Rupiah Anjlok ke Rekor Terendah Sepanjang Sejarah Rp18.129/USD: Apa Pemicu dan Dampaknya?

Avatar of PortalMadura.com
Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini: Amblas ke Rp17.717, Mata Uang Garuda Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah
Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini: Amblas ke Rp17.717, Mata Uang Garuda Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah

PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatat sejarah pahit pada Jumat, 5 Juni 2026, dengan menembus level terendah baru sepanjang masa.

Mata uang Garuda sempat diperdagangkan pada posisi Rp18.129,19 per dolar AS, sebuah rekor yang melampaui titik terburuk selama krisis moneter tahun 1998 yang kala itu berada di angka Rp16.800 per dolar AS.

Meskipun pada penutupan perdagangan sore hari rupiah sedikit merayap menguat ke level Rp18.036 per dolar AS, volatilitas sepanjang hari ini menunjukkan tekanan signifikan yang terus membayangi.

Data dari Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI) pada pagi hari Jumat menunjukkan pelemahan tajam sebesar 108,65 poin dari posisi Kamis, mengindikasikan tekanan pasar yang kuat.

Pemicu Pelemahan Rupiah: Kombinasi Faktor Domestik dan Global

Pelemahan rupiah ini bukan tanpa sebab, melainkan kombinasi kompleks dari sentimen domestik dan eksternal yang terus menekan.

Dari sisi domestik, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) yang dirilis pada 2 Juni 2026 menjadi katalis utama pelemahan ini.

Surplus perdagangan April 2026 hanya mencapai US$0,09 miliar, jauh di bawah ekspektasi pasar dan anjlok signifikan dari US$3,32 miliar pada bulan sebelumnya.

Penurunan surplus ini secara langsung mengurangi pasokan devisa dari aktivitas perdagangan luar negeri, sehingga memberikan tekanan berat pada rupiah.

Kekhawatiran investor terhadap independensi Bank Indonesia pasca pengesahan regulasi yang memperluas peran bank sentral juga menambah kehati-hatian pelaku pasar terhadap aset Indonesia.

Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan valuta asing turut berkontribusi pada tekanan terhadap nilai tukar.

Tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran utang jatuh tempo, serta pembagian dividen perusahaan semakin memperburuk situasi.

Bahkan, perpindahan dana masyarakat ke aset berbasis valuta asing turut memperbesar tekanan jual terhadap rupiah.

Kondisi fiskal pemerintah yang dicermati pasar, terutama defisit APBN 2025 yang mendekati batas 3% terhadap PDB, juga menjadi perhatian investor.

Di sisi eksternal, penguatan dolar AS di tengah tingginya ketidakpastian global menjadi faktor dominan.

Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, meningkatkan harga minyak mentah global dan memicu kekhawatiran inflasi.

Kondisi ini mendorong bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve (The Fed) AS, untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi menaikkan kembali suku bunga pada tahun 2026.

Data pasar tenaga kerja AS yang kuat juga memperkuat ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat, menjadikan dolar AS semakin menarik sebagai aset safe haven.

Akibatnya, aliran modal dari negara berkembang cenderung terbatas, dan aset berbasis dolar AS menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor global.

Respon Bank Indonesia dan Rekomendasi untuk Stabilisasi

Bank Indonesia (BI) telah berupaya keras untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ini.

BI telah meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi.

Langkah-langkah stabilisasi ini bertujuan untuk memastikan kecukupan likuiditas valuta asing di pasar.

Sebelumnya, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai upaya menahan tekanan terhadap rupiah.

Pemerintah juga disarankan untuk memperkuat kepercayaan investor melalui konsistensi kebijakan ekonomi dan menjaga kredibilitas fiskal.

Optimalisasi devisa hasil ekspor juga penting agar pasokan valas di dalam negeri tetap terjaga.

Proyeksi dan Implikasi ke Depan

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tren melemah dengan volatilitas tinggi hingga akhir Juni 2026.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi bahkan memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi menembus level Rp19.000 per dolar AS pada bulan Juni 2026.

Meski demikian, intervensi Bank Indonesia dan posisi cadangan devisa yang masih memadai diharapkan dapat menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam.

Pergerakan rupiah dalam waktu dekat cenderung memasuki fase stabilisasi, bukan pemulihan yang kuat.

Bagi investor, disarankan untuk mengedepankan prinsip diversifikasi dan menghindari aksi spekulatif jangka pendek di tengah tingginya volatilitas pasar valuta asing.

Valuta asing sebaiknya diposisikan sebagai instrumen lindung nilai (hedging), bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan dari pergerakan kurs.

Dolar AS masih menjadi pilihan utama untuk kebutuhan diversifikasi dan lindung nilai karena statusnya sebagai aset safe haven dan tingkat likuiditas yang tinggi.

Pelemahan rupiah berdampak luas, mulai dari biaya energi, pangan, pakan ternak, hingga berbagai kebutuhan pokok masyarakat.

Oleh karena itu, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga kesehatan perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses