PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah kembali mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah pada hari Senin, 8 Juni 2026, ditutup pada level Rp18.188 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot.
Pelemahan ini menandai sesi kelima berturut-turut di tengah penguatan dolar AS yang dipicu data pasar tenaga kerja AS yang solid.
Pada Jumat sebelumnya, 5 Juni 2026, rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,07% secara harian menjadi Rp18.036 per dolar AS, menurut Bloomberg.
Namun, nilai JISDOR Bank Indonesia (BI) pada tanggal yang sama juga berada di level Rp18.039 per dolar AS.
Secara akumulatif, mata uang kebanggaan Indonesia ini telah melemah sekitar 8,01% sepanjang tahun berjalan 2026, sebuah indikasi tekanan berkelanjutan.
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi agresif di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk meredam volatilitas yang terjadi.
Intervensi ini berfungsi sebagai penahan benturan, bukan untuk membalikkan arah tren pelemahan rupiah secara fundamental.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan pertumbuhan yang terjaga dan inflasi yang terkendali.
Meskipun demikian, tekanan global seperti konflik di Timur Tengah dan tingginya imbal hasil US Treasury masih membayangi pasar keuangan dunia secara signifikan.
Faktor-faktor Pendorong Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi sentimen eksternal dan faktor domestik yang kompleks, menciptakan lingkungan pasar yang menantang.
Data Non-Farm Payrolls (NFP) AS periode Mei yang meningkat signifikan sebesar 172.000, melampaui proyeksi ekonom yang hanya sebesar 88.000, telah memperkokoh narasi suku bunga The Fed yang ‘lebih tinggi untuk waktu lebih lama’.
Hal ini secara langsung mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun melampaui 4,48%, menarik modal asing dari pasar negara berkembang.
Konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya penolakan gencatan senjata oleh Pemimpin Hizbullah Naim Qassem, juga terus menjaga indeks dolar (DXY) kokoh di zona aman sebagai aset safe haven global.
Dari sisi domestik, likuiditas dolar AS di dalam negeri mengalami kemacetan musiman yang signifikan akibat repatriasi dividen kuartal kedua.
Kekhawatiran pasar juga muncul terkait rencana pengeluaran besar Presiden terpilih Prabowo Subianto yang dapat membebani anggaran negara.
Subsidi bahan bakar yang meningkat terkait konflik Iran turut menambah tekanan inflasi dan fiskal.
Transparansi pasar dan rencana sentralisasi ekspor juga menjadi perhatian pelaku pasar yang mempengaruhi sentimen investasi.
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7%, turun dari 4,8% sebelumnya.
Pemangkasan proyeksi ini menambah sentimen negatif terhadap rupiah karena menandakan perlambatan ekonomi.
Langkah Stabilisasi Bank Indonesia
Bank Indonesia telah merespons kondisi ini dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19-20 Mei 2026.
Kenaikan suku bunga acuan ini merupakan langkah pre-emptive yang bertujuan untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
BI juga memperkuat efektivitas implementasi kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen.
Ini termasuk peningkatan intensitas intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
Selain itu, intervensi juga dilakukan melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bank sentral juga berkomitmen menjaga ketersediaan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan nasional untuk memastikan kelancaran transaksi.
Hal ini dilakukan melalui skema pengelolaan kas pemerintah yang strategis ditempatkan di Bank Indonesia.
Meskipun menghadapi tantangan dari gejolak global, BI meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan.
Keyakinan ini didukung oleh komitmen kuat BI, imbal hasil yang menarik dari aset domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif.
Proyeksi dan Pandangan Analis
Untuk pekan ini, rupiah diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Rentang pergerakan rupiah diperkirakan antara Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS dalam satu minggu ke depan.
Proyeksi ini mencerminkan kewaspadaan pasar terhadap tingginya volatilitas global saat ini, seperti yang diungkapkan oleh Inikata.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan bahwa rupiah yang menembus angka keramat Rp18.000 telah memicu ‘panic buying’ terhadap dolar AS di pasar domestik.
Beliau memproyeksikan rupiah pada Senin, 8 Juni 2026, masih akan berada di bawah tekanan berat dan cenderung berkonsolidasi di area paling lemah, di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Meskipun kondisi pasar jenuh jual (oversold) dapat membuka ruang bagi penguatan teknikal jangka pendek, apresiasi rupiah akan sangat terbatas.
Pembatasan ini terjadi selama likuiditas dolar AS di dalam negeri masih mengalami bottleneck musiman akibat repatriasi dividen kuartal kedua, yang menguras pasokan dolar.
Bank Indonesia sendiri optimistis stabilitas rupiah akan kembali mulai Juli 2026.
BI menargetkan kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS pada periode tersebut.
Target ini didasarkan pada fundamental ekonomi yang kuat dan inflasi yang terkendali, menunjukkan optimisme terhadap pemulihan.
Dampak Fluktuasi Kurs terhadap Ekonomi Nasional
Fluktuasi nilai tukar rupiah memiliki dampak signifikan terhadap berbagai sektor perekonomian nasional.
Depresiasi rupiah meningkatkan harga impor, yang pada gilirannya dapat memicu tekanan inflasi di dalam negeri.
Hal ini juga secara langsung memperbesar beban pembayaran utang luar negeri bagi pelaku usaha dan pemerintah.
Sebaliknya, stabilitas kurs sangat krusial karena membantu menjaga inflasi tetap rendah, menarik investasi asing, dan mempertahankan cadangan devisa yang kuat.
Pemerintah dan Bank Indonesia terus bersinergi menjaga stabilitas ekonomi nasional secara menyeluruh.
Tujuannya adalah memastikan bahwa gejolak global tidak mengganggu target pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.




