PortalMadura.com – Pulau madura, yang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya, menyimpan sebuah permata sejarah yang tak boleh dilewatkan: Keraton Sumenep.
Berdiri kokoh di jantung Kota Sumenep, keraton ini bukan hanya sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjalanan panjang peradaban dan kekayaan budaya di ujung timur Pulau Garam.
Sebagai satu-satunya keraton yang masih berdiri megah di Jawa Timur, Keraton Sumenep menawarkan pengalaman wisata sejarah yang mendalam, memukau, dan kaya akan cerita.
Sejak didirikan pada abad ke-18, Keraton Sumenep telah menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi para Adipati dan Raja.
Dulunya dikenal dengan nama Keraton Pajagalan atau Keraton Songenep, kompleks ini merepresentasikan kejayaan masa lampau yang masih bisa kita saksikan keindahannya hingga kini.
Jejak Sejarah di Ujung Timur Madura
Pembangunan Keraton Sumenep dimulai pada tahun 1762, pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I, yang juga dikenal sebagai Tumenggung Arya Nata Kusuma.
Proses pembangunannya kemudian rampung pada tahun 1780.
Sepanjang sejarahnya, Keraton Sumenep telah dipimpin oleh 51 adipati atau bupati, meninggalkan warisan budaya dan politik yang tak ternilai.
Pada tanggal 9 Maret 1965, sebagian dari kompleks keraton ini resmi diresmikan sebagai Museum Keraton Sumenep oleh Drs.
Abddurrahman, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sumenep ke-9.
Hal ini menjadikan keraton lebih mudah diakses oleh masyarakat umum untuk menyelami sejarah dan kekayaan peninggalan kerajaan.
Akulturasi Megah dalam Arsitektur yang Memukau
Salah satu daya tarik utama Keraton Sumenep terletak pada arsitekturnya yang khas dan unik.
Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Tionghoa bernama Lauw Piango (sering juga ditulis Louw Phia Ngo), yang berhasil memadukan empat gaya arsitektur utama: Jawa, Tionghoa, Eropa, dan Arab.
Perpaduan ini menciptakan harmoni visual yang memukau, mulai dari detail rumit pada pintu dan jendela, hingga ornamen atap yang artistik.
Contohnya, Pendopo Agung memiliki atap Limasan Sinom khas Jawa, namun bubungannya dihiasi dengan bentuk mencuat seperti kepala naga, menunjukkan pengaruh Tiongkok yang kuat.
Sementara itu, beberapa bagian dalam keraton juga memperlihatkan sentuhan Belanda.
Keraton ini juga dikenal dengan julukan





