oleh

5 Adab Orang Tua pada Anaknya Menurut Imam Al-Ghazali

PortalMadura.Com – Pada hakikatnya, tidak hanya seorang anak saja yang harus beradab atau berakhlak baik pada orang tuanya. Namun, sebagaimana menurut Imam Al-Ghazali yang disebutkan dalam kitabnya berjudul “Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444)”, bahwa juga ada adab-adab orang tua pada anaknya, melansir dari Islampos.com, Ahad (26/1/2020).

Setidaknya, ada lima adab orang tua terhadap anak-anaknya, yaitu: “Membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah”.

Dari pernyataan di atas, berikut ini penjelasan kelima adab orang tua kepada anak-anaknya:

Membantu Anak-anak Bersikap Baik kepadanya

Sikap anak kepada orang tua sangat dipengaruhi sikap orang tua kepada mereka. Jika orang tua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orang tua, jika mereka diperlakukan semena-mena.

Oleh karena itu, ketika orang tua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orang tua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula.

Tidak Memaksa Anak-anak Berbuat Baik Melebihi Batas Kemampuannya

Orang tua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak apabila anak-anak yang masih duduk di bangku TK sudah diperintahkan berpuasa sehari penuh selama Ramadan.

Mereka memang perlu dilatih berpuasa tetapi tidak boleh seberat itu. Demikian pula tidak bijak apabila orang tua memaksakan kehendaknya agar mereka selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, misalnya, sementara kemampuannya kurang mendukung.

Tidak Memaksa Anak-anak saat Susah

Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya.

Pada saat seperti ini orang tua sebaiknya dapat memahami psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya. Misalnya, orang tua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anaknya bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik.

Baca Juga: Para Orang Tua, Ini 5 Strategi Rasulullah Atasi Problem Anak yang Patut Ditiru

Tidak Menghalangi Anak-anak untuk Berbuat Taat kepada Allah SWT

Tidak sebaiknya orang tua menghalangi anak-anak ketika mereka bermaksud melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Misalnya, berlatih puasa sunah Senin-Kamis. Tetapi memang orang tua perlu memberi arahan untuk tidak berpuasa dahulu, seperti saat ketika kondisi anak sedang sakit.

Orang tua perlu menjelaskan bahwa beberapa orang diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang-orang yang sedang sakit, atau seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih kecil. Untuk puasa Ramadan memang harus diganti apabila ditinggalkan, sedangkan untuk puasa sunah tidak harus diganti.

Tidak Membuat Anak-anak Sengsara Disebabkan Pendidikan yang Salah

Menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga anak memiliki ilmu yang cukup dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan.

Apabila orang tua tidak cukup membekali anak dengan ilmu dan keterampilan yang diperlukan serta malah memanjakannya, maka hal ini bisa menyengsarakan anak di kemudian hari. Anak bisa bodoh dan tidak mandiri dalam banyak hal sehingga tidak bisa menolong dirinya sendiri apalagi orang lain. Keadaan seperti ini akan membuat anak sengsara dalam hidupnya. Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : islampos.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE