PortalMadura.com

Pengaruh Tokoh Sumenep Terhadap Perkembangan Islam di Madura

  • Jumat, 2 Oktober 2015 | 11:35
Pengaruh Tokoh Sumenep Terhadap Perkembangan Islam di Madura
buku : Kera pun bisa Mengaji
Loading...

PortalMadura.Com – Buku Kera pun Bisa Mengaji (Rekam Jejak Sejarah Islam Di Madura) ini bertujuan untuk memberitahukan kepada pembaca tentang bagaimana perjalanan sejarah Islam di Madura, sejak zaman kerajaan, penjajahan, awal kemerdekaan (orde lama), orde baru, sampai pasca reformasi.

Selain itu, buku ini juga bertujuan memberitahukan tentang kiprah dan perjuangan ulama dalam mendakwahkan agama Islam di Sumenep dari tahun 1750-2014 M.

Dalam buku setebal 173 halaman itu, menceritakan tentang biografi 24 tokoh pejuang Islam yang kiprahnya masih dapat dirasakan sampai saat ini. Adapun diantara 24 tersebut adalah; Kiai Ali Barangbang, Bindhara Saod, Sultan Abdurahman, KiaiZainalArifin, Kiai Ilyas Syarqawi dan lain-lain. Semua tokoh tersebut sangat berpengaruh terhadap sejarah Islam di Madura.

Dalam halaman pertama buku ini menjelaskan tentang sosok Kiai Ali Barambangan. Yang mana Kiai Ali merupakan putra dari Kiai Hatib Paddusan Bin Sayyid Baidhawi Bin Panembahan Pakaos Bin Sayyid Jakfar As-Shodik (Sunan Kudus).

Dalam sejarahnya, beliau memiliki sebuah pesantren yang di dalamnya  banyak sekali santrinya. Sehingga, suatu hari, anak seorang raja pun di masukkan kedalam pesantrennya. Beliau juga merupakan sosok Kiai yang bijak dan tegas dalam bertindak.

Pernah suatu hari, ada seorang santrinya yang bodoh, dimana santri ini adalah anaknya seorang raja. Kiai Ali dalam menyikapi anak yang bodoh tersebut ia lantas langsung memarahi dan memukulnya.

Apa yang dilakukannya tersebut sebenarnya untuk memukul kebodohannya dan bukan ditujukan kepada orangnya.
Pada lembaran-lembaran selanjutnya – setelah Kiai Ali, banyak lagi paratokoh Islam yang juga berperanguh terhadap perkembangan ajaran Islam di daerah Ssumenep.

Perjuangan untuk membumikan ajaran Islam dari segala persoalan-persoalan yang pada waktu itu melanda di Kabupaten Sumenep. Persoalan tersebut sangat beragam, sesuai dengan era yang terjadi saat itu. Misalnya, era sejak zaman kerajaan, penjajahan, awal kemerdekaan (orde lama), orde baru, sampai pada pasca reformasi.

Salah satu rekam jejak yang dapat diambil benang merahnya dari perjuangan para tokoh yang berjumlah 24 yaitu Sultan Abdurrahman yang melakukan strategi politik jangka panjang untuk memberikan ruang segar bagi masyarakat Sumenep agar bisa berdiri tegak otonom dihadapan eks kekuatan Mataram ataupun Belanda sendiri yang mana kedua kubu tersebut  merupakan entitas yang secara politik ekonomis merugikan Sumenep.

Adapun factor Sumenep harus menyerahkan upeti berkala terhadap Mataram sebagai otoritas kekuasaan tertinggi sebagaimana hal itu dilakukan juga oleh Belanda. Maka dengan mengangkat dirinya sebagai sultan, otoritas politik Sumenep ingin menegaskan bahwa Sumenep bukan vassa l jawa. ‘politik main mata’ dengan Belanda ini pun ternyata membuahkan hasil yaitu terkuranginya porsi kolonialisasi Belanda di Sumenep.

Kesultanan Sumenep ingin membebaskan dirinya secara eksplisit dari dominasi pribumi dan secara implicit dari kolonialisasi asing. Lantas bagaimana dengan moral kita yang dijajah pada era saat ini…?.

Kelebihan dari buku ini antara lain adalah bahasanya yang mudah dipahami oleh semua kalangan, baik kalangan pelajar atau mahasiswa atau bahkan masyarakat pada umumnya. Sedangkan kelemahan dari buku ini antara lain yaitu kesalahan penulisan kata, tidak adanya footnote, tidak disertakan gambar terkait masing-masing tokoh.

Seandainya penulis buku ini dapat melengkapi kekurangan tersebut, maka akan lebih sempurna lagi dari sebelumnya. Sehingga pembaca tak mudah  bosan dan jenuh dalam membaca buku ini.

Buku ini layak untuk dimiliki oleh siapa saja yang ingin mengetahui tentang rekam jejak sejarah Islam di Madura, khususnya orang Madura sendiri, yang ingin meneladani tentang masing-masing tokoh agar dapat diaplikasikan pada era saat ini.

Selanjutnya, akan ada banyak hal yang akan didapat dari membaca buku ini. Selain pembaca diharapkan mengetahui dan paham, agaknya penulis menginginkan agar buku ini juga dihayati, diambil, dan diterapkan dalam kehidupan nyata.(har)

Judul buku :Kera pun Bisa Mengaji (Rekam Jejak Sejarah Islam Di Madura)
Penulis:Iwan Kuswandi
Penerbit:Lembaga Ladang Kata
CetakanKe-: Pertama
TahunTerbit: 2015
JumlahHalaman: 173
ISBN : 978-602-1093-26-9

Sumenep, 2 Oktober 2015
Peresensi : Moh. Thayyib (mahasiswa semester 3)
Univ. Idia Al-Amien Prenduan Pragaan Sumenep
Kader PMII YUNIAM Pragaan Sumenep

Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional