PORTALMADURA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Pergerakan mata uang Garuda tercatat melemah di pasar spot seiring meningkatnya dinamika pasar keuangan global serta sentimen domestik.
Berdasarkan data perdagangan pasar uang pada Selasa pagi (28/7/2026), rupiah dibuka melemah sebesar 59 poin atau 0,33 persen berada di posisi Rp18.068 per dolar AS. Tekanan terus berlanjut hingga transaksi tengah hari, di mana rupiah sempat merosot hingga menyentuh kisaran Rp18.108 per dolar AS.
Faktor Utama Pemicu Pelemahan Rupiah
Pelemahan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang memicu kehati-hatian di kalangan pelaku pasar:
- Ekspektasi Suku Bunga The Fed: Pasar merespons spekulasi ketatnya kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) menjelang pengumuman suku bunga acuan. Penguatan indeks dolar AS memicu pelemahan mayoritas mata uang kawasan Asia.
- Geopolitik Global: Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memicu kenaikan harga energi global, yang berdampak pada kekhawatiran inflasi serta menguntungkan posisi dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
- Dinamika Pasar Domestik: Isu transisi kepemimpinan di Bank Indonesia dan kewaspadaan terhadap kepastian kebijakan moneter dalam negeri membuat investor cenderung mengambil sikap menanti (wait and see).
Sikap Bank Indonesia Menjaga Stabilitas
Menanggapi fluktuasi nilai tukar, Bank Indonesia dipastikan tetap berada di pasar untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah-langkah intervensi di pasar spot maupun pasar obligasi terus dilakukan guna meminimalkan volatilitas berlebih yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi riil.
Para analis memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan berada pada rentang konsolidasi Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS seiring mencermati perkembangan rilis data ekonomi internasional terbaru.





