PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan signifikan pada perdagangan pekan depan, dengan sejumlah analis memproyeksikan pergerakan di kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.250 per Dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini menyusul tren pelemahan yang konsisten terlihat sepanjang bulan Juni 2026, yang telah membuat rupiah mencapai level terburuknya dalam sejarah, bahkan sempat menembus angka psikologis Rp 18.000 per Dolar AS.
Berdasarkan data terbaru pada 5 Juni 2026, rupiah di pasar spot tercatat menguat tipis ke Rp 18.036 per Dolar AS, namun secara mingguan mata uang Garuda telah terdepresiasi sebesar 0,86% dari posisinya di akhir Mei.
Faktor-faktor global dan domestik secara bersamaan menciptakan badai sempurna yang menekan kinerja rupiah, memaksa pasar untuk waspada terhadap potensi pelemahan lebih lanjut.
Ketidakpastian geopolitik yang memanas dan sinyal kebijakan moneter ketat dari bank sentral AS menjadi pendorong utama pelemahan ini.
Proyeksi Kurs Rupiah Jangka Dekat dan Menengah
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.950 hingga Rp 18.250 per Dolar AS untuk pekan mendatang.
Proyeksi ini menunjukkan bahwa level Rp 18.000 per Dolar AS kemungkinan besar akan tetap menjadi patokan penting yang dicermati oleh para pelaku pasar.
Tidak hanya itu, Assuaibi bahkan memperkirakan bahwa jika gejolak geopolitik global dan ekspektasi suku bunga tinggi AS terus berlanjut, rupiah berpotensi melemah hingga Rp 19.000 per Dolar AS pada akhir Juni 2026 dengan probabilitas tinggi mencapai 99,99%.
Prediksi serupa datang dari Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, yang memperingatkan rupiah bisa menembus Rp 20.000 per Dolar AS pada akhir Juni jika tren pelemahan harian sebesar 0,5% terus berlanjut.
Sementara itu, model makro global Trading Economics juga memperkirakan rupiah akan diperdagangkan pada 18078.15 pada akhir kuartal ini, menegaskan tren pelemahan yang berkelanjutan.
CoinCodex bahkan memperkirakan Dolar AS akan menguat terhadap Rupiah mencapai $18.319 pada Juni 2026, dengan rentang antara $17.996 hingga $18.590.
Dalam skenario yang lebih pesimistis, analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, melihat rupiah berpotensi menuju Rp 19.000-Rp 20.000 per Dolar AS jika level Rp 18.500 berhasil ditembus.
Secara historis, USDIDR mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 18152 pada Juni 2026, yang mencerminkan tekanan berat yang sedang dihadapi.
Faktor Penekan Utama Rupiah
Sentimen Global yang Membayangi
Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu biang kerok utama pelemahan rupiah.
Konflik yang melibatkan operasi militer Israel di Lebanon Selatan, laporan penembakan rudal Iran, hingga serangan AS di Pulau Qeshm, memicu permintaan aset safe haven seperti Dolar AS.
Selain itu, data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan, seperti lonjakan lowongan kerja dan indeks PMI non-manufaktur, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini mendorong penguatan Dolar AS dan memicu arus keluar modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lonjakan harga minyak dunia juga menjadi kekhawatiran karena Indonesia sebagai negara net importir minyak, akan menghadapi peningkatan inflasi impor dan beban subsidi energi.
Tantangan Domestik dan Kepercayaan Pasar
Dari sisi domestik, kebutuhan Dolar AS yang tinggi di dalam negeri turut menambah tekanan pada rupiah.
Kewajiban pembayaran dividen korporasi kepada investor asing dan utang jatuh tempo senilai sekitar Rp 600 triliun pada tahun ini, meningkatkan permintaan akan Dolar AS.
Besarnya volume impor minyak Indonesia yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri juga membuat permintaan Dolar AS tetap tinggi.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menyoroti adanya ‘krisis kepercayaan’ di pasar yang diperparah oleh kekhawatiran atas kebijakan ekspor satu pintu Presiden Prabowo Subianto.
Arus keluar dana asing yang terus berlanjut dari obligasi pemerintah dan saham domestik juga mengindikasikan partisipasi asing yang lebih lemah di pasar lokal.
Faktor-faktor seperti sentimen pasar terhadap fiskal, stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan persepsi risiko kebijakan turut berkontribusi pada pelemahan rupiah.
Peran Bank Indonesia dan Kebijakan Pemerintah
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan intervensi moneter dan pasar valuta asing untuk menstabilkan rupiah.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan menguat kembali pada Juli hingga Agustus 2026.
Penguatan ini diharapkan terjadi seiring meredanya tekanan musiman dari pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan haji.
Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam juga diharapkan dapat meningkatkan pasokan Dolar AS di dalam negeri, mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan mengimbau eksportir untuk segera melepas Dolar AS, memprediksi rupiah bisa menguat hingga Rp 15.000 pada Juni 2026 berkat pasokan DHE dan masuknya dana obligasi global.
Namun, harapan penguatan ini bertolak belakang dengan pandangan sebagian besar analis pasar yang melihat tren pelemahan masih dominan dalam jangka pendek.
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Perekonomian
Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada sektor keuangan dan investor, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri menjadi konsekuensi langsung, yang kemudian berujung pada peningkatan biaya produksi.
Industri manufaktur dan otomotif telah menyuarakan kekhawatiran atas kenaikan biaya produksi, bahkan beberapa perusahaan mulai mengurangi kapasitas produksinya.
Jika tren pelemahan ini terus berlanjut, potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal dan penyusutan kelas menengah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah diimbau untuk tidak meremehkan dampak pelemahan rupiah dan mengambil langkah-langkah konkret untuk menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas dunia usaha.





