IHSG Anjlok Parah Lebih dari 4% di Awal Pekan: Sentimen Global dan Rupiah Melemah Jadi Pemicu

Avatar of PortalMadura.com
IHSG Anjlok Parah Lebih dari 4% di Awal Pekan: Sentimen Global dan Rupiah Melemah Jadi Pemicu
IHSG Anjlok Parah Lebih dari 4% di Awal Pekan: Sentimen Global dan Rupiah Melemah Jadi Pemicu

PortalMadura.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan awal pekan Senin, 8 Juni 2026, dengan koreksi tajam, anjlok lebih dari 4% di tengah sentimen negatif global dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

IHSG Terjun Bebas di Awal Pekan

IHSG terjun semakin dalam hingga menyentuh level 5.348,95 atau ambles 245,82 poin, turun 4,39% pada perdagangan hari ini, Senin (8/6/2026), menunjukkan tekanan jual yang sangat agresif di pasar.

Sejak sesi pembukaan, indeks sudah menunjukkan tren pelemahan signifikan, dengan banyak saham emiten melemah dan hanya sedikit yang berhasil menguat.

Aksi jual masif terjadi di hampir seluruh sektor, dengan total transaksi mencapai Rp2,85 triliun pada pagi hari, mencerminkan kepanikan yang mendominasi sentimen pasar.

Investor asing mencatat aksi jual bersih yang substansial, mencapai Rp3,72 triliun di pasar reguler dan Rp3,73 triliun di seluruh pasar pada perdagangan Jumat sebelumnya, melanjutkan tren negatif.

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) menjadi target utama aksi jual asing.

Sektor transportasi & logistik menjadi penekan terbesar dengan koreksi 5,97%, disusul oleh sektor energi sebesar 5,73% dan industrials sebesar 5,72% pada penutupan pekan lalu.

Sentimen Global dan Domestik Jadi Pemicu

Dampak Geopolitik Timur Tengah

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul laporan serangan rudal Iran ke Israel pada Minggu (7/6/2026), menjadi pemicu utama ketidakpastian global yang menekan pasar.

Insiden ini memperburuk upaya perdamaian yang masih rapuh dan menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan.

Bursa Asia secara kompak melemah pada perdagangan akhir pekan lalu, dengan indeks Kospi Korea Selatan anjlok 8,4% di awal pekan ini, menunjukkan dampak luas dari ketegangan tersebut.

Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi AS dan Pelemahan Rupiah

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan (higher for longer).

Kondisi ini menyebabkan indeks-indeks saham Wall Street kompak anjlok pada perdagangan Jumat waktu setempat, dengan Nasdaq Composite turun 4,18% dan S&P 500 melemah 2,64%.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham domestik, dengan rupiah kembali jatuh ke level terendah Rp 18.148 per dolar AS.

Menteri Keuangan menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap solid dengan realisasi APBN yang menunjukkan tren positif, meskipun ada ketidakpastian global.

Namun, investor cenderung mengurangi eksposur apabila sulit memperkirakan arah kebijakan ke depan, baik dari domestik maupun global.

Analisis dan Prospek Pasar Kedepan

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan IHSG berpotensi menguji support di level 5.450-5.500 dan berpeluang rebound jika kuat di level tersebut.

Namun, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama dan analis Ciptadana Sekuritas menilai tren IHSG secara luas tetap bearish, dan setiap rebound harus dipandang sebagai koreksi dalam downtrend yang sedang berlangsung selama masih di bawah zona resistance 6.900–7.000.

Untuk perdagangan hari ini, 8 Juni 2026, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support 5.381 dan resistance 5.733 dengan volatilitas pasar yang masih tinggi.

Faktor-faktor seperti kebijakan moneter Bank Indonesia, sentimen global, kebijakan pemerintah, dan kinerja emiten akan terus menjadi pendorong utama pergerakan pasar.

Reza Diofanda dari BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya optimis IHSG berpeluang menuju area resistansi antara 6.300 hingga 6.500 hingga akhir semester I tahun 2026, didasari meredanya tekanan rebalancing dan stabilisasi rupiah.

Saham-Saham Pilihan di Tengah Volatilitas

Di tengah tekanan pasar, beberapa analis merekomendasikan strategi ‘buy on weakness’ untuk saham-saham tertentu.

Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman merekomendasikan BREN dengan area beli di Rp3.450-Rp3.590.

Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi saham BTPS, BUKA, HEAL, dan TPIA untuk perdagangan hari ini.

MNC Sekuritas merekomendasikan ANTM, BRMS, dan MBMA dengan rekomendasi buy on weakness.

Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) menjadi salah satu yang paling banyak dibeli asing di sesi siang dengan nilai transaksi Rp 227,22 miliar.

Meski demikian, investor perlu berhati-hati dan melakukan analisis mendalam mengingat kondisi pasar yang masih sangat fluktuatif dan penuh ketidakpastian.

Pergerakan pasar modal Indonesia ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen geopolitik global serta langkah-langkah stabilisasi ekonomi domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses