oleh

4 Jenis Dorongan Jiwa dalam Diri Manusia Menurut Alquran

PortalMadura.Com – Jiwa atau yang dalam bahasa Arabnya dikenal dengan sebutan nafs, pasti dimiliki oleh setiap manusia yang lahir ke dunia ini. Namun, pengertian dari nafs itu sendiri memiliki banyak arti, sehingga perlu pemahaman yang baik untuk dapat menggunakan kata tersebut dengan benar.

Dilansir dari Okezone.com, Minggu (25/8/2019), dijelaskan dalam Alquran, bahwa terdapat 4 jenis jiwa dalam diri manusia, dan kata nafs itu sendiri disebutkan sebanyak 160 kali. Adapun dalam Alquran, kata nafs terkadang berarti dorongan jiwa atau syahwat.

Sedangkan jika dilihat dalam buku ‘Fenomena Kejiwaan Manusia Dalam Perspektif Alquran dan Sains’ yang diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, kata nafs terkadang bermakna spesies manusia (berarti bersifat fisik), kadang bersifat rohani saja, dan kadang dikesankan bahwa jiwa itu kekal.

Baca Juga: 3 Tingkatan Nafsu dalam Diri Manusia yang Perlu Anda Ketahui

Berikut empat jenis dorongan jiwa sesuai kecenderungannya yang dijelaskan dalam Alquran:

An-nafs Al-ammarah Bi As-su’ (Dorongan Jiwa untuk Berbuat Buruk)

Seperti yang disebutkan dalam Alquran: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang,” (QS. Yusuf : 5).

Menurut az-Zamakhsyariy, kata an-nafs pada ayat di atas bermakna jenis kelamin, yaitu bahwa jenis kelamin laki-laki dan perempuan itu menimbulkan syahwat yang dapat membawa kepada keburukan.

Maka dari itu, Islam melarang perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim untuk berduaan, karena hal tersebut dapat mengundang nafsu (jiwa) untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.

An-nafs Al-lawwamah (Jiwa yang Menyesal karena Melakukan Maksiat)

Untuk menjelaskan An-nafs al-lawwamah, Allah SWT berfirman: “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri),” (QS. Al-Qiyamah : 1-2).

Loading...

Menurut az-Zamakhsyariy, jiwa-jiwa manusia akan menyesali diri pada hari kiamat karena sedikitnya takwa mereka kepada Allah saat di dunia. Sementara itu, M. Quraish Shihab (2002, 9:167) menjelaskan, semua orang akan menyesal pada hari kiamat karena tidak menggunakan seluruh kesempatan hidup di dunia untuk berbuat baik.

Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa an-nafs al-lawwamah berposisi di antara an-nafs al-mutma’innah dan an-nafs al-ammarah bi as-su’.

Untuk itu, sebagai manusia yang beriman, umat Muslim dianjurkan agar selalu berbuat kebaikan dan menghindari segala perilaku buruk agar terhindar dari jiwa yang menyesal karena telah melakukan maksiat.

An-nafs Al-mutma’innah

Firman Allah SWT: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya” (QS. Al-Fajr : 27-28).

Menurut az-Zamakhsyariy, seruan ‘kembalilah’ berarti ketika seseorang menemui kematiannya, atau ketika dibangkitkan dari kubur, atau ketika roh seseorang tersebut akan masuk surga.

Sedikit berbeda dengan az-Zamakhsyariy, M.Quraish Shihab mengatakan, kata ‘kembalilah’ pada ayat tersebut merujuk pada waktu ketika jiwa akan meninggalkan jasadnya, atau saat seseorang meninggal dunia, atau ketika dibangkitkan dari alam kubur.

An-nafs Al-mulhamah (Jiwa yang Diilhami)

Seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT pada surah Asy-Syams ayat 8, yaitu: “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya”.

Menurut M.Quraish Shihab (2002: 15: 297-299), bahwa ilham berbeda dari wahyu. Menurut Shihab, ilham adalah semacam intuisi, pemberitahuan langsung dari Allah SWT bahwa suatu perbuatan itu baik atau buruk.

Selain az-Zamakhsyariy dan M. Quraish Shihab, Al-Gazally juga memberikan pemahamannya mengenai jiwa atau nafs. Selain seorang rohaniawan, Al-Gazally juga menghabiskan hidupnya sebagai seorang sufi terkemuka. Menurut Al-Gazally, jiwa (nafs) itu terdapat tiga macam.

Pertama, an-nafs al-ammarah, yaitu nafs yang selalu menyuruh pada kejahatan dan nafs semacam ini berada pada tingkat paling bawah. Kedua, an-nafs al-lawwamah, yaitu nafs yang sudah meningkat ke arah yang lebih baik dan tunduk kepada hati nurani yang selalu membisikkan kebenaran. Ketiga, an-nafs al-mutma’innah, yaitu nafs yang tenang. Wallahu A’lam.


Rewriter : Salimah
Sumber : okezone.com

Komentar