PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada awal Juni 2026, mendekati level terlemah sepanjang sejarah di tengah gejolak pasar global dan faktor domestik.
Pergerakan Rupiah: Dekati Titik Terlemah Historis
Pada tanggal 5 Juni 2026, kurs USD/IDR tercatat naik hingga 18.089,6000, menunjukkan kenaikan 0,48% dari sesi sebelumnya.
Data Bloomberg pada Kamis, 4 Juni 2026, menunjukkan rupiah spot melemah menjadi Rp 18.049 per dolar AS, sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat pada Rp 18.039 per dolar AS.
Angka ini menandai titik terlemah rupiah sepanjang sejarah Indonesia.
Pada pembukaan pasar spot exchange Jumat, 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah dibuka pada level Rp 18.064 per dolar AS.
Bahkan, sepanjang minggu ini, nilai tukar dolar AS ke rupiah Indonesia telah berfluktuasi antara 17.801 dan 18.133.
Pelemahan ini bukan kali pertama terjadi, mengingat pada 23 Maret 2026, rupiah telah menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak krisis moneter 1998.
Secara historis, pasangan mata uang USD/IDR sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di angka Rp 17.995,40 pada Mei 2026.
Dalam satu bulan terakhir hingga 5 Juni 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 4,46%, sementara dalam periode 12 bulan terakhir pelemahannya mencapai sekitar 10,87%.
Rupiah juga disebut sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada tahun 2026, dengan penurunan sekitar 7,5% secara year-to-date.
Mengapa Rupiah Tertekan? Faktor Global dan Domestik
Pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling berkaitan erat.
Tekanan dari Kebijakan Moneter AS dan Geopolitik Global
Menguatnya dolar AS di pasar global menjadi salah satu penyebab utama pelemahan rupiah.
Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang kuat atau kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang mempertahankan suku bunga tinggi, membuat investor global cenderung mengalihkan dananya ke aset berbasis dolar.
Arus modal yang mengalir ke Amerika Serikat ini meningkatkan permintaan terhadap dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik juga berperan besar dalam mendorong investor mencari aset ‘aman’ seperti dolar AS.
Konflik di Timur Tengah, termasuk serangan Israel ke Rafah, dan ketegangan Iran-AS-Israel, semakin memperparah kondisi pasar keuangan global.
Selain itu, inflasi inti AS yang masih stagnan turut menjadi alasan The Fed menahan suku bunga tinggi.
Tantangan Ekonomi Domestik
Di sisi domestik, tingginya permintaan terhadap dolar AS untuk pembayaran impor dan kewajiban utang luar negeri terus memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Indonesia memiliki banyak kebutuhan transaksi internasional yang memerlukan dolar AS, mulai dari impor bahan baku hingga utang luar negeri.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran valuta asing ini berpotensi menyebabkan pelemahan rupiah.
Data terbaru menunjukkan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia turun ke level terendah dalam hampir 20 tahun pada 2 Juni 2026.
Kepemilikan asing atas saham domestik juga menurun, menyoroti melemahnya partisipasi luar negeri di pasar lokal.
Cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan sebesar USD 2 miliar pada April 2026 menjadi USD 146,2 miliar, level terendah dalam hampir dua tahun, yang mencerminkan intervensi Bank Indonesia untuk menopang mata uang.
Kekhawatiran akan potensi penurunan outlook dan peringkat utang Indonesia, serta harga minyak yang tinggi yang memperburuk keuangan negara, turut menambah sentimen negatif.
Ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan proyeksi defisit anggaran yang besar juga meningkatkan risiko fiskal, menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah.
Upaya Stabilisasi dan Proyeksi ke Depan
Bank Indonesia (BI) terus menyiapkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga acuan.
Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan menjaga stabilitas rupiah berbasis kekuatan fundamental perekonomian Indonesia, seperti surplus neraca perdagangan.
Komitmen terhadap disiplin fiskal dari pemerintahan baru sangat penting untuk menekan kenaikan risiko fiskal.
Para analis memproyeksikan rupiah masih akan menghadapi tekanan di bulan Juni 2026, seiring dengan volatilitas pasar global dan sikap hawkish dari pejabat Federal Reserve.
Beberapa pandangan ekstrem bahkan menyebutkan potensi rupiah mencapai Rp 20.000 jika level Rp 18.140 tembus.
Meskipun demikian, ada pula pandangan yang menunjukkan rupiah sempat menguat di pekan terakhir Juni 2024, dipengaruhi ekspektasi pemangkasan suku bunga dan optimisme ekonomi domestik.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas dan dinamika pergerakan rupiah yang memerlukan pemantauan serta kebijakan adaptif dari otoritas terkait.





