PortalMadura.com–Pertandingan pekan ke-17 Super League 2025–2026 antara Persebaya Surabaya melawan Malut United di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (10/1/2026) pukul 15.30 WIB, menyimpan nuansa emosional—terutama bagi penyerang Malut United, David da Silva.
Pemain asal Brasil itu kembali menginjakkan kaki di stadion yang pernah menjadi rumahnya selama membela Persebaya pada musim 2018–2019 dan 2020–2021. Bagi Da Silva, GBT bukan sekadar lapangan hijau, melainkan tempat penuh kenangan bersama suporter setia Bajul Ijo.
“Saya sangat senang bisa kembali bermain di GBT. Atmosfer di stadion ini selalu luar biasa,” ujar Da Silva dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com, Jumat (9/1/2026). “Saya juga senang bersama teman-teman setim. Kami siap untuk pertandingan ini.”
Meski memiliki ikatan emosional kuat dengan Persebaya, Da Silva menegaskan bahwa profesionalisme mendorongnya untuk fokus membela Malut United. Ia mengakui tantangan besar menanti timnya, terlebih Persebaya tengah menunjukkan performa solid di kandang.
“Melawan Persebaya tentu bukan pekerjaan yang mudah. Mereka sangat kuat di GBT,” katanya. “Namun kami datang ke sini untuk bermain dengan enjoy, tanpa beban, dan memberikan yang terbaik.”
Da Silva juga menyampaikan harapannya agar laga ini menjadi tontonan berkualitas bagi pencinta sepak bola Tanah Air. “Saya berharap banyak suporter datang ke stadion karena pertandingan ini bisa menjadi kenangan yang baik—baik bagi yang hadir langsung maupun yang menonton di televisi.”
Sebagai mantan penghuni lini depan Persebaya, Da Silva memahami betul intensitas tekanan dan gairah suporter di GBT. Namun, ia menegaskan bahwa kenangan indah tidak akan mengganggu komitmennya terhadap Malut United.
“Saya punya banyak kenangan indah di sini, tapi sekarang saya harus menghormati jersey yang saya pakai dan memberikan yang terbaik untuk tim saya,” tegas pemain bernomor punggung 17 tersebut.
Laga ini menjadi ujian penting bagi Malut United yang ingin menjaga posisi di papan tengah klasemen, sekaligus ajang pembuktian bagi Da Silva bahwa loyalitas profesional bisa berjalan beriringan dengan rasa hormat terhadap masa lalu.





