oleh

Resensi Buku – Sedekah Yang Meriah

PortalMadura.Com – Wajah merupakan cermin yang memantulkan pancaran dari dalam , senyum yang berdasarkan hati nurani dan penuh keikhlasan adalah sebaik-baiknya ekspresi yang mengisyarakatkan sebuah kebahagiaan.

Senyum menggambarkan jiwa serta kepribadian seseorang. Dalam islam Senyum adalah Ibadah seperti yang Islam ajarkan, jika kita tidak memiliki apapun untuk disedekahkan maka bersedekahlah dengan senyum. “Senyum Bersama Rasullullah” adalah terjemahan dari 7 buku yang diluncurkan oleh Athfaluna sebuah lembaga bantuan untuk dunia islam dari Kerajaan Saudi Arabia dan diterjemahkan oleh penulis asal Sumenep, Madura serta tambahan cerita dari Sang penulis.

Buku ini seperti antologi cerita yang diterjemahkan dan diantaranya juga dibuat oleh sang Penulis. Buku ini berisi cerita yang berjumlah 108 cerita. Sang penulis buku ingin sekali mengajak para pembaca terhibur dari terjemahan-terjemahan yang penulis tuangkan, ada beberapa cerita yang memang membuat pembaca itu tersenyum seperti halnya di cerita pertama “Tersenyum Bersama Rasulullah”. “Engkau makan Kurma padahal engkau sakit mata,” kata Rasulullah.

“Ya Rasulullah, aku hanya makan pada sebelah mataku yang sehat,” ujar Shuhaib. Disini menggambarkan bagaimana Rasulullah tersenyum ketika mendengar jawaban dari Syuhaib yang sedang sakit mata dan ketika melihat kurma langsung ingin makan kurma. Begitu juga dicerita-cerita lain seperti atap rumah yang santun, sama tololnya dan masih banyak lagi cerita-cerita lucu yang dihadirkan dalam buku ini. Ketika saya membaca tulisan ini tanpa sadar senyum ini hadir bahkan suara dari rongga mulutpun terdengar dan hati yang resah menari ketika membaca cerita-cerita lucu.

Pada cerita “bocah dan surat” menceritakan bagaimana polosnya ucapan dan tingkah laku seorang anak sehingga membuat tersenyum pembaca atas tingkah mereka pada cerita itu, dimana dikisahkan ada dua orang laki-laki  dewasa dan  anak-anak.

Disaat itu sang laki-laki dewasa melihat si bocah yang sedang menulis dan bertanya: “apakah yang sedang kau kerjakan?,”. “Aku menulis kepada adikku,” jawab sibocah kecil itu. “Bukankah kamu tidak bisa menulis?,” tanya sang laki-laki itu, kemudian sibocah itu menjawab dengan polosnya “ tidak masalah, karena adikku masih kecil dan tidak bisa membaca,”. Dari percakapan tersebut sungguh membuat saya tertawa dengan kepolosan jawaban yang dia lontarkan. Disini sang penulis benar-benar membawa saya kedunia yang tanpa masa.

Membaca judul buku ini “Tersenyum bersama Rasulullah” beserta kata pengantar dan beberapa cerita diawal memang menisbatkan terhadap judul tersebut yang mampu membawa angan pikiran kita  pada cerita-cerita lucu. Dibeberapa cerita terakhir yang ada dalam buku ini memang menonjolkan cerita-cerita dizaman Rasulullah mulai dari cerita Ummul Mukminin Aisyah Ra yang tertuang dalam cerita “Tiga Biji korma”.

Loading...

Cerita perang Yarmuk yang berjudul “Mengutamakan Orang Lain Mati” sampai pada Khalifatur Rasyidin, dan juga cerita dari Nabi lain Selain Nabi Muhamamad SAW seperti nabi Musa dalam cerita “Rasa Malu Musa A.S” , Nabi Nuh dalam “Rasa Malu Para Nabi” dan juga Nabi Ayub dan Nabi Sulaiman .

Dari keseluruhan Cerita itu tidak menceritakan hal yang sekiranya membuat si Pembaca tersenyum tetapi para pembaca diajak mengambil hikmah dari sebuah cerita seperti dalam 2 judul yang sudah disebutkan sebelumnya  disana para pembaca akan bisa memaknai dari cerita tersebut seperti arti sebuah kebersamaan, keikhlasan, kejujuran, syukur dan  juga keimanan.

Di cerita-cerita lucu pada awal bagian buku ini, tersirat tidak adanya korelasi dgn kehidupan Rasulullah hanya ada satu cerita dan  dijadikan judul dibuku ini yaitu cerita “Tersenyum Bersama Rasullulah”. Dan dalam buku ini Pembaca harus  benar-benar memahami  alur beberapa kata atau kalimat yang disitu tidak tertulis dengan utuh, dan teracak  dalam penulisanya seperti kata mendcapat, keabaran, bersamana.

Dari segi bahasa yang dipakai sang penulis dalam buku ini tergolong sederhana serta cepat dimengerti oleh sang pembaca, sang penulis bisa membawa para pembaca menyatu dalam tulisanya tanpa perlu bertanya dan mencari arti dari kata tersebut. Yang biasanya dilakukan oleh para penulis pada zaman sekarang agar terlihat high level, sebab bahasa yang dipakai dibuku ini bahasa familiar yang biasa digunakan sehari-hari.

Dikatakan Septiawan dalam bukunya “Menulis itu Ibarat Ngomong”, ketika kita menulis yang terpenting adalah  bagaimana caranya pesan itu tersampaikan ke pembaca, dan didalam buku ini Sang Penulis melakukanya. Terlepas dari itu semua buku ini sangat menarik untuk dibaca karena mengungkap sebuah senyum dalam bentuk Cerita .

Kita tidak akan pernah berhenti mengagumi Kehidupan Rasullulah yang penuh dengan cerita, melihat kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau yang  terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya. Sikap yang beliau gunakan sebagai  sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam dakwah dan berperilaku.

Gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, yang meluncur dari bibir dan selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam serta efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa dan  menghancurkan tembok  keangkuhan, ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah SENYUMAN. Selamat Membaca!. (choir)

Judul buku : Tersenyum bersama Rasulullah
Penulis : Athfaaluna
Penerjemah : Baihaqi Syaifuddin, Firdaus
ISBN :978-602-229-476-4
Penerbit : Pustaka pelajar, April 2015
Tebal :149 hal +viii

Pamekasan, 12 Juni 2015
Wildona Zumam YourB



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar