portalmadura.com – Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan performa positif di akhir pekan. Mata uang Garuda berhasil memotong tren pelemahan dan ditutup menguat menjelang hari Minggu, 19 Juli 2026. Berdasarkan data penutupan perdagangan pasar spot, rupiah perkasa dengan naik 65 poin atau sebesar 0,45 persen ke level **Rp 17.921 per dolar AS** dari posisi sebelumnya yang sempat tertahan di angka Rp 17.986 per dolar AS.
Apresiasi mata uang domestik ini menjadi angin segar setelah sepanjang pertengahan Juli sempat bergejolak dan betah berada di atas angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Berdasarkan rilis perbankan nasional akhir pekan ini, kurs transaksi di tingkat perbankan konvensional seperti Bank Mandiri berada di kisaran harga beli Rp 17.975 dan harga jual Rp 18.000. Sementara itu, Bank BCA mematok nilai e-Rate di angka Rp 17.921 per dolar AS.
Direktur sekaligus analis pasar uang PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa performa impresif rupiah pada momentum ini mendapat dorongan kuat dari sentimen internal. Stimulus utama datang langsung dari laporan positif Bank Indonesia (BI) mengenai hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) untuk periode kuartal II-2026.
“Aktivitas dunia usaha di dalam negeri terpantau mengalami peningkatan yang signifikan. Bank Indonesia melaporkan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 melonjak hingga ke angka 12,97 persen, melonjak cukup tinggi bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya menyentuh 10,11 persen,” ujar Ibrahim dalam rilis resminya.
Kenaikan roda bisnis ini dipacu oleh melesatnya produktivitas di berbagai sektor usaha makro, mulai dari sektor konstruksi, pertambangan, hingga pertanian. Momentum libur sekolah serta rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) juga sukses mendongkrak kapasitas produksi terpakai nasional ke angka 73,8 persen. Sentimen positif ini berhasil meredam kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran fiskal domestik yang sempat membayangi laju rupiah beberapa waktu lalu.
Meski menunjukkan tren penguatan, para pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati dinamika kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) serta ketegangan geopolitik global yang masih berpotensi memicu volatilitas mata uang regional ke depan. Pantau terus pembaruan informasi pergerakan kurs mata uang dan berita ekonomi terupdate hanya di portalmadura.com.





