oleh

Setelah Sri Lanka, Asia Tenggara Bersiap Hadapi Serangan Teror

PortalMadura.Com, Jakarta – Para pejabat militer Filipina menyatakan mereka menerima laporan intelijen bahwa Negara itu bisa menjadi sasaran serangan bom berikutnya setelah Sri Lanka yang menewaskan 360 orang.

Militan lokal Filipina yang berafiliasi dengan Daesh bisa melancarkan serangan setelah terinspirasi oleh pemboman bunuh diri gereja dan hotel di Sri Lanka, kata pejabat militer yang meminta tetap anonim kepada BenarNews.

“Itu kemungkinan nyata. Serangan bom tidak terlalu mengada-ada,” kata seorang pejabat tinggi tanpa membocorkan informasi spesifik, termasuk sumber dan rincian laporan intelijen. dilaporkan Anadolu Agency, Jumat (26/4/2019).

Pada Rabu lalu, pasukan Pemerintah Filipina menewaskan empat gerilyawan kelompok Abu Sayyaf, pejabat militer melaporkan.

Serangan yang melibatkan pasukan darat dan helikopter dilakukan di tengah kecurigaan bahwa para militan Abu Sayyaf Group dapat melakukan serangan seperti Sri Lanka.

Sehari sebelumnya, Daesh mengklaim bertanggung jawab atas pemboman di kota-kota Kolombo, Negombo, dan Batticaloa di Sri Lanka.

Kantor berita Amaqmerilis sebuah video yang memperlihatkan delapan pria yang berdiri di depan bendera Daesh, menyatakan kesetiaan kepada Abu Bakr al-Baghdadi.

Sebagian besar pelaku bom bunuh diri berpendidikan baik dan berasal dari keluarga yang kuat secara ekonomi, kata Ruwan Wijewardene, menteri pertahanan junior Sri Lanka.

Pemerintah mencurigai bahwa dua kelompok radikal Islam Sri Lanka, Jamaat Thowheed Nasional dan Jammiyathul Millathu Ibrahim bertanggung jawab, dengan bantuan dari luar.

Loading...

Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena meminta kepala polisi dan menteri pertahanan untuk mengundurkan diri, menurut laporan media.

Sebelumnya, muncul laporan bahwa India telah memperingatkan Kolombo bahwa teroris berencana untuk menyerang gereja.

Asia jadi target

Pemboman Minggu di Negara pulau Asia Selatan itu menunjukkan bahwa Daesh telah memindahkan fokusnya dan tetap menjadi ancaman berbahaya meskipun kalah di Irak dan Suriah, menurut analis terorisme regional.

“Daesh mengalihkan kegiatan kekerasannya ke Asia, tempat para pengikut masih ada, untuk melanjutkan jihad kekerasan mereka,” analis Rommel Banlaoi mengatakan kepada BenarNews.

“Pemboman Sri Lanka dapat menginspirasi pengikut Daesh di Filipina untuk melakukan serangan serupa,” kata Banlaoi, yang mengepalai Institut Penelitian Perdamaian, Kekerasan dan Terorisme Filipina.

Di Indonesia, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengatakan bahwa aparat mampu mengantisipasi serangan serupa yang mungkin terjadi setelah pemboman di Surabaya pada 2018.

“Setelah pemboman Surabaya, polisi telah menangkap banyak tersangka teroris,” ujar Jones.

Stanislaus Riyanta, seorang analis keamanan di Universitas Indonesia, mengatakan undang-undang anti-teror baru disahkan setelah ledakan Surabaya telah memperkuat upaya polisi, tetapi dia memperingatkan bahwa serangan baru dapat terjadi.

“Sel-sel yang tidur di Indonesia hanya menunggu pemicu. Sejauh ini, jaringan JAD (Jamaah Ansyarut Daulah) dan MIT (Mujahidin Indonesia Timur) terus dimonitor. Tetapi ancaman itu datang dari serigala tunggal atau sel-sel tidur yang tidak dilacak oleh Densus 88,” katanya.

Anadolu Agency
Sumber : Anadolu Agency

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE