PortalMadura.com–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim hujan tahun 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berakhir pada pertengahan Maret. Prediksi ini disampaikan berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan pemantauan pola curah hujan di berbagai Zona Musim (ZOM) di Tanah Air.
“Berdasarkan proyeksi kami, sekitar pertengahan Maret mayoritas wilayah Indonesia sudah beralih dari musim hujan ke musim kemarau,” ujar Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, dalam keterangan resmi yang dirilis Kamis (22/1/2026).
Namun, BMKG menegaskan bahwa peralihan musim tidak terjadi serentak. Wilayah seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, dan Kalimantan selatan diprediksi lebih awal memasuki musim kemarau—sejak akhir Februari hingga awal Maret.
Sementara itu, beberapa daerah lain, terutama di bagian timur dan utara Indonesia, masih berpotensi mengalami hujan hingga akhir Maret bahkan awal April 2026.
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
Meski intensitas hujan mulai menurun, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Masa peralihan musim justru kerap memicu cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai angin kencang, petir, dan kilat.
“Fenomena ini biasanya dipicu oleh pertumbuhan awan konvektif atau awan kumulonimbus yang intens—kondisi umum saat transisi antar musim,” jelas Guswanto.
Ia menyarankan masyarakat untuk selalu memantau prakiraan cuaca harian BMKG, terutama sebelum melakukan aktivitas luar ruangan, penerbangan, atau pelayaran.
Dampak bagi Sektor Strategis
Peralihan ke musim kemarau membawa implikasi penting bagi berbagai sektor. Di bidang pertanian, periode ini menjadi penanda dimulainya musim tanam gadu (tanam kedua), terutama di lahan tadah hujan. Namun, berkurangnya curah hujan juga berisiko menyebabkan kekeringan jika pengelolaan air tidak dilakukan secara optimal.
Di sektor transportasi, berkurangnya hujan lebat diharapkan dapat menurunkan gangguan pada penerbangan dan pelayaran. Namun, muncul tantangan baru di darat, seperti debu, penurunan jarak pandang, serta peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan—terutama di wilayah yang cepat mengering.
BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan memberikan pembaruan jika terjadi anomali iklim signifikan. “Perubahan iklim global membuat pola musim semakin dinamis. Kesiapsiagaan tetap kunci utama,” pungkas Guswanto.





