PortalMadura.com – Memasuki tanggal 5 Juli 2026, pergerakan harga kebutuhan pokok atau sembako di berbagai pasar tradisional Indonesia menunjukkan dinamika yang bervariasi.
Berdasarkan data terkini yang tersedia hingga 4 Juli 2026 dari berbagai sumber nasional maupun regional, beberapa komoditas mengalami penurunan harga yang cukup signifikan, sementara yang lain terpantau naik tipis atau relatif stabil.
Fluktuasi ini menjadi perhatian utama bagi masyarakat dan pelaku usaha dalam menghadapi kebutuhan sehari-hari.
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia dan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur menjadi rujukan utama dalam memantau tren harga pangan.
Umumnya, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang menunjukkan pergerakan yang paling mencolok.
Fluktuasi Harga Komoditas Utama di Awal Juli 2026
Cabai dan Bawang Merah: Dinamika Harga yang Beragam
Kelompok cabai kembali menjadi primadona dalam pergerakan harga di awal Juli 2026 ini.
Pada 2 Juli 2026, cabai rawit merah tercatat mengalami penurunan harga yang signifikan, terkoreksi hingga Rp5.000 per kilogram menjadi sekitar Rp63.900/kg secara nasional.
Penurunan ini melanjutkan tren dari 1 Juli 2026, di mana cabai rawit merah juga turun 8,61 persen menjadi Rp64.250/kg.
Tak hanya cabai rawit merah, jenis cabai lainnya juga terpantau turun.
Cabai merah keriting pada 2 Juli berada di angka Rp51.600/kg, dan cabai merah besar di Rp51.800/kg, keduanya menunjukkan penurunan.
Namun, ada catatan dari Pasar Kebayoran Lama pada 3 Juli 2026 bahwa harga cabai rawit masih dibanderol sekitar Rp70.000 per kg, meskipun telah turun dari sebelumnya Rp100.000/kg.
Untuk komoditas bawang, bawang merah ukuran sedang juga menunjukkan penurunan pada awal Juli.
Pada 2 Juli, harganya sekitar Rp48.300/kg, turun Rp2.750.
Sementara itu, bawang putih ukuran sedang cenderung mengalami kenaikan tipis, dengan harga rata-rata Rp44.000/kg pada 2 Juli 2026.
Beras dan Daging Sapi: Kenaikan yang Bertahan
Pada kelompok beras, pergerakan harga di awal Juli cenderung menunjukkan kenaikan tipis, meskipun tidak terlalu signifikan.
Pada 2 Juli 2026, beberapa jenis beras seperti beras kualitas bawah I dan super I terpantau naik sekitar Rp50 per kilogram.
Beras kualitas bawah I mencapai Rp14.700/kg, dan beras kualitas super I mencapai Rp17.650/kg.
Harga daging sapi masih bertahan di level yang cukup tinggi.
Pada 2 Juli 2026, daging sapi kualitas 1 berada di kisaran Rp150.100/kg, sementara kualitas 2 mencapai Rp141.100/kg, keduanya mengalami kenaikan tipis.
Di Pasar Kebayoran Lama, pedagang mengeluhkan harga daging sapi yang kerap melonjak hingga Rp150.000/kg, membuat pembeli sepi.
Telur dan Daging Ayam: Ada Penurunan Harga
Berita baik datang dari harga telur ayam ras dan daging ayam.
Pada 2 Juli 2026, telur ayam ras segar terpantau turun sekitar Rp450 menjadi Rp29.250/kg.
Bahkan, di Pasar Kebayoran Lama, harga telur sempat turun menjadi Rp24.000-Rp25.000 per kg pada 3 Juli 2026.
Daging ayam ras segar juga mengalami penurunan.
Pada 2 Juli 2026, harganya turun Rp300 menjadi Rp36.750/kg.
Di Pasar Kebayoran Lama, harga ayam potong turun dari Rp50.000/kg menjadi Rp45.000/kg pada 3 Juli 2026.
Minyak Goreng dan Gula: Relatif Stabil
Kelompok kebutuhan pokok lainnya seperti minyak goreng dan gula cenderung tidak mengalami perubahan besar.
Pada 2 Juli 2026, gula pasir premium berada di angka Rp20.300/kg dan gula pasir lokal Rp19.050/kg.
Minyak goreng curah juga relatif stabil di sekitar Rp20.550/kg, dengan minyak goreng kemasan bermerek juga tidak banyak berubah.
Namun, Siskaperbapo Jawa Timur pada 4 Juli 2026 mencatat adanya kenaikan pada minyak goreng curah menjadi Rp20.739/kg dan minyak goreng kemasan premium menjadi Rp22.053/liter, sementara minyak goreng Minyakita justru turun tipis.
Ini menunjukkan adanya perbedaan harga antar daerah yang perlu diperhatikan.
Implikasi bagi Konsumen dan Pedagang
Pergerakan harga sembako yang fluktuatif ini tentu berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Penurunan harga cabai dan telur menjadi angin segar bagi konsumen, namun kenaikan tipis pada beras dan tingginya harga daging sapi masih menjadi tantangan.
Pedagang pun harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis ini, yang kadang kala memengaruhi margin keuntungan mereka.
Rusmini, seorang pedagang sayur di Pasar Kebayoran Lama, menjelaskan bahwa harga pangan sangat ditentukan oleh hasil panen. “Kalau lagi panen turun.
Kalau lagi enggak panen naik,” katanya pada 3 Juli 2026.
Hal ini menggambarkan ketergantungan pasokan terhadap musim panen.
Faktor Pemicu Perubahan Harga Sembako
Beberapa faktor disinyalir menjadi pemicu fluktuasi harga sembako.
Selain faktor musim panen seperti yang disebutkan pedagang, dinamika pasokan dan permintaan di tingkat daerah juga sangat berpengaruh.
Program pemerintah terkait ketersediaan pasokan juga dapat memengaruhi gejolak harga.
Monitoring harga sembako secara rutin sangat penting, tidak hanya bagi rumah tangga untuk mengatur anggaran belanja, tetapi juga bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tepat guna menjaga stabilitas pasar dan mengendalikan inflasi.
Harapannya, harga-harga kebutuhan pokok dapat tetap terjangkau dan stabil bagi seluruh lapisan masyarakat.






