PORTALMADURA.COM – Empat saham dari sektor perbankan dan pertambangan—yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI)—kompak mengalami tekanan jual pada perdagangan sesi pertama, Jumat (30/10/2026)[cite: 1]. Pergerakan keempat emiten ini berada dalam tren melemah (bearish), sehingga para investor mengamati sejumlah batas penahan harga (support) penting guna mengantisipasi risiko koreksi lanjutan[cite: 1].
Hingga penutupan sesi I hari ini, saham emiten perbankan BUMN BMRI merosot 0,27 persen ke level Rp3.710 per saham[cite: 1]. Pelemahan turut dialami saham DEWA yang terkoreksi 2,65 persen menjadi Rp220, saham BUMI yang turun 2,48 persen ke posisi Rp118, serta saham ARCI yang anjlok paling dalam hingga 6,45 persen menembus level Rp870 per saham[cite: 1].
Tim Analisis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas mencatat pergerakan harga saham BMRI saat ini masih berada di bawah garis rata-rata harga harian (Moving Average/MA) 20 hari di Rp3.861 dan MA 60 hari di Rp4.101[cite: 1]. Kondisi tersebut mengonfirmasi bahwa tren jangka pendek hingga menengah saham bank pelat merah ini masih cenderung melemah[cite: 1]. Indikator Relative Strength Index (RSI) BMRI yang berada di kisaran 40,06 mengindikasikan momentum pergerakan saham yang relatif lemah[cite: 1].
Area support terdekat untuk BMRI diproyeksikan berada di level Rp3.650[cite: 1]. Selama harga bertahan di atas batas tersebut, terbuka peluang pembalikan arah teknis (technical rebound) untuk menguji area resistensi di kisaran Rp3.810 hingga Rp3.860[cite: 1]. Sebaliknya, jika harga menembus di bawah Rp3.650, saham BMRI berisiko melanjutkan penurunan[cite: 1].
Sementara itu untuk saham DEWA, harganya tercatat telah menembus batas support Rp250 dan kini bergerak di bawah garis MA20 di Rp291 serta MA60 di Rp375[cite: 1]. Meskipun tren melemah masih mendominasi pergerakan DEWA, indikator RSI yang menyentuh angka 23,78 menunjukkan bahwa saham ini telah memasuki area jenuh jual (oversold)[cite: 1]. Kondisi tersebut memberikan sinyal potensi pembalikan arah harga dalam jangka pendek, dengan area Rp250 yang kini berubah fungsi menjadi batas resistensi terdekat[cite: 1]. Apabila tekanan jual berlanjut, investor disarankan mewaspadai potensi terbentuknya batas support baru di bawah level Rp218[cite: 1].
Koreksi harga yang melanda saham-saham unggulan ini bertepatan dengan dinamika pasar modal nasional yang bergerak dalam tekanan teknikal harian[cite: 1]. Para pelaku pasar imbau untuk cermat mencermati titik-titik krusial pada masing-masing saham sebelum mengambil keputusan transaksi[cite: 1].





