oleh

3 Cara Ajari Anak Berlapang Dada Terima Kekalahan

PortalMadura.Com – Hampir setiap orang tua menginginkan anaknya bisa sukses dan orang tua mempunyai tugas mengantarkannya ke jalan kesuksesan itu. Berbicara tentang sukses, tentu hal tersebut butuh tantangan dan perjuangan yang cukup ekstra.

Tidak hanya dididik agar bisa berprestasi di sekolah, anak juga perlu ditanamkan perilaku-perilaku yang bisa membuatnya bisa kuat menghadapi segala pengalaman hidup, termasuk kekalahan.

Lihat saja saat ia berjuang untuk belajar di sekolah, anak begitu gigih dan bersemangat mendapatkan prestasi. Tidak hanya dalam akademiknya, saat bermain anak juga perlu diajari tentang menerima kekalahan.

Oleh karena itu, orang tua perlu menempa dan mengajari anak untuk belajar menerima kekalahan dan kembali bangkit demi mengejar keinginannya. Jika tidak, anak yang gagal menerima kegagalan rentan mengalami kecemasan.

“Kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan, sesuatu yang berjalan tidak sesuai harapan sangat penting untuk dipelajari anak. Ini mengajarkan mereka jadi lebih mandiri untuk mencapai keberhasilan di masa depan,” ujar psikolog anak di Child Mind Institute, Dr. Amanda Mintzer.

Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua agar anak tidak terus terpuruk dalam emosinya?. Jawabannya adalah Anda perlu melatih anak untuk bersikap lapang dada dalam menerima kekalahan.

Dilansir PortalMadura.Com, Selasa (30/7/2019) dari laman hellosehat.com, bagi orang tua yang ingin mengajari anak belajar menerima kekalahan, beberapa cara berikut mungkin bisa membantu, di antaranya:

Tunjukkan Rasa Empati

Anak merasa sedih, marah, dan kecewa saat mengalami kekalahan sudah wajar dan normal terjadi. Itu sebabnya, Anda perlu menunjukkan rasa empati. Berusahalah untuk turut merasakan kesedihan yang ia alami. Tujuannya, bukan untuk menambah rasa sedihnya, melainkan menjadi orang yang bisa dijadikan tempat bersandar.

Tunjukkan empati Anda lewat kata, tindakan, dan ekspresi. Caranya, dekati si kecil, kemudian beri dia pelukan atau usapan lembut di kepala atau pipi. Ungkapkan pula kalimat yang dapat membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Selain bersikap begitu, Anda juga perlu menjelaskan bahwa kegagalan bisa terjadi kepada siapa pun. Jadi, anak tidak perlu merasa berkecil hati dan harus lapang dada.

Loading...

Tapi hal yang perlu Anda perhatikan adalah jangan membiarkan anak terus bergantung pada Anda setiap kali ia berada di situasi yang sama. Jadi, Anda harus memberi tahunya berbagai cara lain untuk mengatasi emosinya tersebut.

Jadikan Diri Anda sebagai Panutan

Memberikan contoh yang baik pada anak memang perlu dilakukan. Karena, orang tua menjadi panutan yang tepat untuk dapat mengajari buah hati menerima kekalahan. Bagaimana caranya?

Misalnya, saat Anda membuat kue bersama anak. Anda mengharapkan hasilnya akan sempurna, enak, dan lezat. Sayangnya, kue Anda jauh dari ekspektasi. Pada saat inilah Anda bisa mengajari anak untuk menunjukkan sikap lapang dada. Meskipun menunjukkan rasa kecewa, tegaskan bahwa hal tersebut bukan menjadi masalah.

Perkataannya harus dengan cara yang halus, Anda bisa berkata, “Yah, kurang enak kuenya. Tapi, nggak apa-apa, deh. Mama tetap senang karena bisa bikin kue sama kamu. Lain kali, kita bikin kue yang jauh lebih bagus dan enak, daripada ini, ya….”.

Mencoba untuk mengekspresikan hal ini membantu si kecil keluar dari perasaan kecewa dan gagal. Sekaligus, mengajarkan anak untuk tidak menyerah dan menemukan solusi jika mereka menghadapi tantangan yang sama.

Beri Mereka Penghargaan Atas Usahanya

Selain cara yang telah disebutkan di atas, solusi terbaik untuk meredam kekecewaan anak atas kegagalannya adalah mengakui apa yang telah mereka lakukan. Entah itu memberi pujian, hadiah, atau apa pun yang bisa menyenangkan hatinya.

Selain itu, jangan lupa untuk memberikan mereka dukungan dan kata-kata yang menunjukkan bahwa Anda bangga atas apa yang telah mereka usahakan.

Baca Juga : 3 Caleg Terpilih di Sumenep Terancam Tak Dilantik

Perlukah bantuan terapis untuk menghadapi hal ini?. Mengajari anak untuk menerima kekalahan memang bukan hal yang mudah. Apalagi pada anak dengan kondisi tertentu, misalnya gangguan kecemasan, penyakit bipolar, dan lain-lain.

Bila Anda kesulitan, jangan ragu untuk konsultasi dengan terapis atau dokter. Mereka akan membantu anak agar berhasil menghadapi kekecewaan dan kegagalan yang mereka temui.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : hellosehat.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE