IHSG Anjlok ke Level 5.032 Sesi I: Tertekan Inflasi AS dan Jurus BI Jaga Rupiah

Avatar of PortalMadura.com
IHSG Anjlok ke Level 5.032 Sesi I: Tertekan Inflasi AS dan Jurus BI Jaga Rupiah




PORTALMADURA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I pada Jumat, 30 Oktober 2026, di zona merah. Indeks saham domestik ini melemah 65,62 poin atau anjlok 1,29 persen ke level 5.032,44 akibat maraknya tekanan jual investor di tengah padatnya sentimen ekonomi global dan domestik.

Sejak pembukaan pasar, IHSG langsung tertekan di posisi 5.066,94. Kendati sempat melonjak ke titik tertinggi harian di 5.116,01 pada menit-menit awal, aksi lepas saham segera mendominasi pasar. Indeks bahkan sempat terlempar ke level terendah harian di 4.979,34 sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum akhirnya perlahan merangkak naik dan mengunci posisi di area 5.032 pada penutupan sesi I. Aktivitas perdagangan mencatat volume sebanyak 242,53 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5,6 triliun.

Laju pelemahan IHSG bertepatan dengan maraknya sentimen global. Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) yang ditutup merosot, lonjakan data ekonomi AS, serta rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang naik 0,5 persen secara bulanan pada September 2026 menjadi katalis negatif utama. Kenaikan inflasi PCE inti AS sebesar 0,3 persen tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa bank sentral AS (The Fed) masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketatnya.

Di dalam negeri, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa penentuan suku bunga acuan BI Rate pada November 2026 tidak akan mengekor langkah The Fed secara otomatis. BI menyiapkan rangkaian instrumen penopang untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menembus kisaran Rp18.100 per dolar AS. Sementara itu, dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke tingkat 7,643 persen, menandai mulai kembalinya minat investor pada aset Surat Utang Negara.

Langkah strategis juga diambil Bursa Efek Indonesia (BEI) yang resmi mengeluarkan lima saham berkapitalisasi besar dari daftar efek short selling untuk periode November 2026. Kelima saham tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Selain dinamika AS dan domestik, pasar keuangan internasional turut dipengaruhi oleh keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menahan suku bunga pembiayaan utama di level 2,65 persen, rilis pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2026 yang melesat 3,4 persen berkat investasi sektor kecerdasan buatan (AI), serta pengumuman suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan estimasi awal PDB Zona Euro.

Rangkaian sentimen global dan penyesuaian kebijakan domestik ini diprediksi masih akan mewarnai arah pergerakan IHSG serta nilai tukar rupiah hingga penutupan perdagangan akhir pekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses