PortalMadura.com

Siput Ajaib, Peninggalan Pangeran Siding Margo di Desa Juruan Laok Sumenep

  • Senin, 12 Februari 2018 | 14:22
Siput Ajaib, Peninggalan Pangeran Siding Margo di Desa Juruan Laok Sumenep
Sumber Kabbuan Dusun Kapeng, Desa Juruan Laok, Batuputih, Sumenep (Foto. Diwi Amaliyah)

PortalMadura.Com, Sumenep – Sumber Kabbuan yang berlokasi di Dusun Kapeng, Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur tergolong ajaib.

Satu-satunya mata air yang tempo dulu disebut-sebut dimanfaatkan untuk bercocok tanam oleh Pangeran Siding Margo pada abat ke 16 terdapat banyak siput (bekecot/achatina fulica) berukuran kecil berwarna hitam.

Air dari siput tersebut dipercaya sebagai obat untuk penyakit kuping. Warga sekitar, secara turun-temurun menjadikan air siput itu untuk obat. Bahkan, kepercayaan itu tetap berlangsung hingga saat ini.

Atas kehendak Allah, warga yang berobat menggunakan air siput tersebut sembuh total tanpa harus ke medis.

Tidak ada yang tahu berasal dari mana siput tersebut. Dari sumber utama yang terletak di sebelah timur pemandian umum, siput-siput hitam kecil tersebut dapat diambil oleh siapa pun tanpa harus bayar. Siput itu jumlahnya banyak dan tidak ada habis-habisnya.

Warga menyebutnya siput ajaib dari mata air Pangeran Siding Margo. Sumber tersebut diberi nama Sumber Kabbuan. Di sumber utama, juga banyak terlihat ikan lele warna-warni dan unik.

Penamaan Sumber Kabbuan

Sumber Utama Kabbuan (Foto. Diwi Amaliyah)

Sumber Kabbuan tidak lepas dari keajaiban atau peristiwa yang terjadi di masa lalu. Konon, sumber tersebut airnya mengalir sangat besar dan diprediksi akan banjir serta bisa merusak lahan pertanian sekitarnya. Sumber ini bukan buatan manusia, namun air keluar secara alami.

Warga bersama Siding Margo akhirnya memutuskan untuk ditutup menggunakan sebuah alat musik berbentuk bundar yang dipukul (Tabbuan, alat musik yang dipukul). Berawal dari itulah, aliran air mengecil dan lahan pertanian terselamatkan. Maka diberi nama sumber Kabbuan persamaan dari kata Tabbuan.

Sekretaris Desa Juruan Laok, Batuputih, Sumenep, Ach. Masroyo menjelaskan, kondisi sumber utama Kabbuan masih alami. Meski ada pembangunan di bagian pemandian umum, warga tidak berani mengganti struktur batunya.

“Kondisi sumber itu dibiarkan alami. Warga hanya membersihkan setiap tahun agar aliran air tetap lancar,” jelasnya.

Ia mengakui, bawah masyarakat sekitar masih percaya dengan keajaiban air dan siput yang ada di sumber utama tersebut. “Ini di luar nalar manusia, karena faktanya memang warga yang ke sana sembuh, terutama yang menderita sakit kuping,” katanya.

Bahkan, tidak harus berulang kali. Sekali melakukan pengobatan sendiri dengan media air siput yang diteteskan ke kuping yang sakit, mereka merasakan kesembuhan atas Rida Allah.

Tidak Ada Tumbal

Warga yang merasakan keajaiban dari air dan siput Sumber Kabbuan tidak perlu tumbal. Bahkan, tidak ada pembiayaan apa pun. Mereka hanya membawa ketupat untuk memberi makan pada ikan lele yang warna-warni di dalam sumber tersebut.

“Sebagai wujud syukur, mereka memberi makan pada ikan yang ada di sumber utama itu. Itu saja,” imbuh Masroyo.

Rute menuju Sumber Kabbuan



Rute menuju Sumber Kabbuan (screenshot)

Untuk sampai ke Sumber Kabbuan tidak sulit. Dari jantung kota Sumenep berjarak 20-an KM dan dapat dilalui dengan motor, roda empat maupun mobil penumpang umum jurusan Kecamatan Batuputih.

Di simpang 3 Tokur Sonok (Desa Tengedan) belok kiri (menuju utara). Jalan itu, satu-satunya jalan menuju Makam Asta Juruan (Siding Margo). Sekitar 1 KM dari simpang 3 tersebut, Anda akan menemukan jalan menuju Sumber Kabbuan atau jalan menuju Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Wathan, Dusun Kapeng, Juruan Laok. Di halaman MI ini, kendaraan bermotor dapat diparkir.

Bila akan melanjutkan perjalanan menuju Makam (Asta) Juruan (Siding Margo), masih dibutuhkan perjalanan 5 KM dari lokasi Sumber Kabbuan tersebut.

Siapa Siding Margo?

dok. Asta (makam) Raden Fatah Desa Juruan Daya

Siding Margo yang saat ini makamnya ada di Desa Juruan Daya dengan nama Raden Fatah adalah salah satu penyebar agama Islam pada abat ke-16 di wilayah utara dari kota Sumenep.

Ia merupakan saudara dari Pangeran Katandur (Sayyid Ahmad Baidlawi)-makamnya ada di Desa Bangkal, Sumenep dan merupakan cucu dari Sunan Kudus (Jakfar Sodik bin Sunan Andung).

Keduanya adalah putra dari Panembahan Pakaos dari 12 bersaudara. Panembahan Pakaos atau Sayyid Sholeh merupakan anak yang ke-9.

Arti Siding Margo

Salah satu sejarawan Sumenep, Tajul Arifin menjelaskan, Siding Margo adalah sebuah sebutan. “Artinya, sido ing margo. Mate e gunung (meninggal dunia di gunung),” terang Tajul pada PortalMadura.Com, Senin (12/2/2018).

Sayangnya, keberadaan Siding Margo atau Raden Fatah begitu warga setempat menyebutnya, tidak ada yang tahu kapan lahir dan wafat. Batu nisan sudah diganti dan pesarean Siding Margo juga ditemukan oleh warga sekitar dengan tanda-tanda bernuansa mistis.

Tonton Juga : Liputan Keunikan Asta Juruan

Sumber lain menyebutkan, pesarean Siding Margo dulunya hutan belantara. Keberadaannya ditemukan oleh warga karena sering terjadi peristiwa mistik. Salah satunya ada penunggang kuda yang membawa beras ternyata berubah menjadi garam.

Dari itulah muncul keinginan masyarakat setempat untuk mengetahui penyebab yang timbul dengan adanya beberapa keanehan yang sering kali terjadi di daerah tersebut. Langkah yang dilakukannya adalah melakukan ritual suci berupa tahlilan serta menggelar musik khas Madura, berupa saronen yang ditampilkan semalam suntuk.

Warga datang berbondong-bondong ke lokasi ritual tersebut. Warga setempatnya menyebutnya salameddan (Selamatan). Mereka membawa berbagai macam hasil panen, seperti buah-buahan dan makanan pokok serta binatang terna.

Berkat ritual tersebut, datanglah petunjuk (ilham, warga menyebutnya) kepada salah satu pemuka agama bahwa di daerah tersebut terdapat jasad (makam) seorang waliyullah yang meninggal dunia saat bertapa dan minta dikuburkan di daerah tersebut.

Kebiasaan warga sekitar membawa hasil pertanian dan hewan, baik ayam, kambing maupun sapi masih berlangsung sampai saat ini. Dalam perkembangannya, bawaan mereka diniatkan untuk sedekah. (Hartono)

Loading...
Advertisement
banner300x250

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional