oleh

3 Tipe Orang Tua dalam Menyelesaikan PR Si Kecil

Bayar pajak itu wajib

PortalMadura.Com – Semua orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anaknya. Seperti misalnya ketika anak ada PR (Pekerjaan Rumah), biasanya Bunda akan turut andil dalam pengerjaannya. Tipe orang tua seperti itu paling banyak dijumpai.

Linda Bress Silbert, Ph.D dan Alvin J Silbert, Ed.D, founder Strong Learning Centers, New York, dalam bukunya Why Bad Grades Happen to Good Kids, What Parents Need to Know, What Parents Need to Do, menuliskan dalam mengerjakan PR anak, beberapa orang tua terlalu terlibat.

Silbert mengelompokkannya dalam beberapa tipe orang tua yang paling umum dijumpai. Dan tanpa disadari, cara orang tua membantu mengerjakan PR cenderung mendorong anak untuk berbohong dan malas.

Berikut ini beberapa tipe orang tua yang berperan dalam PR anaknya. Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Rabu (21/8/2019) dari laman haibunda.com yang dikutip dari beberapa sumber.

Orang Tua Perfeksionis

Kata Silbert, tipe orang tua yang perfeksionis menuntut semua tugas PR dikerjakan sempurna. Akibatnya, anak jadi tidak senang kalau orang tuanya melihat PR. Anak jadi takut orang tuanya menyalahkan, merobek buku, hingga menyuruhnya mengerjakan lagi.

“Selain membuat anak tidak suka, dalam kasus ekstrem, orang tua tipe ini sama sekali tidak menghormati anak,” ujar Silbert.

Loading...

Baca Juga: Mendekat ke Polisi, Pecandu Sabu Asal Sampang Diringkus di Warung Es Degan

Orang Tua Helikopter

Nah, tipe orang tua helikopter berbeda lagi. Orang tua ini selalu mendampingi anak-anak mereka, memastikan anak-anak benar mengerjakan PR-nya. Akibatnya, tidak ada ruang gerak untuk anak. Orang tua seakan mengirimkan pesan secara tidak langsung kalau anaknya tidak bisa mengerjakan sendiri.

“Ini tidak hanya merusak harga diri anak, tapi juga tidak memberi kesempatan pada anak-anak untuk bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka sendiri,” kata Silbert.

Orang Tua Pandora

Anak-anak yang memiliki orang tua tipe pandora cenderung menolak PR yang tidak mereka pahami. Sebab, bertanya soal PR pada Ayah atau Bundanya diibaratkan dengan membuka kotak pandora (artefak terkait mitologi Yunani).

“Orang tua tentu bermaksud baik tapi anak-anak tidak antusias. Apalagi jika tugas yang bisa dijawab singkat malah menjadi panjang lebar agar detail.

Sebelumnya, ahli metode Gentle Parenting, Sarah Ockwell-Smith, dalam bukunya The Gentle Discipline Book menuliskan, belum ada sebab pasti kenapa anak ogah mengerjakan PR. Namun, menurut dia, anak-anak setelah lelah di sekolah ingin bersantai di rumah dan bermain dengan teman-temannya.


Rewriter: Desy Wulandari
Sumber: haibunda.com


Berita PortalMadura
Loading...

Komentar