PortalMadura.com – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Selasa pagi, 7 April 2026. Mata uang Garuda kian terpuruk hingga melewati level Rp 17.000 akibat tekanan ganda dari gejolak geopolitik global dan kondisi fiskal dalam negeri yang kian menantang.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.08 WIB, rupiah di pasar spot merosot 43 poin atau setara 0,25% ke posisi Rp 17.078 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, Senin (6/4/2026), di mana rupiah ditutup pada level Rp 17.035 per dolar AS.
Sentimen Global: Konflik Iran-AS dan Harga Minyak
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa fokus pasar saat ini tertuju pada meningkatnya tensi di Timur Tengah. Ultimatum Presiden Donald Trump terhadap Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi katalis utama penguatan indeks dolar AS yang naik ke level 100,12.
Baca Juga:
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 18 Maret 2026: Raja Emas dan Lakuemas Kompak Stabil, Saatnya Beli?
“Investor saat ini sangat waspada terhadap tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz. Jika blokade berlanjut, biaya energi global akan melambung tinggi,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (7/4).
Lonjakan harga minyak mentah dunia ini tidak hanya memicu kekhawatiran inflasi global, tetapi juga memberikan beban berat bagi sektor manufaktur dan transportasi. Hal ini membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang aman (safe haven) seperti dolar AS.
Tekanan Domestik: Defisit APBN Melebar Tajam
Selain faktor eksternal, posisi rupiah kian terjepit oleh rilis data ekonomi dalam negeri. Laporan terbaru menunjukkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 telah menyentuh angka Rp 240,1 triliun, atau setara dengan 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 99,8 triliun (0,41% terhadap PDB). Kondisi fiskal yang melebar ini mengurangi ruang gerak rupiah untuk melakukan rebound dalam waktu dekat.
Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan tetap fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp 17.030 hingga Rp 17.080 per dolar AS.




