portalmadura.com – Pergerakan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diproyeksikan akan mengalami fluktuasi yang cukup dinamis selama sepekan ke depan. Sejumlah analis pasar komoditas memperkirakan harga logam mulia ini akan bergerak di rentang Rp2.430.000 hingga Rp2.720.000 per gram.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa grafik nilai emas saat ini sedang menghadapi sentimen pasar yang beragam. Faktor utama yang memicu fluktuasi ini adalah kombinasi dari tekanan geopolitik global, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, hingga dinamika pasokan di pasar internasional.
Analisis Batas Atas dan Batas Bawah
Menurut analisis Ibrahim pada Minggu (19/7/2026), komoditas ini berpotensi menghadapi titik batas bawah (support) tertentu jika mengalami tekanan atau penurunan dalam waktu dekat. Namun sebaliknya, jika grafik nilai emas batangan ini berbalik arah dan menunjukkan tren penguatan, harga berpeluang besar melesat menuju target baru.
“Kalau logam mulia kembali menguat, batas kenaikan atau resistance kedua berada di level Rp2.720.000 per gram,” ungkap Ibrahim.
Di pasar global sendiri, harga emas spot saat ini berfluktuasi di sekitar level USD 4.017 per troy ounce. Faktor pendorong seperti ekspektasi penurunan suku bunga, melemahnya mata uang dolar AS, serta aksi pembelian besar-besaran oleh sejumlah bank sentral dunia menjadi motor utama yang menjaga tren positif emas dalam jangka menengah. Selain itu, status emas sebagai aset aman (safe haven) membuatnya tetap diburu investor di masa-masa penuh ketidakpastian.
Ketentuan Pajak Buyback Antam
Bagi masyarakat yang berencana melakukan transaksi penjualan kembali atau buyback, harga acuan Antam berada di angka Rp2.349.000 per gram. Perlu dicatat bahwa sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, setiap transaksi buyback dengan nilai di atas Rp10 juta akan dikenakan potongan pajak. Pemilik NPWP dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen, sedangkan bagi non-NPWP tarifnya adalah 3 persen.
Para pelaku investasi disarankan untuk terus memantau pergerakan sentimen makroekonomi secara berkala, mengingat harga logam mulia sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan suku bunga global dan rilis data ekonomi penting dalam beberapa hari ke depan.





