Terbaru! Harga Sawit Hari Ini Berfluktuasi: Antara Penurunan Tipis dan Optimisme Pasar Global

Avatar of PortalMadura.com
Harga Sawit Terkini: CPO Menguat Tipis, Petani Lokal Dihantam Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Harga Sawit Terkini: CPO Menguat Tipis, Petani Lokal Dihantam Kebijakan Ekspor Satu Pintu

PortalMadura.com – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di beberapa wilayah produsen utama Indonesia menunjukkan fluktuasi minor pada akhir Juni 2026.

Sementara itu, harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar berjangka Malaysia juga menghadapi tekanan sekaligus sinyal positif dari dinamika pasar global.

Update Harga TBS di Indonesia

Di Provinsi Jambi, harga TBS kelapa sawit untuk periode 26 Juni hingga 2 Juli 2026 ditetapkan sebesar Rp 3.706,55 per kilogram di tingkat pabrik untuk tanaman berusia 10-20 tahun.

Angka tersebut menunjukkan penurunan tipis sekitar Rp 0,03 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya.

Penetapan harga ini merupakan hasil kesepakatan tim yang melibatkan Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, perwakilan pabrik kelapa sawit, dan petani.

Namun, harga di tingkat petani atau tengkulak diperkirakan lebih rendah, berkisar antara Rp 2.700 hingga Rp 3.400 per kilogram.

Harga CPO di Jambi pada periode yang sama mencapai Rp 14.988,82 per kilogram, sementara harga kernel ditetapkan Rp 12.078,65 per kilogram.

Di Provinsi Riau, Tim Penetapan Harga Kelapa Sawit Mitra Plasma menetapkan harga TBS periode 24-30 Juni 2026 sebesar Rp 3.776,16 per kilogram.

Harga ini mengalami penurunan sebesar Rp 9,72 per kilogram atau 0,26 persen dari periode sebelumnya, terutama disebabkan oleh turunnya harga kernel.

Meskipun demikian, harga penjualan CPO mitra plasma di Riau pekan ini justru naik sebesar Rp 61,40.

Dinamika Harga CPO Global di Bursa Malaysia

Harga CPO berjangka di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) menunjukkan volatilitas sepanjang Juni 2026.

Pada 25 Juni 2026, harga CPO turun menjadi MYR 4.557 per ton, anjlok 1,64% dari hari sebelumnya.

Penurunan ini menempatkan harga pada level terendah dalam sepekan.

Faktor-faktor yang menekan harga meliputi penguatan nilai tukar ringgit Malaysia, melemahnya harga minyak nabati global, serta penurunan harga minyak mentah dunia.

Penguatan ringgit Malaysia membuat minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli asing, sehingga berpotensi menekan permintaan ekspor.

Namun, dalam sebulan terakhir, harga minyak sawit sebenarnya telah naik 1,36%, dan secara tahunan melonjak 13,58%.

Pada 22 Juni 2026, kontrak berjangka CPO sempat menguat, mengikuti kenaikan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT).

Kontrak Juli 2026 naik RM16 menjadi RM4.610 per ton, sementara kontrak Agustus 2026 naik RM19 menjadi RM4.641 per ton.

Harga fisik CPO untuk Juni Selatan juga naik RM70 menjadi RM4.630 per ton.

Faktor Pendorong dan Penekan Harga Sawit

Kebijakan Biofuel Global dan Domestik

Kebijakan biofuel global menjadi salah satu pendorong utama harga CPO.

Perkembangan standar bahan bakar terbarukan (RFS) di Amerika Serikat yang menetapkan mandat pencampuran rekor tinggi untuk 2026 dan 2027 telah meningkatkan daya saing harga minyak sawit di pasar global.

Di Indonesia, program mandatori biodiesel B50 yang akan dimulai pada 1 Juli 2026 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan.

Peningkatan penyerapan domestik ini diharapkan dapat mengurangi tekanan kelebihan pasokan dan menopang harga CPO.

Program B50 diprediksi dapat mendorong harga sawit mencapai 5.500 ringgit per ton pada kuartal pertama 2026, yang akan menjadi level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Kondisi Pasokan dan Permintaan Pasar

Meskipun ada sentimen positif dari biofuel, pasar masih dibebani oleh kombinasi pasokan besar dari Indonesia dan Malaysia, serta perlambatan permintaan impor dari India dan China.

Namun, permintaan ekspor yang kuat, terutama dari India yang proyeksi impornya di atas 600.000 ton pada Juni, membantu menahan penurunan harga.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat bahwa pasokan ekspor minyak nabati global masih ketat, terutama untuk minyak sawit, yang turut menopang kenaikan harga.

Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan sedikit menurun pada musim 2025/2026 karena potensi hasil panen yang lebih rendah akibat pengurangan penggunaan pupuk.

Sebaliknya, produksi minyak sawit Malaysia diperkirakan tetap mendekati level rekor berkat kondisi cuaca yang mendukung dan ketersediaan tenaga kerja yang membaik.

Pengaruh Cuaca dan Geopolitik

Fenomena El Niño yang diperkirakan berkembang pada pertengahan tahun ini dan berlanjut hingga awal 2027 membawa risiko cuaca kering di Asia Tenggara.

Kondisi ini dapat mengurangi curah hujan dan kelembaban tanah, berpotensi memengaruhi pasokan pertanian regional dan mendukung kenaikan harga.

Selain itu, ketegangan geopolitik yang belum terselesaikan dan konflik di Timur Tengah juga menambah ketidakpastian pada pasokan minyak nabati global.

Konflik tersebut juga meningkatkan biaya logistik, asuransi, dan perdagangan komoditas pangan secara global.

Intervensi Pemerintah dan Transparansi Harga Petani

Pemerintah Indonesia mengambil langkah serius dalam menanggapi anjloknya harga TBS di tingkat petani meskipun harga CPO dunia menguat.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa pemerintah menemukan kejanggalan ketika harga CPO global dan nilai tukar dolar AS menguat, tetapi harga TBS justru menurun.

Sebanyak 274 perusahaan sawit diperiksa atas dugaan tidak menyesuaikan harga pembelian dari petani.

Langkah ini telah membantu menormalkan kembali harga TBS dan bahkan diperkirakan berpotensi naik lebih tinggi jika kondisi pasar terus membaik.

Prospek Harga CPO ke Depan

Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan harga CPO akan bertahan di kisaran RM4.400 per ton pada Juni 2026, didukung oleh kebijakan biofuel global.

Trading Economics memperkirakan minyak sawit akan diperdagangkan pada 4654,36 MYR/MT pada akhir kuartal ini dan 4954,49 MYR/MT dalam 12 bulan ke depan.

Analis melihat penguatan harga CPO global sebagai katalis positif bagi kinerja emiten sawit di paruh pertama tahun 2026.

Potensi rebound harga juga dapat terjadi apabila implementasi B50 berjalan lancar, produksi mulai menurun akibat cuaca, ekspor membaik, atau harga energi global tetap tinggi.

Namun, RHB Research masih mempertahankan rekomendasi posisi jual (short position) pada kontrak FCPO, dengan resistensi kuat di sekitar level RM4.700.

Sentimen bearish masih dominan selama FCPO tetap di bawah ambang batas RM4.700.

Pasar akan terus memantau implementasi B50 Indonesia, prospek permintaan dari India dan China, harga minyak mentah dunia, serta kondisi cuaca terhadap produksi sawit.

Perkembangan harga minyak nabati alternatif juga akan menjadi penentu arah harga CPO ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses