oleh

Resensi Buku- Urgensi Intelijen dalam Memenangkan Kontestasi Pemilu

Peresensi: Wardatul Hasanah*

Beberapa waktu lalu Indonesia sudah menyelenggarakan pemilihan kepala daerah serentak yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan, pada 17 April 2019 kita juga akan menyelenggarakan pemilihan presiden (Pilpres).

Sebagai sebuah ajang kontestasi, Pilkada atau Pilpres secara intrinsik mengandung kerawanan yang sangat tinggi mengingat jabatan tersebut sangat strategis karena menyangkut masa depan dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, karawanan ini perlu diantisipasi oleh para pemangku kepentingan agar pemilu berjalan dengan jujur dan adil.

Banyak cara yang dapat dilakukan para kandidat untuk memenangkan pertarungan Pilkada maupun Pilpres. Salah satunya melalui pendekatan intelijen. Buku berjudul Intelijen dan Pilkada: Pendekatan Strategis Menghadapi Dinamika Pemilu karya Stepi Anriani, secara khusus mengupas peran penting intelijen dalam memengkan perhelatan pemilu.

Ketertarikannya pada dunia intelijen ia tuangkan dalam karya buku ini dan artikel yang tersebar di beberapa media massa. Meskipun tema yang diangkat seputar intelijen, tapi pembahasan buku ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh semua kalangan pembaca.

Pendekatan intelijen sangat penting terutama di saat mau menentukan tim sukses, sosialisasi program, mobilisasi massa, pengawasan di lapangan hingga proses penetapan pemenang. Kegiatan intelijen ini dapat digunakan sebagai bagian dari teknik manajemen pemenangan dengan cara yang jujur dan jauh dari perilaku curang.

Memenangkan Pilkada atau Pilpres tanpa kecurangan merupakan hal yang sulit tapi bukan tidak mungkin. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pendekatan intelijen. Karena pada dasarnya setiap orang mempunyai naluri intelijen, hanya “sense of intelligent“-nya yang harus dibangun. Begitu juga dengan penguatan “intelligent minded” bagi aparat intelijen maupun tim sukses kandidat (hlm: 173-174).

Loading...

Memang kegiatan intelijen ini akan menguras energi yang cukup besar karena membutuhkan kekompakan dan militansi yang cukup besar dari para kandidat maupun tim suksesnya. Tawaran gagasan ini dilakukan agar praktik politik uang dan berbagai bentuk kecurangan lain dapat diminimalisasi.

Dalam pandangan penulis, pada saat melakukan rekrutmen tim sukses, kandidat dapat mengadopsi metode rekrutmen bagi agen atau informan intelijen. Dalam proses rekrutmen agen intelijen terdapat latar belakang yang dapat memengaruhi, di antaranya MICE (Money, Ideology, Chemistry, and Ego).

Setelah melakukan rekrutmen tim sukses, hal yang juga perlu dilakukan oleh para kandidat adalah melakukan personal branding melalui marketing politik. Cara ini dilakukan untuk menjaga dan menaikkan elektabilitas kandidat dengan menawarkan ide dan gagasan yang berhubungan dengan persoalan rakyat saat ini.

Ada beberapa pesan yang hendak disampaikan dalam marketing politik ini. Pertama, marketing politik dapat menjadi “teknik” dalam menawarkan dan mempromosikan parpol atau kandidat. Kedua, menjadikan pemilih sebagai subjek, bukan objek.

Ketiga, menjadikan permasalahan yang dihadapi pemilih sebagai langkah awal dalam penyusunan program kerja. Keempat, marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, namun menawarkan sebuah alat untuk menjaga hubungan dengan pemilih sehingga terbangun kepercayaan yang kemudian diperoleh dukungan suara pemilih (hlm: 202).

Karena kontestasi pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden sangat menentukan masa depan Indonesia, maka strategi memenangkan pertarungan ini juga sangat penting. Pendekatan intelijen yang ditawarkan oleh penulis dalam buku ini bisa diadopasi dalam rangka memenangkan Pilkada, Plipres maupun Pileg sehingga menghasilkan para memimpin yang berintegritas, bebas dari politik uang, dan berbagai bentuk kecurangan lainnya.(**)

Judul Buku : Intelijen dan Pilkada: Pendekatan Strategis Menghadapi Dinamika Pemilu
Penulis : Stepi Anriani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2018
Tebal : 225 halaman
ISBN : 978-602-03-8360-6

*Diresensi oleh Alumnus Pondok Pesantren Darul Ulum Pamekasan



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar