oleh

Siswa Pukul Guru Hingga Tewas, Senator Sebut Sekolah Minus Pendidikan Kesantunan

PortalMadura.Com, Sampang – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jawa Timur, Ahmad Nawardi, mengaku terpukul dan menyesalkan perbuatan tidak patut seorang siswa SMA 1 Torjun, Sampang, Madura, yang memukul gurunya, Ahmad Budi Cahyanto, hingga meninggal dunia. Meski pelaku telah diproses secara hukum, namun peristiwa ini, menurut Nawardi, telah mencoreng institusi pendidikan di Indonesia.

Duka cita itu disampaikan Ahmad Nawardi saat menemui keluarga korban di rumahnya di Desa Torjun, Sampang, Jawa Timur, pada Sabtu (03/01/2017). Ia prihatin atas kejadian memilukan ini, apalagi diketahui, keluarga korban adalah pendidik tidak tetap yang ikhlas mengajar selama puluhan tahun.

“Keprihatinan saya tentu juga menjadi keprihatinan semua orang dan semua pihak di Indonesia. Korban ini pendidik tanpa pamrih, dengan gaji yang tidak seberapa. Bapak korban juga seorang guru puluhan tahun. Mereka keluarga ikhlas yang mendedikasikan ilmunya untuk bangsa,” kata Nawardi.

Diketahui, korban adalah guru tidak tetap pengampu materi kesenian yang disukai siswa. Kegemaran dan kemahiran dalam bidang seni dan musik membuatnya disenangi anak didik dan guru. Bapaknya, M. Satuman Asari, juga mengabdi menjadi guru honorer selama lima belas tahun.

“Mereka mengabdi untuk mencerdaskan anak didik, untuk kemajuan negeri. Saya berharap, kasus ini diselesaikan secara hukum, melalui mekanisme hukum yang berlaku. Kita tahu pelaku kekerasan ini di bawah umur,” sebut mantan anggota DPRD Jawa Timur tersebut.

Nawardi menilai, peristiwa ini menjadi bukti bahwa pendidikan formal di Indonesia belum memaksimalkan nilai kesantunan. Ia khawatir, kejadian pemukulan ini akan merusak marwah pendidikan di Indonesia.

“Kita kehilangan sosok kreatif, seorang guru teladan yang mengajar bukan karena gaji. Kepolisian dan pengadilan memang telah memproses kasus hukum ini. Tetapi, yang juga penting menurut saya, kita diteksi bahwa ada yang salah dari sistem formal sekolah kita,” ungkap Ketua HKTI Jatim ini.

Menurut Nawardi, peristiwa ini telah membuktikan bahwa kerangka pendidikan karakter belum secara maksimal dilaksanakan di sekolah. Padahal, bagi Nawardi, hal itu penting untuk membentuk pemahaman religius dan sosial peserta didik.

“Nilai dari pendidikan karakter belum tersentuh. Sistem sekolah masih terlalu berfokus pada soal materi ajar dan LKS. Padahal, ada prinsip yang harus ditanamkan kepada siswa di luar materi buku, yaitu karakter dan kesantunan,” ungkap mantan wartawan Tempo ini.

Nawardi menambahkan, sekolah harus memerhatikan pendidikan moral. Pendidikan moral, menurutnya, adalah modal awal untuk meneguhkan karakter peserta didik. Kemudian, lanjut Nawardi, pendidikan agama juga sangat penting untuk menanamkan perilaku yang santun.

“Moral dan keadaban tidak melulu diajarkan melalui lembar teks sekolah, tetapi melalui instrumen lain untuk mendukung karakter siswa. Bimbingan Konseling (BK), misalnya. Apalagi, menurut saya, pendidikan agama sangat penting untuk memantapkan kesantunan dan akhlak luhur,” tegasnya.

Nawardi berharap, kejadian praktik kriminal kepada guru tidak lagi terulang di lembaga pendidikan. Sejak dini, peserta didik harus dibekali dengan peneguhan karakter. Tak kalah penting, tambahnya, lingkungan harus kondusif mendukung nilai karakter yang telah diajarkan di sekolah, baik keluarga, kerabat, dan masyarakat.

“Semoga tidak terulang kejadian memilukan ini. Semua orang bersedih. Saya harap, sekolah benar-benar membekali peserta didik dengan nilai karakter, baik melalui pengajaran formal atau tidak. Pemerintah melalui Kemendikbud juga harus mengontrol, bila perlu redesain, sistem pendidikan di sekolah. Pastikan enam karakter itu betul-betul dihadirkan di ruang kelas,” tegas Nawardi.

“Kemendikbud juga mesti mengatur model perlindungan terhadap tenaga pendidik di sekolah. Baru sekali ini ada siswa memukuli gurunya hingga meninggal. Ini mesti menjadi koreksi dari Kemendikbud, hal apa yang mesti dibenah di sistem pendidikan sekolah” tegas Nawardi.

Seperti diketahui, kasus penganiayaan guru kesenian bernama Ahmad Budi Cahyanto oleh muridnya inisial MH terjadi pada Kamis (01/02) sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, Budi Cahyanto sedang mengajar di kelas materi kesenian dan melihat MH mengganggu teman-teman lainnya. Budi Cahyanto mendatangi siswa MH dan mencoret pipinya dengan tinta.

Namun siswa MH memukul Budi Cahyanto. Pelaku juga dikabarkan mencegat Cahyanto saat pulang sekolah dan memukul korban. Sampai di rumah, korban langsung tidak sadarkan diri dan dirujuk ke RS. dr. Soetomo Surabaya. Namun naas, nyawa Budi Cahyanto tidak terselamatkan dan ia meninggal di rumah sakit sekitar pukul 21.40 WIB.(*)