oleh

Benarkah 2019 Jadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah?

PortalMadura.Com – Cuaca yang begitu sangat panas mungkin dirasakan penduduk Bumi akhir-akhir ini. Kabarnya, hal tersebut disebabkan oleh peristiwa El Nino yang mungkin terjadi. Benarkah?.

Pada tahun 2018, para ilmuwan juga telah memprediksi jika El Nino memperkuat cuaca ekstrem yang diperburuk oleh perubahan iklim dan meningkatkan peluang tahun terpanas dalam sejarah manusia pada 2019.

Dampak El Nino dalam beberapa tahun ini memang menjadi lebih parah karena adanya pemanasan global. Kemudian, dampak ini akan lebih buruk lagi karena suhu akan terus meningkat menurut sebuah studi baru-baru ini dalam jurnal ‘Geophysical Research Letters‘.

“Dengan El Nino, sangat mungkin 2019 akan menjadi tahun terpanas,” kata seorang ilmuwan iklim di University of California, Santa Barbara, Samantha Stevenson.

Sebenarnya tidak hanya El Nino, cuaca panas tersebut juga didorong oleh peningkatan emisi karbon dioksida (Co2) selama empat tahun terakhir.

Baca Juga: NASA: 2017 Tahun Kedua Bumi Lebih Panas Dari Biasanya

Loading...

Belum lagi, iklim di Bumi memang lebih hangat dari rata-rata abad ke-20 selama 406 bulan terakhir berturut-turut. Hal itu berarti tidak ada seorang pun di bawah usia 32 yang pernah mengalami bulan yang lebih dingin dari rata-rata.

“Setiap bagian dari tingkat pemanasan membuat perbedaan bagi kesehatan manusia dan akses ke makanan serta air tawar, ke kepunahan hewan dan tumbuhan, untuk kelangsungan hidup terumbu karang dan kehidupan laut,” kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Elena Manaenkova.

Dunia yang lebih hangat berarti semakin ekstrem dalam cuaca yang merusak dan berbahaya, seperti gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan badai dahsyat. Ada 70 topan tropis atau badai di belahan Bumi utara pada 2018.

WMO juga mencatat beberapa badai yang kuat telah terjadi di Kepulauan Mariana, Filipina, Vietnam, Korea, dan Tonga. Di AS, badai Florence dan Michael menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar dan hilangnya banyak nyawa.

Menurut laporan 2018 dari Lancet Countdown kesehatan dan perubahan iklim yang dirilis 28 November 2018, mengungkapkan bahwa gelombang panas mengakibatkan hilangnya produktivitas yang luar biasa pada 2018.

Sebanyak 153 miliar jam kerja yang luar biasa dihapuskan pada tahun 2018 karena gelombang panas, hampir tiga kali lebih banyak dari tahun 2000.


Rewriter : Salimah
Sumber : okezone.com

Komentar