Gejolak Harga Sembako Juni 2026: Minyak Goreng dan Beras Bergerak, Pemerintah Perkuat Intervensi Pasar

Avatar of PortalMadura.com
Gejolak Harga Sembako Mencekik Daya Beli: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp74 Ribu di Tengah Kenaikan BBM
Gejolak Harga Sembako Mencekik Daya Beli: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp74 Ribu di Tengah Kenaikan BBM

PortalMadura.com – Fluktuasi harga kebutuhan pokok atau sembilan bahan pokok (sembako) terus menjadi sorotan utama di berbagai daerah Indonesia memasuki pertengahan Juni 2026, menciptakan tekanan signifikan terhadap daya beli masyarakat.

Sejumlah komoditas strategis seperti minyak goreng, beras, dan beberapa jenis cabai menunjukkan pergerakan harga yang bervariasi, baik naik maupun turun, namun secara keseluruhan masih menuntut kewaspadaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan mencatat bahwa kenaikan harga pangan pokok menjadi pendorong inflasi pada Mei 2026, yang mencapai 3,08% secara tahunan.

Pergerakan Harga Komoditas Utama di Berbagai Wilayah

Beras: Kualitas Bervariasi, Tren Menurun di Ibu Kota

Harga beras di pasar tradisional dan modern menunjukkan tren yang beragam di berbagai daerah pada pertengahan Juni 2026.

Di Jakarta, misalnya, pada Senin, 15 Juni 2026, harga beras IR II (IR 64) Ramos tercatat turun Rp2.509 menjadi Rp12.000 per kilogram, sementara beras IR I (IR 64) turun Rp532 menjadi Rp15.000 per kilogram.

Beberapa jenis beras lainnya seperti IR 42/Pera juga mengalami penurunan menjadi Rp13.500 per kilogram.

Namun, data dari Jawa Timur pada hari yang sama menunjukkan sedikit kenaikan pada beras premium menjadi Rp14.971 per kilogram dan beras medium menjadi Rp12.973 per kilogram.

Secara nasional, pada Minggu, 14 Juni 2026, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga beras kualitas super I di angka Rp17.550 per kg dan super II di Rp17.000 per kg.

Pada awal Juni 2026, harga beras kualitas bawah I naik 7,56% menjadi Rp15.650 per kilogram dan kualitas bawah II naik 6,19% menjadi Rp15.450 per kilogram.

Minyak Goreng: Terus Mendaki di Sebagian Daerah

Minyak goreng menjadi komoditas lain yang menunjukkan tren kenaikan di banyak tempat.

Pada 15 Juni 2026, harga minyak goreng curah di Jakarta naik Rp450 menjadi Rp22.000 per kilogram.

Di Jawa Timur, minyak goreng curah juga mengalami kenaikan 1,28% menjadi Rp20.707 per kilogram pada tanggal yang sama.

Minyak goreng kemasan premium di Jawa Timur naik 0,68% menjadi Rp21.754 per liter, sedangkan Minyakita berada di Rp16.354 per liter.

Secara nasional pada 14 Juni 2026, minyak goreng curah tercatat Rp20.600 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I Rp24.200 per liter, dan kemasan bermerek II Rp23.200 per liter.

Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai provinsi dengan harga minyak goreng termahal di pasar modern, mencapai Rp28.800 per kilogram pada 9 Juni 2026.

Gula Pasir: Stabil Namun Masih Tinggi

Harga gula pasir cenderung stabil namun tetap pada level yang relatif tinggi.

Di Jakarta, gula pasir naik Rp300 menjadi Rp19.000 per kilogram pada 15 Juni 2026.

Di Jawa Timur, gula kristal putih tercatat Rp17.232 per kilogram pada 15 Juni 2026, stabil dibandingkan hari sebelumnya.

PIHPS Nasional melaporkan gula pasir kualitas premium stabil di Rp20.250 per kg dan gula lokal di Rp19.150 per kg pada 14 Juni 2026.

Harga gula global juga menunjukkan penurunan, mencapai 13,70 USd/Lbs pada 12 Juni 2026, turun 10,92% selama sebulan terakhir.

Telur dan Daging Ayam: Berfluktuasi Antara Kenaikan dan Penurunan

Harga telur ayam ras menunjukkan fluktuasi, dengan beberapa wilayah mengalami kenaikan dan sebagian lainnya penurunan.

Di Jakarta, harga telur ayam ras relatif stabil dengan penurunan tipis menjadi Rp28.000 per kilogram pada 15 Juni 2026.

Namun, di tingkat nasional, harga telur ayam ras pada 14 Juni 2026 mencapai Rp30.100 per kg.

Gorontalo tercatat sebagai provinsi dengan harga telur ayam termahal, mencapai Rp55.900 per kg pada 12 Juni 2026.

Sementara itu, harga daging ayam ras di Jakarta naik Rp1.450 menjadi Rp45.000 per kilogram pada 15 Juni 2026.

Namun di Jawa Timur, daging ayam ras justru turun menjadi Rp32.173 per kilogram pada tanggal yang sama.

Secara nasional, harga daging ayam ras segar pada 14 Juni 2026 berada di Rp37.200 per kg.

Sulawesi Tengah menjadi provinsi dengan harga daging ayam termahal di pasar modern, mencapai Rp61.200 per kg pada 12 Juni 2026.

Bawang dan Cabai: Penurunan Signifikan di Jakarta, Kenaikan di Wilayah Lain

Komoditas bawang dan cabai menunjukkan pergerakan harga yang cukup dinamis.

Di Jakarta, harga cabai merah besar (TW) turun drastis Rp19.400 menjadi Rp50.000 per kilogram pada 15 Juni 2026.

Cabai merah keriting juga turun Rp9.850 menjadi Rp46.000 per kilogram di ibu kota.

Penurunan serupa terjadi pada cabai rawit hijau dan cabai rawit merah di Jakarta.

Namun, bawang merah di Jakarta justru naik Rp5.883 menjadi Rp64.000 per kilogram.

Secara nasional pada 14 Juni 2026, bawang merah mencapai Rp55.450 per kg, dan bawang putih Rp42.300 per kg.

Cabai rawit merah secara nasional masih tinggi, mencapai Rp74.550 per kg pada 14 Juni 2026 dan Rp79.000 per kg pada 15 Juni 2026.

Faktor-Faktor Pemicu Fluktuasi Harga

Inflasi dan Tekanan Ekonomi Global

Kenaikan harga sembako tidak terlepas dari tekanan inflasi secara umum.

BPS melaporkan inflasi Mei 2026 mencapai 3,08% secara tahunan, sebagian besar didorong oleh kenaikan harga beras.

Riset LPEM FEB UI bahkan memprediksi inflasi Juni 2026 bisa mencapai 3,30%.

Gejolak harga energi dan nilai tukar Rupiah juga turut berkontribusi pada kenaikan biaya produksi dan distribusi pangan.

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax pada 10 Juni 2026 diperkirakan akan berdampak pada biaya logistik.

Dinamika Pasokan dan Permintaan

Musim panen dan cuaca memainkan peran krusial dalam ketersediaan pasokan.

Penurunan harga cabai di beberapa daerah, misalnya, terjadi seiring meningkatnya pasokan selama masa panen.

Sebaliknya, antisipasi musim kemarau berpotensi mengganggu produksi dan memicu kenaikan harga di kemudian hari.

Meskipun permintaan masyarakat menjelang Idul Adha 2026 belum menunjukkan lonjakan signifikan, tingginya harga di tingkat petani dan pedagang tetap menjadi isu.

Dampak Terhadap Konsumen dan Stabilitas Nasional

Kenaikan harga sembako secara langsung mengikis daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan.

Tingginya harga pangan membuat masyarakat harus memangkas porsi belanjanya, yang berdampak pada penurunan omzet pedagang.

Situasi ini meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga dan berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi di tingkat akar rumput.

Stabilitas harga pangan adalah kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dan mencegah meluasnya kemiskinan.

Respons dan Kebijakan Pemerintah untuk Stabilisasi Harga

Intervensi Pasar dan Bantuan Pangan

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara aktif melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga pangan.

Salah satu langkah strategis adalah injeksi tambahan bantuan pangan berupa beras sebanyak satu juta ton.

Bantuan ini akan disalurkan kepada sekitar 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia, masing-masing 10 kilogram beras per bulan selama tiga bulan, dimulai Juli 2026.

Tujuannya adalah menjaga daya beli masyarakat dan melindungi kelompok rentan dari dampak fluktuasi harga.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras juga terus berlanjut, dengan target penyaluran jagung ditingkatkan menjadi 500 ribu ton pada 2026 untuk mendukung peternak.

Penguatan Pemantauan dan Koordinasi

Bapanas memperkuat pemantauan harga melalui seribu lebih enumerator di seluruh Indonesia untuk memastikan kebijakan yang diambil presisi dan responsif.

Pemerintah juga berkomitmen untuk menjaga keseimbangan harga pangan mulai dari produsen hingga konsumen, sesuai arahan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi aman, sehingga tidak ada alasan untuk kenaikan harga.

DPR RI juga meminta pemerintah untuk tidak hanya menyediakan tiket murah, tetapi juga menjaga stabilitas harga bahan pokok menjelang hari-hari besar.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Menjelang musim kemarau, tantangan dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan diperkirakan akan meningkat.

Ketergantungan pada impor untuk beberapa komoditas, meskipun produksi domestik meningkat, tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Pemerintah terus berupaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui akselerasi produksi pangan domestik dan berbagai program intervensi.

Dengan langkah-langkah proaktif ini, diharapkan inflasi pangan dapat tetap terkendali dan daya beli masyarakat terlindungi di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses