PortalMadura.com– — Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) berhasil membalikkan arah pelemahan pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Sempat menembus level psikologis Rp18.000 pada awal sesi, mata uang Garuda akhirnya ditutup menguat tipis di level Rp17.960 per Dolar AS, turun 5 poin atau sekitar 0,03% dari penutupan sehari sebelumnya di Rp17.965.
Kendati demikian, pemulihan ini masih diwarnai tekanan eksternal yang cukup kuat. Berdasarkan laporan FXStreet, Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di kisaran 101,38, sementara imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10-tahun tetap tinggi di posisi 5,238%. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga mengalami kenaikan, di mana minyak Brent menguat ke level US$106,64 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Bank Indonesia Ubah Bauran Intervensi
Menghadapi tekanan pasar yang ketat, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap aktif melakukan stabilisasi nilai tukar. Namun, terdapat pergeseran strategi dalam bauran intervensi yang diterapkan otoritas moneter.
Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa porsi intervensi melalui pasar spot kini dipangkas menjadi sekitar 30% dari total intervensi valas. Sebagai gantinya, BI memperbesar porsi penggunaan instrumen NDF offshore dan DNDF domestik karena dinilai jauh lebih efektif serta tidak terlalu menguras cadangan devisa negara.
Ahli strategi Valas OCBC, Christopher Wong, menilai langkah tersebut sebagai bentuk penyesuaian bauran intervensi, bukan tanda mundurnya komitmen BI. Kendati demikian, ia mencatat bahwa kombinasi harga energi yang tinggi, tingginya imbal hasil obligasi AS, serta kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan Rupiah dalam jangka pendek.
Fokus Pasar pada Data Ekonomi Pekan Ini
Pelaku pasar kini tengah menantikan sejumlah rilis data ekonomi penting yang dijadwalkan terbit dalam pekan ini. Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data Neraca Perdagangan Agustus serta tingkat inflasi September pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, investor memantau serangkaian data tenaga kerja dan manufaktur, mulai dari laporan ADP, PCE inti, hingga data Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis menjelang akhir pekan. Data AS yang melampaui ekspektasi berpotensi memperkuat kebijakan suku bunga Federal Reserve yang lebih ketat, yang pada gilirannya dapat kembali memberikan tekanan lanjutan bagi mata uang regional, termasuk Rupiah.





