PortalMadura.com – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di beberapa wilayah Indonesia mengalami tekanan tajam pada akhir Mei 2026, terutama bagi petani swadaya, di tengah ketidakpastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu yang baru.
Penurunan ini terjadi bahkan ketika harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka di pasar global, seperti Bursa Malaysia, menunjukkan pergerakan yang relatif stabil atau menguat tipis.
Pada 26 Mei 2026, harga minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia naik menjadi 4.496 ringgit Malaysia (MYR) per ton, meningkat 0,51% dari hari sebelumnya.
Meskipun demikian, sepanjang bulan terakhir, harga tersebut telah turun 0,84%, namun masih 16,24% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama setahun lalu, menurut kontrak perbedaan (CFD) yang melacak pasar acuan komoditas ini.
Trading Economics memproyeksikan harga minyak sawit akan mencapai 4516,68 MYR per metrik ton pada akhir kuartal ini dan 4783,87 MYR dalam 12 bulan ke depan.
Secara historis, harga minyak sawit pernah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 7268,00 MYR pada Maret 2022.
Untuk konteks lebih dekat, data Bloomberg pada Jumat, 22 Mei 2026, menunjukkan kontrak CPO Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat 0,6% pada level MYR 4.430 per metrik ton.
Kontrak aktif Agustus 2026 juga naik 0,63% secara harian menjadi MYR 4.486 per metrik ton, meskipun sempat terkoreksi 2,73% pada Kamis sebelumnya.
Secara mingguan, harga CPO masih menguat 0,9% hingga 22 Mei 2026, tetapi secara bulanan terkoreksi 2,03%.
Namun, kinerja harga CPO sepanjang tahun ini hingga 22 Mei 2026 masih membukukan kenaikan 10,77%.
Di pasar domestik, tim penetapan harga TBS Sawit Provinsi Sumatera Utara (Sumut) melaporkan penurunan signifikan untuk periode 27 Mei – 2 Juni 2026.
Harga TBS sawit umur 10–20 tahun di Sumut turun Rp 649,80 per kilogram menjadi Rp 3.252,89 per kilogram, berdasarkan penelusuran InfoSAWIT dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumatera Utara.
Harga CPO untuk Sumut pada periode yang sama ditetapkan Rp 12.370,60 per kilogram, sementara harga Kernel mencapai Rp 13.975,00 per kilogram dengan indeks K 93,27%.
Sementara itu, di Riau, harga TBS sawit plasma untuk periode yang sama justru naik Rp 65,73 per kilogram, namun harga TBS petani swadaya justru anjlok Rp 147,79 per kilogram.
Di Sumatera Selatan, harga TBS sawit untuk usia tanaman produktif 10–20 tahun pada periode II Mei 2026 juga mengalami penurunan dari Rp 3.898 per kilogram menjadi Rp 3.864 per kilogram.
Harga ini jauh di bawah level tertinggi yang sempat mencapai Rp 4.022 per kilogram pada periode II April 2026.
Data terbaru dari Pempem per 28 Mei 2026, menunjukkan harga TBS sawit di 51 pabrik kelapa sawit di seluruh Indonesia bervariasi luas, mulai dari Rp 2.285 per kilogram hingga Rp 3.592 per kilogram.
Anjloknya harga TBS di tingkat petani, khususnya petani swadaya, memicu kepanikan dan protes keras dari berbagai asosiasi petani.
Ketua Umum Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI), Mansuetus Darto, mengungkapkan bahwa harga tender CPO turun drastis dari sekitar Rp 15.300 per kilogram menjadi Rp 12.150 per kilogram dalam beberapa hari.
Penurunan harga ini secara langsung menekan harga TBS petani, yang sebelumnya berkisar Rp 3.000 hingga Rp 3.700 per kilogram, kini anjlok menjadi sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.500 per kilogram.
Gulat ME Manurung, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), menegaskan bahwa harga TBS petani swadaya bahkan ada yang mencapai Rp 1.800 hingga Rp 2.200 per kilogram.
Angka ini jauh di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) petani yang sekitar Rp 2.000 per kilogram, menyebabkan petani mengalami kerugian.
Penyebab utama anjloknya harga ini, menurut POPSI dan Apkasindo, adalah ketidakpastian dan kurangnya kejelasan terkait kebijakan ekspor satu pintu sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang baru diumumkan pemerintah.
Kebijakan ini memicu efek psikologis kekhawatiran dan spekulasi di kalangan pelaku usaha hilir, yang kemudian memilih menahan diri atau menurunkan harga pembelian TBS.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengidentifikasi adanya 139 pabrik kelapa sawit (PKS) di berbagai wilayah Indonesia yang menurunkan harga pembelian TBS.
Padahal, Apkasindo menyatakan bahwa harga CPO global justru sedang menguat, yang menunjukkan anjloknya harga TBS lokal lebih disebabkan oleh faktor internal.
Selain faktor kebijakan, pelemahan ekspor juga turut membebani pasar.
Ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode 1–25 Mei 2026 dilaporkan turun antara 14,5% hingga 18,0% dari bulan April.
Prospek permintaan dari India, sebagai importir minyak sawit terbesar dunia, juga tidak pasti setelah impornya merosot 26% pada April ke level terendah dalam empat bulan.
Permintaan yang melemah dari Tiongkok dan kawasan Eropa juga disebut-sebut sebagai penyebab tekanan harga.
Faktor lain seperti harga minyak mentah dunia juga berpengaruh, karena harga minyak yang rendah mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat juga memberikan dampak pada harga sawit.
Meskipun demikian, Wahyu Laksono, analis komoditas dari Traderindo, memperkirakan harga CPO cenderung bergerak sideways dalam jangka pendek, dengan potensi rebound jika permintaan ekspor pulih dan produksi terganggu oleh faktor cuaca.
Apkasindo menegaskan dukungan terhadap pembentukan DSI, namun mendesak pemerintah untuk segera memperjelas mekanisme implementasinya agar harga TBS sawit tidak terus terpuruk akibat spekulasi dan ketidakpastian informasi.
Petani swadaya menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak memiliki kepastian kontrak pembelian seperti petani plasma atau bermitra, padahal luas kebun mereka mencapai 93% dari total kebun sawit rakyat.
Pemerintah diharapkan bergerak cepat untuk mengklarifikasi mekanisme perdagangan dan pembayaran agar stabilitas harga dapat kembali tercapai dan kesejahteraan petani sawit tetap terjaga.





