalam. Membangun jati diri dari akar memiliki efek yang sangat manjur. Penekanan kesufian dari dasar jiwa ini memiliki bekas yang tak mudah terhapus.

Makanya, dalam buku ini ditegaskan bahwa pendidikan karakter dalam tinjauan Tasawuf esensinya adalah akhlak. Sebab, derajat akhlak berada di atas keilmuan. Sebagaimana kalam hikmah berbunyi, “Al adabu fauqa al ilmi faman la adaba fala ilma lahu” (budi pekerti berada di atas ilmu. Barangsiapa yang tidak berbudi pekerti yang baik, maka ia sama halnya dengan tidak berilmu). (hlm. 32).

Bagaimana cara Tasawuf membangun pendidikan karakter?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, buku ini memberikan peta jalan yang terangkum dalam tiga proses. Pertama, proses pembebasan diri dari penyakit jiwa dan hati melalui kegiatan ta’abbudiyah (beribadah). Proses ini sedikitnya meliputi empat tahap, yaitu taubat, wara’, zuhud, dan qana’ah (menerima apa adanya). Dalam arti, membutuhkan Allah dan rasulNya di setiap waktu dan tempat. Proses ini disebut Takhalli (melepaskan diri).

Kedua, proses Tahalli, yaitu proses pembangunan jiwa dengan cara taqarrub (mendekatkan kualitas diri dengan Allah) tanpa mengharap kompensasi (dosa-pahala atau surga-neraka). Tujuan taqarrub adalah mendekatkan diri kepada Allah sampai menyatu denganNya. Artinya, menjadikan Allah sebagai tempat bergantung. Terdapat empat tangga yang harus ditempuh dalam proses ini, yaitu tawakal, sabar, ridha, dan senantiasa bersyukur.

Ketiga, proses Tajalli (pencerahan diri). Maksudnya adalah proses pencerahan jiwa yang bersifat ilahiah melalui amal saleh dan kontemplasi. Proses ini juga memiliki empat tahap, yaitu mahabbah (cinta Allah), makrifah, hakikat, dan kasyaf (tersingkapnya tabir secara tersembunyi atau rahasia).

Lebih jauh, buku yang ditulis oleh Holikin, S.Pd.I ini memuat beberapa tahapan yang sudah dijelaskan di atas dengan lebih detail, hingga pada ranah aplikatif. (hlm. 98-102).

Loading...

Buku ini juga menjelaskan, bahwa pendidikan sufistik pada dasarnya adalah idrak shilah billah (kesadaran akan hubungannya dengan Allah). Kesadaran diri akan segala gerak-gerik manusia (jasmaniah atau ruhaniyah) selalu dalam pantauan Allah, sehingga semua perilaku niat serta tujuannya murni (ikhlas) karena Allah. (hlm. 56).

Menurutnya, kesadaran akan hubungan dengan Allah ini menjadikan manusia takut (khauf) melakukan sesuatu yang mendatangkan murka Allah, seperti kemaksiatan dan kemungkaran. Dengan idrak shilah billah pula menjadikan semua perilaku serta perasaan yang tertanam dalam diri selalu diniatkan untuk Allah, bukan yang lain. Pada tahap selanjutnya, manusia senantiasa mengharap (raja’) rahmat dariNya. (hlm. 57).

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berisi pendahuluan yang hampir seluruhnya memuat biografi Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, dari silsilah beliau, karya-karya beliau, hingga tempat dan waktu beliau wafat.

Bagian kedua berisi pendidikan karakter perspektif tasawuf. Bagian ini lebih memusatkan pemahaman sufistik secara definitif, ilmiah, serta memadukan hubungan pendidikan sufistik dengan dunia modern, yang mana dalam hal ini banyak kalangan menancapkan tuduhan bahwa ajaran sufi anti modernitas. Kemudian, dengan cukup lugas buku ini membantah tuduhan tersebut.

Bagian ketiga berisi teknik dan terapan dalam proses pendidikan sufistik. Di bagian ini, menurut hemat saya merupakan poin penting dari isi buku ini. Sebab, bagian ini memuat strategi yang seharusnya para pendidik lakukan dalam aktifitas belajar mengajar. Di bagian ini pula dijelaskan strategi aplikatif pendidikan karakter berbasis sufistik. Yang terakhir dari bagian ini adalah berisikan kata-kata mutiara Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang diadopsi dari tulisan-tulisan beliau di banyak kitabnya.

Menariknya, buku ini tidak saja mempereteli kehidupan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kaitannya dengan pendidikan beliau, baik sewaktu beliau menjadi murid (thalib) atau menjadi guru (mathlub), namun lebih dari itu. Buku ini juga sedikit menggali kehidupan Nabi Saw dalam kaitannya beliau mendidik umat pada zamannya.

Namum sayangnya, buku ini kurang dari 40 persen karya-karya primer Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang digunakan sebagai sumber rujukan, hal ini dapat dilihat dari bagian daftar referensi buku ini. Padahal ada puluhan kitab karya beliau lainnya yang mestinya digunakan sebagai sumber primer. Sebab, menurut hemat saya, kurang pas jika menggali bidang-bidang tertentu dari salah satu tokoh, namun digali dari sumber primer yang sangat terbatas. Meski begitu, buku ini cukup memuaskan apalagi untuk saya yang awam perihal kajian sufistik.

*) Penulis adalah alumni UIN Sunan Ampel dan guru di MTs. Miftahul Ulum, Desa Pulau Mandangin Sampang, Madura.(*)


Editor : Putri Kuzaifah
.

Komentar