PortalMadura.com – Harga emas dunia menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, karena pasar bereaksi terhadap kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter global.
Logam mulia ini diperdagangkan di sekitar level US$4.398,90 hingga US$4.414,12 per troy ounce untuk emas spot, melanjutkan tren penurunan yang telah terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Pada hari Rabu, 27 Mei 2026, harga emas tercatat turun 1,26% menjadi US$4.453,37 per troy ounce dari hari sebelumnya.
Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun ketegangan di Timur Tengah masih tinggi.
Harapan akan meredanya konflik ini berpotensi menurunkan harga minyak, yang pada gilirannya dapat mengurangi kekhawatiran inflasi global.
Sebagai aset safe-haven, permintaan emas cenderung berkurang ketika sentimen pasar membaik dan risiko geopolitik mereda.
Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve (The Fed) juga turut memberikan tekanan kuat terhadap harga emas.
Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS yang memberikan imbal hasil, sehingga mengurangi minat investor terhadap emas yang tidak menawarkan dividen atau bunga.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengindikasikan bahwa pergerakan pasangan XAU/USD pada timeframe daily masih menunjukkan tren bearish yang cukup kuat pada Kamis, 28 Mei 2026.
Secara teknikal, harga emas masih bergerak di bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan MA 50, menandakan arah tren utama masih cenderung turun.
Geraldo Kofit juga menyebutkan bahwa area support penting yang perlu diperhatikan saat ini berada di kisaran US$4.349 hingga US$4.247 per troy ounce.
Analis dari kanal Ojo Ali Mas, Bang Ole, pada Selasa, 26 Mei 2026, sempat memprediksi bahwa anjloknya harga minyak mentah dunia bisa menjadi pendorong kenaikan emas.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meredanya kekhawatiran inflasi akibat penurunan harga minyak justru mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai.
Di pasar domestik Indonesia, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mengalami penurunan.
Pada Kamis, 28 Mei 2026, harga emas Antam turun sebesar Rp31.000 per gram menjadi Rp2.754.000, melanjutkan tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut.
Harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga melemah sebesar Rp37.000 menjadi Rp2.557.000 per gram pada tanggal yang sama.
Seorang investor emas di Malinau bernama Nur, menilai penurunan harga saat ini masih tergolong normal dalam siklus investasi emas dan prospek jangka panjang tetap baik.
Nur menyarankan strategi pembelian bertahap bagi investor jangka panjang, menyesuaikan dengan kondisi keuangan.
Sementara itu, Trading Economics memproyeksikan harga emas akan diperdagangkan di US$4.557,56 per troy ounce pada akhir kuartal ini dan mencapai US$4.916,03 dalam 12 bulan mendatang.
Secara historis, emas sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar US$5.608,35 per troy ounce pada Januari 2026.
Faktor lain seperti penguatan dolar AS juga turut menekan harga emas, karena membuat komoditas ini lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Kondisi ekonomi global yang membaik dan optimisme investor terhadap pasar saham juga cenderung menggeser aliran dana dari aset aman ke aset berisiko.
Meskipun demikian, konflik geopolitik yang belum sepenuhnya mereda, termasuk ketegangan di Selat Hormuz, masih menjadi faktor pemicu volatilitas harga emas di masa depan.
Kebijakan bank sentral utama dunia, terutama The Fed, akan terus menjadi katalis utama bagi pergerakan harga emas.
Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS yang dapat memengaruhi harga emas.
Permintaan global untuk emas didominasi oleh konsumsi perhiasan, diikuti oleh investasi, dan aplikasi industri.
Produsen emas terbesar dunia meliputi Tiongkok, Australia, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rusia, Peru, dan Indonesia.
Konsumen utama perhiasan emas termasuk India, Tiongkok, Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Rusia, dan Uni Emirat Arab.
Meskipun ada tekanan jangka pendek, banyak analis meyakini bahwa emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang penting dalam jangka panjang.
Fluktuasi harga emas adalah hal yang normal dalam siklus investasi, dan investor perlu bijak dalam mengambil keputusan.
Pasar emas global terus menjadi arena yang dinamis, dengan berbagai faktor yang saling memengaruhi pergerakan harganya.




