PortalMadura.com– Liga sepak bola Jepang (J.League) mengguncang dunia sepak bola dengan usulan radikal: menghapus total hasil imbang dalam kompetisi. Jika pertandingan berakhir seri setelah 90 menit, kedua tim langsung melanjutkan ke adu penalti untuk menentukan pemenang—tanpa perpanjangan waktu. Langkah berani ini diusulkan sebagai solusi atas kebosanan penonton terhadap pertandingan defensif yang kerap berujung imbang tanpa gol.
Berdasarkan laporan ZNews yang terbit Kamis (13/2/2026), inisiatif ini bertujuan mengubah wajah J.League menjadi arena yang penuh drama hingga detik terakhir. Filosofi di baliknya jelas: sepak bola adalah olahraga penaklukan, bukan kompromi. Penonton yang membayar tiket atau menyaksikan di layar televisi berhak mendapat pertandingan seru dengan pemenang pasti, bukan skor kembali ke nol setelah 90 menit aksi.
Sejarah membuktikan, perubahan aturan kerap lahir dari kebutuhan menghibur penonton. Tiga dekade lalu, Inggris memelopori revolusi sistem poin: kemenangan bernilai tiga poin (bukan dua), sementara imbang hanya satu poin. Perubahan ini sukses mendorong tim bermain menyerang demi meraih tiga poin penuh. Namun, pola pikir pragmatis tetap mengakar kuat di era modern. Banyak pelatih masih memilih “satu poin lebih baik daripada nol poin”, terutama dalam laga krusial babak penyisihan grup Piala Dunia atau Kejuaraan Eropa—di mana dua tim kerap bermain aman demi lolos bersama dengan hasil imbang.
Keputusan J.League mengirim pesan tegas: era bermain aman harus berakhir. Dengan adu penalti sebagai penentu akhir, setiap pertandingan dipastikan memiliki pemenang dan pecundang. Tekanan psikologis pada pemain meningkat, namun daya tarik bagi penonton juga melonjak. Format ini meniru keseruan babak gugur yang selalu lebih menegangkan dibanding babak grup.
Bagi Vietnam, usulan J.League layak menjadi bahan pertimbangan serius. V.League masih kerap diwarnai pertandingan berkualitas rendah, tempo lambat, dan dominasi taktik defensif. Mengadopsi sistem serupa bisa memaksa tim meninggalkan mentalitas bermain untuk imbang dan beralih ke sepak bola menyerang yang lebih menghibur.
Lebih jauh, V.League bahkan bisa berinovasi dengan format unik: adu penalti dilakukan *sebelum* pertandingan dimulai. Tim yang menang adu penalti awal mendapat keuntungan psikologis—jika skor imbang setelah 90 menit, mereka otomatis menjadi pemenang. Sebaliknya, tim yang kalah dalam adu penalti awal terdorong menyerang habis-habisan karena imbang berarti kekalahan. Format ini tidak hanya meningkatkan hiburan, tetapi juga melatih mental pemain Vietnam yang kerap limbung saat menghadapi adu penalti di turnamen internasional.
Latihan penalti rutin setiap pekan di liga domestik bisa menjadi “tungku baja” bagi para pemain muda. Ketika mereka tampil di level ASEAN atau Asia, kaki tak lagi gemetar menghadapi titik putih—karena adu penalti telah menjadi rutinitas mingguan yang familiar.
Jika J.League sukses menerapkan sistem ini pada 2026, gelombang perubahan bisa melanda liga-liga lain di Asia. V.League memiliki kesempatan emas untuk tidak sekadar mengikuti, tetapi berinovasi lebih jauh demi menciptakan sepak bola yang lebih menarik, kompetitif, dan bermanfaat bagi pengembangan talenta lokal. Sepak bola Vietnam butuh keberanian bereksperimen—sebelum penonton benar-benar bosan dengan drama yang tak pernah usai.





