Umrah dan Haji Sebagai Titik Balik Perubahan

Avatar of PortalMadura.Com
Umrah dan Haji Sebagai Titik Balik Perubahan
Ilustrasi

S. Nurul Hidayah, S.Si, S.Kom*

Perjalanan umrah kami pada tanggal 12 sampai 22 Januari 2025 menjadi pengalaman spiritual yang sangat menggugah hati. Bukan hanya karena rangkaian ibadah yang dilaksanakan, tetapi juga karena pemandangan luar biasa yang saya saksikan langsung berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai bangsa, warna kulit, dan bahasa berkumpul di Tanah Suci dengan tujuan yang sama yaitu mengharap ridha Allah SWT dan mengikuti jejak Nabiyullah Muhammad SAW.

Fenomena menakjubkan umat Islam

Fenomena ini bukan sekadar keramaian biasa, melainkan sebuah tanda yang amat nyata bahwa keimanan dan kecintaan umat Islam kepada Rabb-nya dan Rasul-Nya tetap hidup dan terus menyala di dalam dada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Bahkan yang paling menakjubkan, Ka’bah seolah tidak pernah sepi sedetik pun. Dari pagi hingga malam, dari malam hingga dini hari, selalu ada yang thawaf, selalu ada yang berdoa, selalu ada yang menangis dalam munajat kepada Allah. Ini menjadi bukti kuat bahwa Islam bukan agama kecil, melainkan agama mayoritas yang nyata keberadaannya, kuat pengaruhnya, dan luas umatnya di dunia. Hal ini tidak dijumpai pada umat di dalam agama lainnya di dunia.

Namun, di balik pemandangan agung tersebut, perlu menjadi renungan besar bagi kita semua, umat Islam begitu semangat dalam ibadah umroh dan haji, begitu besar pengorbanannya, baik tenaga, waktu, maupun harta, demi bisa hadir di Baitullah. Semangat ibadah ini menunjukkan bahwa umat Islam sesungguhnya memiliki modal luar biasa berupa keimanan yang tinggi dan kesiapan berjuang untuk taat kepada perintah Allah. Hal ini seharusnya menjadi harapan besar bagi masa depan Islam.

Jika semangat ini mampu diarahkan lebih luas, maka semestinya umat Islam pun memiliki semangat yang sama dalam memperjuangkan kemuliaan Dinullah Islam dan membela kaum muslimin yang saat ini banyak mengalami penderitaan di berbagai negeri. Realitas yang kita saksikan hari ini, umat Islam seakan tercabik-cabik, lemah dalam perlindungan, dan tidak memiliki satu kepemimpinan yang benar-benar menaungi seluruh kepentingan umat. Padahal jumlah umatnya sangat besar, dan kesatuan aqidahnya sangat kokoh.

Umat Islam harus wujudkan Ukhuwah Islamiyah nyata

Karena itulah, ini menjadi PR besar bagi kita semua, khususnya bagi para tokoh, ulama, pemikir, dan siapa pun yang memiliki peran di tengah masyarakat. Bagaimana semangat besar umat Islam yang tampak di Mekkah dan Madinah ini dapat berubah menjadi energi perjuangan yang lebih luas? Semangat yang bukan hanya semangat individu dalam ibadah ritual, tetapi juga semangat kolektif untuk menegakkan kemuliaan Islam dalam kehidupan.

Perlu ditekankan kembali bahwa umat Islam harus mampu mewujudkan ukhuwah Islamiyahyang nyata, tidak hanya sebatas slogan, tetapi dalam bentuk persatuan kepemimpinan Islam yang satu dalam naungan Khilafah Islamiyah. Sebab ketundukan dan kecintaan kepada Allah tidak cukup hanya dibuktikan melalui ritual ibadah semata. Ketaatan kepada Allah perlu diwujudkan dalam penerapan hukum-hukum Islam secara menyeluruh, termasuk dalam mengatur urusan publik umat dalam bermasyarakat dan bernegara. Islam bukan sekadar agama spiritual, tetapi juga sistem kehidupan yang mengatur manusia dengan aturan Rabb-nya.

Jadikan Umroh dan Haji Sebagai Titik Balik Perubahan

Dengan demikian, hakikat seorang muslim yang telah melaksanakan umroh dan haji sejatinya telah menjalankan bagian dari perintah Allah SWT dalam syari’at Islam, dengan landasan aqidah Islam yang kuat. Ibadah umroh ini seharusnya menjadi sarana untuk semakin mengokohkan ketakwaan secara menyeluruh, yaitu dalam hubungan seorang hamba dengan Allah (hablun min Allah), hubungan dengan dirinya (hablun minan nafsi), dan hubungan dengan sesama manusia (hablun minan nas).

Akan tetapi, jika kita melihat kondisi umat Islam hari ini, nilai besar tersebut belum tampak secara nyata dalam tubuh umat. Masih banyak perpecahan, kelemahan, bahkan jauh dari persatuan yang kuat. Inilah yang seharusnya menjadi harapan besar sekaligus panggilan bagi umat Islam semuanya agar ibadah yang kita jalani di Tanah Suci tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi menjadi titik balik perubahanmenuju pribadi yang lebih taat, masyarakat yang lebih sadar Islam, dan umat yang lebih siap bangkit dalam kemuliaan.

Ibadah umrohbagi saya bukan hanya perjalanan jasad menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan hati untuk memahami bahwa umat Islam memiliki iman yang besar, dan iman itu semestinya melahirkan gerak perubahan yang besar pula. Semoga Allah SWT menerima ibadah umroh ini, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan umat Islam kembali bersatu, kuat, dan dimuliakan dalam ketaatan yang sempurna kepada syari’at-Nya. Aamiin.(**)

*Pengamat publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses